• KANAL BERITA

Jembatan Sedan Ditutup Sampai Desember

Jembatan Sedan yang berada di perbatasan Desa Sedan dan Sidorejo Kecamatan Sedan ditutup sampai akhir Desember mendatang lantaran ada pengerjaan pelebaran kontruksi. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
Jembatan Sedan yang berada di perbatasan Desa Sedan dan Sidorejo Kecamatan Sedan ditutup sampai akhir Desember mendatang lantaran ada pengerjaan pelebaran kontruksi. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Jembatan Sedan yang menjadi salah satu penghubung antara Kecamatan Sedan, Kragan dan Sarang, ditutup mulai awal pekan ini. Penutupan jembatan tua tersebut akan diberlakukan sampai akhir Desember 2019.

Mau pelebaran jembatan, berarti butuh bahan bangunan yang kualitasnya bagus.

Penutupan dilakukan lantaran jembatan milik Pemkab Rembang tersebut dalam proses pelebaran kontruksi. Rencananya, jembatan akan dilebarkan masing-masing 1 meter pada dua sisinya dengan sumber anggaran APBD Induk 2019.

Jalan dan Jembatan DPUTARU Rembang, Wahyu Dian Prihantanto menyatakan, sosialisasi penutupan jembatan dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lima titik berbeda. Informasi tersebut dipasang di Kragan, Pandagan, Lodan Sarang serta Karas.

Ia menyebutkan, kendaraan roda empat sudah tidak bisa melintasi jembatan tersebut sejak Senin (28/10). Sedangkan kendaraan roda dua, sampai Selasa (29/10) siang kemarin masih bisa melintas.

“Sebenarnya, pekerjaan sudah dimulai sejak sepekan lalu. Namun, karena di sekitar lokasi ada kegiatan masyarakat, penutupan jembatan baru kami lakukan Senin kemarin. Jalur alternatif untuk kendaraan roda empat sudah disiapkan,” terang Dian.

Jalur Alternatif

Dian mengungkapkan, kendaraan yang melintas dari arah Kragan atau Karas dan sebaliknya bisa sementara menggunakan jalur alternatif melalui Desa Gesikan. Papan arah darurat untuk pengendara sudah disiapkan petugas.

“Tahap awal, kami membuat jembatan darurat (roda dua) di sisi utara kontruksi jembatan. Selain itu, pembangunan tiang penyangga jembatan juga sudah mulai dikerjakan oleh petugas,” imbuh Dian.

Sementara itu, seorang warga setempat Munim menyangkan tidak adanya jembatan darurat untuk kendaraan roda empat. Sebab, jalur alternatif di Desa Gesikan di beberapa titik terlalu sempit, terutama untuk truk.

“Saya belum melihat RAB. Jika di RAB muncul anggaran untuk jalan darurat (roda empat), dan itu tidak dilaksanakan, ini masalah. Sebab, tidak adanya jalur darurat (roda empat), merugikan aktivitas pengguna jalan, terutama pelaku usaha,” papar Munim.

Pantauan suaramerdeka.com Selasa (29/10), beberapa bagian jembatan sudah terlihat retak. Sekilas, kondisi jembatan sudah cukup membahayakan dilalui. Apalagi, beberapa sisi juga sudah dilakukan pengedukan tanah.


(Ilyas al-Musthofa/CN40/SM Network)