• KANAL BERITA

Bangun Iklim Kerukunan

Lurah Kebonagung

Lurah Kebonagung, Subiyanto. (suaramerdeka.com / Eko Fataip)
Lurah Kebonagung, Subiyanto. (suaramerdeka.com / Eko Fataip)

PENDUDUK di Kelurahan Kebonagung, Semarang Timur dikenal beragam. Selain warga pribumi, juga dihuni warga tionghoa dan keturunan arab. Keberagaman itu justru menjadikan warga di kelurahan ini hidup berdampingan dan rukun. Tak heran jika 2017 lalu, kelurahan ini masuk tiga besar kategori kampung rukun dan aman dalam lomba yang diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang pada peringatan hari jadi ke-470 Kota Semarang.

"Di tempat kami banyak etnis tionghoa, keturunan arab, tetapi bisa rukun dengan warga pribumi. Saya bangga, semua warga mudah diajak komunikasi dan selalu antusias jika ada setiap kegiatan," kata Lurah Kebonagung Subiyanto SSos, di Kantor Kelurahan Kebonagung, Kp Utri Nomor 11 Semarang.

Kebonagung juga dikenal dengan sentra pembuatan wingko babat dengan merek Meniko, terutama di Jalan Pandean Taman Harjo. Di tempat itu pula, oleh-oleh khas Semarang ini diyakini sudah diproduksi sejak berabad-abad lalu.

Tak jauh dari sana, persisnya di Kampung Brondongan, banyak ditemukan pelaku usaha lunpia. Kabarnya di tempat ini lah pertama kali lunpia dibuat. Belakangan, kampung tematik tersebut makin dikenal dengan pembuatan rebung (isi lunpia). Ada belasan pelaku usaha di daerah itu, meliputi skala kecil hingga besar.

"Beberapa kali kampung itu mendapat kunjungan dari perkumpulan atau organisasi maupun pelajar untuk melihat langsung proses pembuatan rebung lunpia. Sehingga tema yang kami angkat untuk kampung ini Eduwisata Lunpia," ujarnya.

Bagi pengusaha skala kecil, biasanya hanya membuat ketika menerima pesanan. Namun, tak sedikit dari mereka yang sudah memiliki toko sendiri di kawasan Jl MT Haryono.

Pelaku usaha di Kebonagung memang sangat beragam. Tak hanya lunpia dan wingko babat, di Kampung Wot Prahu misalnya, juga ditemukan pengusaha kaca mata. Mereka rata-rata warga keturunan arab dan pakistan (khoja/ tambol ). "Kalau ada tamu minta pelatihan biasanya saya arahkan di sentra pembuatan lunpia, termasuk dari warga kami sendiri. Harapannya keterampilan yang mereka dapatkan bisa dikembangkan sendiri dalam bentuk usaha kecil-kecilan," imbuhnya.

Terkait pembangunan di wilayah ini, lurah yang tinggal di Jomblang, Candisari tersebut mengakui sudah berjalan dengan baik. Hampir seluruhnya sudah mendapat sentuhan pembangunan seperti pembangunan gapura, perbaikan jalan hingga saluran. "Kami tinggal menggalakkan kegiatan lain seperti penghijauan, utamanya di jalan-jalan protokol. Termasuk mendorong warga yang belum mempunyai jamban agar segera memiliki," jelasnya.

Kebonagung hanya dihuni sekitar 5.083 penduduk dengan empat RW dan 27 RT. Kerukunan warga setempat didukung dengan aktifnya masing-masing ketua RT dan RW dalam setiap kegiatan atau perkumpulan. "Kami memiliki Forum RT RW se-kelurahan, mungkin di tingkat kelurahan baru kami yang ada. Dua bulan sekali mengadakan pertemuan rutin untuk evaluasi," sebutnya.

KERJA BAKTI: Lurah Kebonagung Subiyanto mengikuti kegiatan kerja bakti bersama warga setempat, belum lama ini. (suaramerdeka.com / Eko Fataip)

Dalam hal kesenian dan budaya, setiap tahun diadakan lomba dalang cilik dan festival dalang dewasa di Gedung Sobokarti, yang diinisiasi oleh paguyuban atau pegiat seni setempat bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang. Kebonagung juga meraih sederet penghargaan lain. Di antaranya Juara III Lomba Cerdas Kader Posyandu tingkat kota 2019. Kemudian masih tahun yang sama, meraih Juara Harapan II dalam Lomba Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat-obatan Keluarga.

Subiyanto mengawali karir PNS di Dinas Tata Kota pada 1988 lalu selama kurang lebih 12 tahun. Setelahnya, ditempatkan di Kelurahan Kaliwiru, Candisari (2001-2005).  Lalu, pada 2005 hingga 2017 menjadi Kasi Trantib di Kelurahan Wonotingal, Candisari, sebelum akhirnya menerima tanggung jawab sebagai Lurah Kebonagung hingga sekarang.


(Eko Fataip/CN26/SM Network)

Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar