• KANAL BERITA

Menelusuri Eksotisme Rumah Merah Peninggalan Cina di Lasem

RUMAH MERAH : Pintu masuk menuju Rumah Merah di Desa Karangturi Kecamatan Lasem yang di dalamnya menyimpan banyak catatan dan bukti sejarah peradaban Tiongkok dan Hindia di Lasem. (suaramerdeka.com/Dok)
RUMAH MERAH : Pintu masuk menuju Rumah Merah di Desa Karangturi Kecamatan Lasem yang di dalamnya menyimpan banyak catatan dan bukti sejarah peradaban Tiongkok dan Hindia di Lasem. (suaramerdeka.com/Dok)

REMBANG, suaramerdeka.com – Bagi pecinta warisan budaya, Lasem adalah kota kecil yang terlalu sayang untuk dilupakan. Lasem selalu menjadi jujugan banyak wisatawan budaya, terutama yang berkaitan dengan peninggalan Tiongkok dan Hindia atau Eropa.

Salah satu warisan budaya yang saat ini masih kokoh berdiri di Lasem adalah Rumah Merah. Sebuah rumah yang diklaim berdiri sejak 1.860 itu berada di Desa Karangturi Kecamatan Lasem. Arsitekturnya yang menggabungkan gaya Hindia dan Tiongkok menjadikan Rumah Merah destinasi wisata budaya yang eman ditinggalkan.

Pengelola mencoba mengembangkan potensi Rumah Merah menjadi destinasi wisata budaya warisan Tiongkok. Pengembangan dilakukan dengan menjadikan Rumah Merah sebagai salah satu home stay yang bisa diinapi wisatawan.

Suara Merdeka mencoba menelusuri eksotisme Rumah Merah pada Rabu (30/10) siang. Ditemani Manager Rumah Merah yang ramah, Yenni Susanti, Suara Merdeka diajak masuk melalui pintu utama bercorak Tiongkok.

Pertama kaki masuk ke halaman Rumah Merah, aura Tiongkok sangat terasa. Sebuah patung salah satu dewa yang dipasang di teras depan memberikan kesan sedang berada di salah satu rumah di Tiongkok.

Keramik kuno yang juga sengaja dipertahankan memberikan gambaran seni yang sangat menawan. Minimnya unsur modern di dalamnya justru menjadi pemikat bagi pengunjung, terutama pecinta peninggalan sejarah.

Dengan intonasi meyakinkan, Susanti menjelaskan satu persatu pernak-pernik yang ada di dalam Rumah Merah. Mulai dari 19 kamar yang bisa diinapi dengan berbagai spesifikasinya, tempat membatik, hingga display peninggalan benda-benda abad 18 yang ditemukan di dalam rumah tersebut.

Toko Online Perlengkapan Ibu dan Anak Kualitas Terjamin

Salah satu benda peninggalan abad 18 yang dipajang adalah kloset duduk. Kloset asli yang tentu saja mewah pada masa itu, ternyata terbuat dari kayu yang ada penutup dan lubang berdiameter sekitar 30 centimeter di dalamya. Sekilas, kloset tersebut mirip dengan guci.

Susanti menjelaskan, yang membuat Rumah Merah semakin menarik adalah adanya fasilitas tambahan. Di lahan dengan luas total mencapai 7.000 meter persegi itu, selain Rumah Merah ada juga Omah Batik, Museum Batik Tiga Negeri serta kafe bergaya Tiongkok. Menariknya, destinasi wisata tersebut berada di lokasi yang sama.

“Tamu yang menginap di sini, sudah pasti akan menikmati tour Rumah Merah, Omah Batik dan Museum Mini Batik Tiga Negeri, ditemani guede. Jika tamu antusias, untuk menyusuri di dalamnya bisa menghabiskan waktu antara setengah sampai satu jam,” terang Susanti.

Tidak Mahal

Ternyata untuk menginap di Rumah Merah yang memiliki nilai sejarah tinggi tidak mahal. Harga home stay untuk semalam plus dengan tour di dalamnya hanya Rp 300 ribu sampai Rp 750 ribu. Bahkan di momen-momen tertentu seperti sekarang, pengelola menerapkan harga miring, menginap mulai Rp 99 ribu.

“Rata-rata tamu yang datang setiap bulan di bawah seratus. Destinasi yang paling disenangi tamu di Rumah Merah adalah sumur kuning, yang sudah berusia ratusan tahun. Airnya masih ada dan digunakan masak. Ada juga pohon mangga yang berusia seratus tahun, dan masih berbuah,” ujarnya.

Cerita yang didengar Susanti, satu hal yang juga menarik adalah Omah Batik yang di dalamnya ada Museum Mini Batik Tiga Negeri disebut merupakan rumah yang pernah ditinggali salah satu penggagas Batik Tiga Negeri.

“Kami mencoba mengembangkan dengan menggandeng destinasi di luar Rumah Merah. Tamu yang datang, kami tawari tour dengan tujuan beberapa destinasi, seperti klenteng tua, Situs Bonang dan Karang Jahe,” tandas Susanti.

Pemerhati sejarah Lasem Ernantoro menyatakan, munculnya sejumlah destinasi wisata yang mengandalkan sejarah, seperti Rumah Merah, membantu mewujudkan Lasem sebagai Kota Pusaka di Jateng.

“Lasem di pantai ada destinasi, di kota ada rumah-rumah peninggalan Cina dan Eropa, di pegunungan pun ada destinase. Keinginan saya, Lasem bisa menjadi jujugan wisata sejarah. Paling penting, bisa menumbuhkan perekonomian warga Rembang,” papar Ernantoro.


(Ilyas al-Musthofa/CN39/SM Network)