• KANAL BERITA

Figur Lurah Jadi Penilaian Utama

PAPARKAN POTENSI: Lurah Peterongan, Roby Rubiyanto, memaparkan berbagai potensi di wilayahnya di depan para juri dan para lurah di Kantor Kecamatan Semarang Selatan. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)
PAPARKAN POTENSI: Lurah Peterongan, Roby Rubiyanto, memaparkan berbagai potensi di wilayahnya di depan para juri dan para lurah di Kantor Kecamatan Semarang Selatan. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Koordinator Juri Lurah Hebat, Bambang Pulunggono, yang menjadi juri untuk lurah di Kecamatan Semarang Selatan, menyampaikan figur lurah menjadi penilaian utama. Sosok lurah itu akan dilihat dari kepemimpinannya di dalam menggerakkan masyarakatnya, metode pendekatannya, sehingga program yang dibawa dapat terlaksana dengan baik.  

"Kami lebih menitikberatkan penilaian dari figur lurah itu sendiri. Bagaimana sosok lurah itu di mata masyarakat," tutur Direktur Sales dan Komunikasi  Suara Merdeka  itu, Selasa (5/11).

Lebih lanjut, Bambang menyampaikan, pada prinsipnya satu kelurahan dengan kelurahan yang lain memiliki kesamaan. Akan tetapi, lanjut Bambang, ada perbedaan penilaian di beberapa kategori misalnya soal infrastruktur.

Infrastruktur di perkotaan, menurut dia, rata-rata sudah bagus. Kemudian, dari sisi usaha mikro rata-rata sudah menengah ke atas. Hal berbeda akan ditemui di kelurahan yang terletak di wilayah pinggiran. Menurutnya, kelurahan yang berada di wilayah pinggiran harus dibedakan. Kemudian, masalah masa jabatan pak lurah dan bu lurah juga menjadi bahan pertimbangan.

Camat Semarang Selatan, Eko Yuniarto, mengungkapkan di wilayah Kecamatan Semarang Selatan terdapat 10 kelurahan. Masing-masing kelurahan, kata dia, rata-rata mengikuti satau kategori menyesuaikan dengan potensi yang ada. "Ada satu kelurahan yang mengikuti empat kategori dari lima kategori yang disediakan panitia," jelas dia.

Camat Semarang Selatan itu mendorong para lurah untuk menunjukkan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing. Apa-apa saja potensi yang sudah berhasil mereka kelola.  "Kami arahkan mereka untuk menunjukkan bahwa keberadaan para lurah ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," imbuhnya.

Manfaatkan Momen

Eko mengungkapkan, para lurah di wilayanya sangat serius berkompetisi untuk menunjukkan bahwa mereka lurah yang paling hebat. Namun demikian, dia mengingatkan bahwa lurah tidak bisa tampil sendiri tanpa bantuan orang-orang di sekitarnya.

Baik itu staf kelurahan, organisasi masyarakat, warga dan kelembagaan yang ada di lingkungan. Eko juga meminta agar momen ini bisa dimanfaatkan untuk lebih mengenalkan potensi wisata. Sehingga, masyarakat tidak hanya tahu soal Kampung Pelangi saja.

Menurutnya, ada banyak objek wisata religi yang sudah tingkat nasional. Seperti makam pendiri Kota Semarang, Ki Ageng Pandanaran, makam Mbah Kramat Jati, dan makam Kiai Soleh Darat yang patut dilestarikan ajaran dan petilasannya. Sekaligus mengenalkan potensi-potensi yang sebelumnya jarang terekspose ke media. "Sehingga, bisa menjadi viral di masyarakat luas," katanya.

Tim juri yang hadir dalam pertemuan tersebut yakni, Desk Kota SM, Purwoko Adi seno, Redaktur Pelaksana (Redpel), Hasan Fikri dan Edi Mus Kepala Kantor Wilayah Semarang, Doni Setyo Nugroho, dan Brandcomm, Dyah Savitri.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN26/SM Network)