• KANAL BERITA

Tetap Ingat Kualitas, Jangan Lupakan Kreativitas

Dinamika Jasa Logistik di Era Digital

foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi
foto: suaramerdeka.com/Setiady Dwi

MENEMPATKAN produk premiumnya di lapak pesanan oleh-oleh Pesona Nusantara JNE, perusahaan pembuat makanan siap saji asal Bandung ini menjadikannya sebagai bagian dari ikhtiar menjawab tren gaya hidup di era digital.

Di masa yang memang serba mudah, terutama dalam menjawab selera makanan yang pemenuhannya kini tinggal klik saja. Plus, produk tersebut terjaga dalam proses pengantarannya ke konsumen. Satu hal yang tak boleh diabaikan. Bahkan ini jadi kunci.

Menurut Co Founder Nukita Food, Joy Johansyah Syamsuar, produk premium berupa taburan makanan kombinasi dari teri, kacang, kentang (Tericang) itu termasuk yang paling digemari di antara sajian menu lainnya seperti kremes, kentang, dan keripik.

"Begitu pesan dan merasakan makanannya, percaya deh, tak akan pindah ke lain hati, jadi customer loyalty sekali pun ini kelasnya premium," katanya, berpromosi saat ditemui di Pekan Kerajinan Jawa Barat (PKJB), akhir pekan lalu.

Dengan kualitas seperti itu, produk dari perusahaan yang berkiprah sejak 2012 tersebut disukai pula di Singapura hingga Jepang. Joy menyebut kualitas memang jadi perhatian. Salah satunya dia harus fokus pada konsistensi terutama atas mutu produk yang dihasilkan. Setiap bulannya, 10 ribu bungkus terjual ke konsumen.

Baginya, rasa dari produk menjadi kunci lainnya guna menarik minat konsumen termasuk di era digital. Meski itu pun tak mudah. Pasalnya, pihaknya dihadapkan pula pada tantangan mengenalkan produk bikinannya yang tak semua masyarakat mengetahuinya.

Konsistensi pemasaran pun jadi tuntutan. "Harus jadi marketing tulen. Kremes misalnya, bagaimana caranya bisa menjual produk ini tanpa susah payah dalam menjelaskannya. Caranya, produk ini biasanya diterangkan bisa menggantikan sambal bisa pula menggantikan keripik, orang akan gampang menarik kesimpulan dan tertarik," katanya.

Dalam distribusi, pihaknya tak mau memilih untuk menanganinya secara mandiri. Baginya, langkah itu memerlukan pencermatan termasuk untuk bersikap realistis. Karena itu, dia lebih mempercayakannya ke jasa logistik. Salah satunya untuk kemudahan penyebaran produknya.

"Kenapa opsi ini, karena saya harus mengukur diri, kalau ada angkutan umum, kenapa mesti susah-susah, berpayah-payah nyediain angkutan sendiri. Tapi, satu hal yang perlu diingat, harus legowo dengan pilihan ini karena kita menekan keuntungan, selisihnya jadi mengecil, tapi tak apa sepanjang produk kita lancar dan jelas sampai ke pemesan," jelasnya.

Dengan pencermatan itu pula, dia memetakan reseller. Jangan sampai di antara mereka saling memakan saking ramainya. Contoh nyata kasus seperti itu, di sektor bisnis camilan juga, sudah ada. Kondisi ini dijaga betul. Istilah dia, reseller sebaiknya secukupnya namun kuat dalam berbagi terutama keuntungan yang diraih.

Terkait era digital yang semakin berkembang, Joy  mengaku tak alergi. Peluang tersebut mesti dimanfaatkan. Selain JNE, dia mengaku menjajakan produknya di market place. Hanya saja, dia wanti-wanti supaya tren yang sudah menjadi gaya hidup itu, terutama bagi kalangan pelaku usaha makanan harus dibarengi dengan penuh pertimbangan.

"Jangan sampai kita habiskan waktu di sosmed, bertumpuk-tumpuk melakukan pemasaran di sana, karena tahapannya nantinya bakal kembali ke offline-offline juga, ini menyangkut keandalan produk," katanya, seraya menyebut porsi penjualan offline usahanya masih memegang porsi terbesar sekitar 80 persen, di antaranya ekspansi ke modern market.

Bahwa perlunya memetakan pasar online dipahami pula pelaku rintisan usaha makanan keripik daun singkong spesial, "Si Daun". Mereka yang baru membuka penjualan pada Juni 2019 memilih untuk fokus terlebih dahulu berdagang secara offline.

Meski demikian, peluang di online harus dimanfaatkan karena merupakan sebuah tuntutan. "Secara bahan baku daun singkong kita tak masalah, bahkan petaninya memberikan daun-daun itu secara cuma-cuma, terutama pada saat panen singkong. Tinggal mengintensifkan penjualan, karena selama ini kami lebih banyak ikut pameran dan sejenisnya, sekalian promo," jelas Ella Rhazaq di kawasan Gedung Sate Bandung, Sabtu (26/10).

Sejauh ini, peminat keripik daun singkong itu kebanyakan mengincar sebagai reseller. Karena baru, mereka mengaku kewalahan atas pesanan yang datang. Mereka pun masih menghitung biaya jasa pengiriman termasuk sebagai bahan untuk berstrategi dalam merespon permintaan secara daring mengingat permintaannya kemungkinan lebih banyak eceran.

Meski camilan tersebut terbilang berberat ringan, Ella mengaku masih mempunyai kendala, terlebih bagi pelaku rintisan sepertinya terutama dalam pengemasannya saat pesanan online itu datang. Pasalnya, mereka harus mengakali pengemasan guna mencegah keripik itu supaya tak remuk.

"Jangan sampai pas diterima pelanggan malah sudah bubuk, tapi kalau pun dikemas rapih banget, itu malah biayanya bisa di atas harga jual. Makanya, kita cari layanan jasa pengiriman yang secara tarif agak murah dulu, biar pemesan juga sama-sama enak," jelasnya.

Persoalan kemasan juga menjadi tantangan bagi pemilik usaha telor asin rempah, Sabaraya Bandung. Mereka belum menemukan kemasan yang pas guna memastikan telor asin panggang itu bisa dikirim secara "aman" guna memenuhi pasar yang lebih luas. Karena keterbatasan tersebut, pergerakan penjualan hanya di sekitar kawasan Bandung Raya.

"Sebenarnya pesanan luar kota dari online cukup banyak, tapi seiring waktu tak kami layani. Karena kita pernah mencoba kirim ke Banjarmasin, ternyata pada saat diterima si telur pecah, ya sudah kami belum membuka lagi pesanan online terutama dari luar kota," kata pemilik usaha Baban Ruswanto di kawasan Kampus UPI Bandung, Selasa (22/10).

Penjualan produk yang dirilis sejak 2014 itu, diakuinya sebenarnya terus menunjukan tren positif. Pemesanan digital untuk kawasan "Kota Kembang" dan sekitarnya, kemudian berjualan offline termasuk menghadiri event-event keramaian, membuat produksi telur asin tersebut meningkat. Per pekan sedikitnya terjual 2.000 butir telur asin olahan itu.

Dia tak menampik untuk proses pengiriman ke luar kota bisa saja dipaksakan. Hanya saja, langkah itu diperkirakan malah bakal membuat bea pengiriman melebihi harga jual produknya. Mereka akan menggunakan sejumlah bahan pelindung yang bakal membuat berat paket namun sekaligus memberatkan pula pemesan dari sisi tarif pengiriman. "Kami tentu berharap ada pengemasan khusus sehingga pasar bagi produk kami menjadi luas," katanya.

Bagi penyedia jasa logistik, kondisi tersebut sebenarnya merupakan peluang sekaligus tantangan. Mereka bisa menyiasatinya dengan pendekatan kreativitas dan inovasi. Bisa saja, persoalan pengemasan itu disayembarakan. Ide-ide ditantang untuk diekspresikan sekaligus diimplementasikan guna mencari packaging yang tepat terhadap produk-produk tertentu guna memudahkan pengiriman dan pengantaran serta hemat dari sisi biaya.

Anggap saja ini merupakan bagian dari pengembangan ekosistem logistik dalam mengantisipasi tuntutan gaya hidup di era digital yang semakin berkembang. Selain itu, langkah ini pun bisa dianggap sebagai keberpihakan bagi pelaku usaha terutama UMKM.

Merujuk hasil survei Survei Lembaga Riset Teknologi Informasi dan Telekomunikasi Sharing Vision pada awal Oktober lalu, Indonesia sudah hampir 100 persen tercover jaringan 4G. Dengan demikian, penggunaan aplikasi yang memerlukan jaringan bakal mampu menjangkau seluruh wilayah termasuk desa-desa dengan segala sumber daya dan potensinya. Jelas ini merupakan kesempatan bagi lalu lintas produk.

Kondisi tersebut tentu mesti direspon dengan baik. Untuk mobile application misalnya, masih berkaca pada hasil riset lembaga yang berbasis di Bandung itu, dengan perkembangan yang semakin pesat, di tengah tuntutan life style, perusahaan-perusahaan dinilai bakal berlomba-lomba menerapkan agile transformation, transformasi menyeluruh di antaranya berorientasi pada kepuasan pelanggan guna menghadirkan aplikasi terbaik.

Semangat ini tentu bisa diaplikasikan dalam mencari solusi bagi UMKM dalam perluasan produknya, begitu pula dengan pengguna jasa  pengiriman lainnya. Bukan apa-apa, pergeseran belanja secara online itu nyata. Untuk belanja makanan minuman pada 2019 misalnya, tumbuh 41 persen. Kosmetik, alat kecantikan, perawatan badan 37 persen, fashion dan mode 29 persen, barang elektronik rumah tangga 23 persen, ponsel 16 persen, laptop hingga komputer 12 persen.

Dengan kondisi tersebut, satu hal yang perlu jadi atensi adalah bagaimana memastikan rantai produsen dan jasa logistik berjalan seiring. Dalam artian, memindahkan alur digital ke dalam layanan fisik secara mulus. Analoginya, AC di rumah pada era sekarang saja bisa diatur secara digital, atau terhubung ke internet sehingga bisa dikendalikan dari mana pun dengan tujuan penghematan. Demikian pula dengan dinamika logistik. Semestinya bisa, karena seperti halnya memakan kremes. Bakal terasa renyah bagi mereka yang menikmatinya.


(Setiady Dwi/CN26/SM Network)