• KANAL BERITA

Budayanya Lestari, Alamnya Asri

Lurah Wonolopo

Lurah Wonolopo, Tri Sari Utami. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)
Lurah Wonolopo, Tri Sari Utami. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)

PAGI  itu warga tumplek blek dalam kemeriahan peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kampung Embung Wonolopo. Kampung Embung Wonolopo terletak di RW 8. Acara dimulai dengan jalan sehat mengelilingi kampung. Warga diajak menikmati keasrian di kampung tersebut.

Selepas jalan sehat, beberapa penampil kesenian seperti grup musik lokal pering pethuk, jaran kepang trunggo sakti menghibur warga. Alat musik yang berbahan dasar kayu dipukul bertalu-talu berirama menimbulkan alunan musik yang indah. Grup jaran kepang trunggo sakti menjadi penampil utama.

Prajurit kuda lumping menari-nari di atas anyaman bambu berbentuk kuda yang dihiasi rambut kepang. Garakan-gerakannya mengundang tepuk tangan warga. Terutama sekali saat para prajurit melakukan aksi makan beling. "Saya sebenarnya takut dekat-dekat dengan kuda lumping," tutur Lurah Wonolopo, Tri Sari Utami saat ditemui disela-sela, kemarin.

Lurah asli Boja itu mengungkapkan, Kelurahan Wonolopo memiliki kekayaan budaya dan alam yang melimpah. Budayanya lestari, alamnya asri. Keguyuban masyarakatnya juga sangat baik. Setiap ada hajatan warga bergotongroyong bersama untuk menyukseskannya.

Bahkan, dalam peringatan Sumpah Pemuda yang begitu semarak mereka tidak modal sama sekali, nol. Namun, berkat kegigihan warga dan dorongan dukungan dari Tri Sari Utami acara tersebut bisa berlangsung meriah. Dia mengaku beruntung bisa menjadi pemimpin di wilayah ini. Ibu Tri, demikian warga biasa memanggil, memang sosok yang mengayomi dan mengerti keinginan warga.

Kolaborasi antara pemimpin yang baik dan kekayaan alam dan budaya yang beragam membuat Wonolopo semakin maju dan berkembang. Di bawah kepemimpinannya, Kelurahan Wonolopo memiliki banyak budaya dan tempat wisata. Antara lain mina padi yang dilakukan Kelompok Tani Rejosari Loh Jinawi. Mina padi yakni pola bercocok tanam yang berbarengan dengan pemeliharaan ikan dalam satu lokasi petak sawah.

Kemudian, Kampung Tematik Jamu, pemasaran jamu cair di sana masih dilakukan secara tradisional yakni dengan digendong. Pada perkembangannya limbah jamu juga diolah menjadi sabun rempah dan pupuk cair. Adapula Kampung Tematik Djadul Gowes yang mengedepankan lingkungan kampung yang asri. Satu rumah diwajibkan menanam satu pohon jambu kristal, tujuannya untuk menjaga kondisi kelestarian, tata guna lahan.

TANAM BIBIT: Lurah Wonolopo, Tri Sari Utami, bersama warga dan Tim KKN Alternatif 2B Unnes menanam 190 bibit pohon berjenis, ketapang, bunga kuncup mekar, trembesi dan tanaman rambat di sekitar embung. (suaramerdeka.com / M Khabib Zamzami)

Berbagai macam produk UMKM pendukung destinasi wisata juga dikembangkan seperti olahan wingko babat dan es krim dengan rasa unik. Aneka rasa buah-buahan lokal dan rempah jamu. Terakhir, Embung Wonolopo yang menjadi daerah tangkapan air. Tempat ini akan disulapnya menjadi arena bermain, rekreasi dan olahraga sekaligus destinasi wisata baru.

"Saya membayangkan jika semua tempat wisata itu dijadikan dalam satu paket wisata tentu akan menarik. Sehingga, para pengunjung bisa memilih destinasi apa saja yang hendak dikunjungi," ujar dia.

Dalam bayangannya, wisatawan dapat memilih paket-paket wisata tertentu. Misalnya mereka berkunjung ke Kampung Jamu, setelah melihat-lihat dan praktik membuta jamu atau mengenal berbagai macam jamu mereka diajak ke tempat lain seperti Kampung Djadul Gowes menikmati pemandangan asri dengan bersepeda.  "Kemudian bisa berlanjut dengan kegiatan membatik, outbond, atau menikmati aneka kuliner dengan hiburan jaran kepang," papar dia.

Untuk mewujudkan hal tersebut dia telah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Warga pun antusias menyambut gagasan tersebut. Tri Sari Utami sadar betul, tidak mudah untuk mewujudkan cita-cita ia dan warganya tersebut. Apalagi mereka tidak memiliki tempat-tempat bersejarah, atau tempat-tempat yang unik.

Ia ingin memanfaatkan sumberdaya yang ada. Ia ingin destinasi wisata di sini menggunakan kearifan lokal. Dengan begitu, lambat laun perekonomian warga semakin terangkat. Produk-produk UMKM laku terjual, budaya asli Wonolopo tetap lestari, dan keindahan alam juga tetap asri.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN26/SM Network)

Baca Juga
Tirto.ID
Loading...
Komentar