• KANAL BERITA

Studi Banding, Majlis Agama Islam Melaka Kagumi MAJT

Pengurus DPP MAJT dan delegasi Majlis Agama Islam Melaka bertukar cenderamata di aula masjid, Jumat (1/11).  (Foto: suaramerdeka.com/Setiawan HK)
Pengurus DPP MAJT dan delegasi Majlis Agama Islam Melaka bertukar cenderamata di aula masjid, Jumat (1/11). (Foto: suaramerdeka.com/Setiawan HK)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Rombongan Majlis Agama Islam Melaka (MAIM) Malaysia berkunjung ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Jumat (1/11). Rombongan yang merupakan Pegawai Tugas-tugas Khas MAIM, melakukan studi banding dipimpin Tuan Haji Musa bin Mohd.

''Ada masjid yang kami kagumi. (Akan) ada sekolahnya dan ada juga TPQ sehingga tidak sekadar rumah ibadah. Pengelolaan masjid seperti ini akan dipraktikkan di Malaysia. Supaya Islam menjadi agama keniscayaan,'' ujar Tuan Haji Musa.

Musa ditemani Ustadz Mohd Sobari bin Hasyim, Ustadz Abdul Rao bin Ab Rahim, Ustadz Yahya bin MD Nor, Ustadz Noorazman bin Sudin, Ustadz Muhammad Khairul Anam bin Mohd Razali, H Abd Rahim bin Daud, Ustadz Muhammad Khomeini bin Kamal, Ustadz Mohd Fauzi bin Jaafar, Ustadz Mohd Khairulzaki bin Misbah, Ustadz Mohd Fadhil bin Nor Azman, H Abdul Rahim bin Idris. Rombongan diterima Sekretaris DPP MAJT, KH Muhyiddin bersama jajaran pengurus.

Musa mengatakan, di Malaysia hampir semua masjid pengelolaannya dibiayai kerajaan. Untuk mendirikan masjid juga harus melalui izin pemerintah. Sementara di Indonesia, lanjut dia, uang infak mampu digunakan untuk pengelolaan dan biaya mengurus masjid.

''Kami tertarik dengan pengelolaan MAJT, menjadi perekat umat dan bisa menghasilkan pemasukan untuk memakmurkan masjid. Maka kami ingin belajar bagaimana masjid di Indonesia bisa eksis, dan bagaimana bisa menarik minat masyarakat untuk berinfak,'' katanya.

Sekretaris DPP MAJT, KH Muhyiddin menyampaikan pengalaman dalam mengelola masjid, termasuk sektor bisnis untuk memakmurkan tempat ibadah kebanggaan warga Jateng ini.

Kembangkan Bisnis

Kiai Muhyiddin memaparkan, MAJT berdiri di atas lahan seluas 10 hektare, mulai dibangun 6 Juni 2001 yang diprakarsai Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto.

''MAJT mengembangkan bisnis, mulai dari sewa hall, menyewakan lahan untuk 55 pertokoan, dan akan mendirikan rumah sakit,'' ungkap Kiai Muhyiddin.

Atas paparan KH Muhyiddin, rombongan MAIM sangat tertarik. Bahkan studi banding ke MAJT tersebut akan dijadikan rujukan untuk dikembangkan di Malaysia agar masjid di negaranya bisa makmur secara mandiri tanpa menggantungkan dana dari kerajaan.

Musa mengungkapkan, tujuan ke Indonesia karena ingin mengetahui pengelolaan masjid. Menurut dia, banyak sekali kegiatan-kegiatan positif di luar ibadah yang diadakan di masjid-masjid di Indonesia. "Indonesia sangat istimewa karena banyak masjid yang tidak dibiayai oleh pemerintah, bahkan didirikan oleh masyarakat."

Musa juga mengemukakan kekagumannya karena banyak kegiatan pendidikan di masjid-masjid di Indonesia. "Kami ingin pelajari bagaimana masjid bisa menjadi lembaga pendidikan dan punya sekolah," pungkas Musa.


(Setiawan Hendra Kelana/CN30/SM Network)