• KANAL BERITA

Broker Seni untuk Warga

Lurah Bulusan

Lurah Bulusan, Slamet Raharjo. (suaramerdeka.com / Eko Adi N)
Lurah Bulusan, Slamet Raharjo. (suaramerdeka.com / Eko Adi N)

KELURAHAN Bulusan, Kecamatan Tembalang menjadi ‘’hidup’’ setelah kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, boyongan dari Pleburan ke Tembalang. Kawasan seluas 304,74 hektare yang pada dekade1990-an bisa dikatakan sangat tenang, itu menjadi riuh. Aktivitas perekonomian warga menggeliat. Warung makan bertumbuhan, dan terutama sekali, bisnis kost-kostan merebak di wilayah RW 1, RW 2, dan RW 3.

Kesenian menjadi cara unik warga kelurahan berpenduduk 6.429 jiwa itu meredam pengaruh dari luar. ‘’Secara historis Bulusan ini kaya dengan budaya. Kekerabatan warga masih kental. Setiap tahun warga menggelar merti desa, nyadran, wayangan, dan pentas seni tradisi,’’ ujar Lurah Bulusan, Slamet Raharjo.

Setiap RW, lanjut pria asli Semarang yang resmi menjadi Lurah Bulusan sejak 3 September 2019 itu, memiliki kesenian rebana. Di  RW VI, bahkan menjadi kampung tematik ‘‘Tari Sufi’’. Di sisi lain, warga juga memiliki kelompok kesenian Turonggo Seto, yang kiprahnya sudah dikenal hingga luar Bulusan. ‘’Saya melihat potensi kebudayaan di sini sangat bagus, karena itu saya fokus untuk mengembangkan Bulusan sebagai kelurahan yang berbudaya,’’ ujar pria kelahiran 1 Desember 1965 itu.

Ia senang dengan anak-anak yang suka dengan seni tradisi.’’ Turonggo Seto itu, anggotanya dari anak PAUD hingga mahasiswa, mereka berlatih menari. Mereka sejenak bisa melupakan gadgetnya ini kan sesuatu yang positif,’’ ujar  dia yang mengawali karir pegawainya tahun 1993.

Slamet yang sempat berdinas di Bapermas selama tiga tahun, dan malang melintang di kelurahan mulai Kramas, hingga Mangunharjo, punya semboyan untuk menjadikan anak-anak kembali menengok budaya local, yaitu ‘dipaksa, terpaksa, biasa, dan budaya.’  ‘’Kalau tidak dipaksa, kapan kenalnya. Jadi dengan dipaksa, anak-anak terpaksa mengenal, kemudian terbiasa, hingga pa akhirnya menjadi budaya. Ini yang kami tekankan,’’ kata dia.

Bangun Sanggar

Pengenalan budaya local inilah yang diharapkan kepala kelurahan yang membawahi 7 RW dan 40 RT, menjadi bekal dalam membendung pengaruh dari luar.  Ayah empat anak,Acuk (29), Age (25), Elmi (19), dan Tata (8), gembira, melihat prestasi anak-anak mudanya lewat Turonggo Seto. Dalam  Lomba Seni Karya Pemuda Hebat yang baru saja digelar, kelompok ini keluar sebagai juara 2. ‘’Saya sampai merinding melihat penampilan anak-anak muda Bulusan itu,’’ tambah suami dari Sri Utami itu.

Lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung itu pun memotivasi, memfasilitasi, dan mendorong warganya untuk mengembangkan kesenian. Saat ini misalnya, dia mencarikan jalan bagi Turonggo Seto untuk membuat sanggar.

‘’Kalau ada sanggar, anak-anak tidak lelah mencari tempat latihan, bisa fokus berkreasi dan berinovasi tari-tarian. Di situ ada sendang, nanti juga saya buat pojok baca. Jadi literasinya ada, seni, juga sambil rekreasi,’’ kata lelaki yang ber mimpi suatu saat Bulusan menjadi kiblat berkesenian di Kota Semarang.

TURONGGO SETO. Lurah Bulusan Slamet Raharjo berada di tengah-tengah anggota Kelompok Seni ‘’Turonggo Seto’’ Bulusan. (suaramerdeka.com / dok)

Harapan itu bukan hal yang mustahil. Saat ini embrionya sudah tumbuh di Bulusan. Mulai dari Kampung ‘Tari Sufi’, seni rebana di tiap RW, dan kelompok seni Turonggo Seto yang menghimpun seratusan anggota mulai anak TK, SD, SMP, SMA, mahasiswa, hingga bapak-bapak muda. ‘’Saya akan jadi broker, motivator, sekaligus fasilitator bagi warga,’’ ucap lurah yang berpengalaman empat tahun sebagai sekretaris kelurahan Mangnharjo itu.


(Eko Adi Nuryanto/CN26/SM Network)