• KANAL BERITA

Berpegang Falsafah Bhineka tunggal Ika

Lurah Bendungan

Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono mengikuti upacara kemerdekaan bersama warga, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono mengikuti upacara kemerdekaan bersama warga, belum lama ini. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

MENJADI Lurah Bendungan bukan hal yang mudah bagi Heri Rusdijo Pramono. Warga Kelurahan Bendungan memiliki keragaman suku bangsa yang juga memiliki perbedaan dalam bahasa, etnik, kepercayaan dan ideologi. Perbedaan itu dapat mendorong untuk terjadinya konflik, namun sebaliknya juga dapat menjadikan persatuan dengan terwujudnya sikap saling toleran antar warga Indonesia.

Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono menghadiri pertemuan lintas agama di Gereja. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono menghadiri pertemuan lintas agama di Gereja. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Untuk mewujudkan persatuan dengan dasar perbedaan yang ada itu, dibutuhkan nilai-nilai yang dapat mengikatkan masyarakatnya menjadi satu kesatuan (majemuk). Pria kelahiran Kudus, 8 Oktober 1966 itu memiliki kiat khusus dalam memimpin kelurahannya.

"Saya tekankan kepada masyarakat bahwa semua warga adalah satu kesatuan yang utuh. Semua orang harus dianggap sebagai saudara, sehingga timbul perasaan enggan saling menyakiti," tutur Heri, kemarin.

Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono anjangsana warga yang sakit di sebuah rumah sakit. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono anjangsana warga yang sakit di sebuah rumah sakit. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Heri mengungkapkan, kelurahan di wilayahnya memiliki keunikan karena memiliki empat pemeluk agama yakni Islam, Hindu, Kristen dan Katolik. Tempat ibadah seperti masjid dan gereja bisa dibangun berdampingan di sebelah Pura Agung Giri Natha.  

Warga khususnya di RW 3 juga berasal dari berbagai daerah. Sehingga, penduduk Kelurahan Bendungan terdiri dari berbagai macam suku seperti suku sunda, batak, madura, jawa dan masih banyak lagi.

Berdasar dari itu maka mereka membentuk Pokdarwis Bhineka Tunggal Ika. Dengan nama itu harapannya kemajemukan yang ada bisa disatukan dalam wadah persatuan. Mereka mengambil salah satu falsafah negara yaitu Bhineka Tunggal Ika yang maknanya meski berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Kemajemukan bukan menjadi permasalahan, justru dengan perbedaan itulah tercipta inovasi baru. Pokdarwis Bhineka Tunggal Ika berhasil memadukan dua tarian yang berasal dari Jawa dan Bali.

Tarian kolborasi itu menjadi penyuguh utama dalam lomba Pokdarwis yang mereka ikuti di Tinjomoyo pada 2018 dan Taman Maerakaca pada 2019. Para penari yang mengenakan pakaian adat Jawa berlenggak-lenggok menampilkan tarian khas Jawa. Namun, musik pengiringnya menggunakan alat musik khas Bali seperti genggong, pereret, cengceng dan masih banyak lagi.

"Kolaborasi lainnya yakni Tari Kecak. Bedanya, para penari menggunakan kostum kombinasi Jawa dan Bali. Ada kombinasi kotak-kotak hitam putih dengan variasi pakaian jawa dan kuda kepang," tuturnya.

Penampilan mereka berhasil memukau para juri. Alhasil, peringkat dua berhasil mereka raih.

Caption

Kampung Berkicau

Di bawah kepemimpinan ayah tiga anak itu, Kelurahan Bendungan terus meraih prestasi. Berbagai lomba tingkat kota pernah dimenangkan. Misalnya, peringkat dua Pola Asuh Anak dan Remaja (PAR), harapan dua lomba kelurahan ramah lingkungan. Kemudian, peringkat tiga lomba gerak jalan kreatif hingga peringkat tiga lomba pariwisata sehat.

Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono SE MM. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Lurah Bendungan, Heri Rusdijo Pramono SE MM. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Tak hanya itu, suami Sri Retno Kusumawati itu masih memendam sebuah angan-angan yakni membuat Kampung Berkicau. Heri membayangkan jika setiap rumah di tiap gang memiliki satu burung tentu akan menarik.

Heri berharap bisa mewujudkan suasana pedesaan di tengah kota. Dengan mendengar kicauan burung hati menjadi damai.

"Jenisnya boleh apa saja. Nantinya, akan disosialisasikan kepada warga mengenai teknisnya," ujar S2 Magister Manajemen STIEPARI itu.

Setelah itu, ia akan membangun gapura dengan tulisan Kampung Berkicau. Sehingga, Kempung Berkicau bisa menjadi salah satu destinasi wisata baru di kelurahannya.

Kampung Berkicau bisa menjadi alternatif wisata baru. Sekaligus menjadi pendukung Pura Agung Giri Natha yang sudah terkenal sebelumnya.

 


(Mohammad Khabib Zamzami/CN40/SM Network)