• KANAL BERITA

Mahasiswa Gelar Diskusi Nasionalisme Milenial di Era 4.0

Salah satu pemateri, Saikhu Rosyidi, memberikan materi tentang nasionalisme generasi milenial di era industri 4.0, di hadapan ratusan mahasiswa Rembang. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)
Salah satu pemateri, Saikhu Rosyidi, memberikan materi tentang nasionalisme generasi milenial di era industri 4.0, di hadapan ratusan mahasiswa Rembang. (suaramerdeka.com/Ilyas al-Musthofa)

REMBANG, suaramerdeka.com – Ratusan mahasiswa dan pelajar di Kabupaten Rembang menggelar diskusi publik bertemakan nasionalisme generasi milenial di era industri 4.0 dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Diskusi di kampus STIE YPPI itu diinisiatori oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) “Pena”, Senin (28/10).

Seratusan peserta diskusi berasal dari berbagai kampus dan perwakilan OSIS di Rembang. Mereka dipancing berdialog oleh dua nara sumber, yaitu dosen STIE YPPI Saikhu Rosyidi dan Direktur Akademi Semen Indonesia (AKSI) Rembang, Sugihariyadi.

Ketua Panitia Pelaksana (Panpel), Kanda Eka mengatakan, diskusi ini untuk kembali memperkuat rasa nasionalisme generasi milenial di era sekarang. Materi diskusi menarik lantaran membahas gejala-gejala pada diri generasi milenial yang bertentangan dengan nilai-nilai nasionalisme.

Gunakan handphone terbaikmu untuk melakukan hal positif.

Ia berharap, diskusi di momen Sumpah Pemuda ini bisa memperkuat nasionalisme generasi milenial, sesuai dengan jati diri Bangsa Indonesia. “Ada yang cenderung apatis. Di forum ini kami ingin memperkuat nasionalisme generasi milenial di era 4.0,” terang dia.

Seorang peserta diskusi, Niswatur Nur Naimah mengaku, diskusi semacam ini penting untuk kembali menambah kualitas nasionalisme. Apalagi, saat ini banyak budaya-budaya dari luar yang sudah masuk ke kalangan milenial.

Ia mengkritik adanya musik-musik dan gaya artis luar negeri yang sudah banyak ditiru kalangan milenial Indonesia. Hal itu bisa berdampak pada kurnagnya kecintaan terhadap karya musik dalam negeri. “Budaya cinta produk nasional harus dilakukan,” ujarnya.

Nara sumber diskusi, Sugihariyadi menyatakan, problematika yang dihadapi kepemudaan antara lain adalah pembawaan yang apatis. Sebagian pemuda tidak mempunyai karakter percaya diri terhadap potensi.

“Problematika lainnya, pemuda terbawa arus, keinginan yang selama ini mereka gunakan, ternyata dibentuk oleh pengaruh-pengaruh syarat, bukan cermin kepribadiannya. Sebagian pemuda juga kurang mempunyai kemampuan adaptasi terhadap lingkungan, sehingga asing terhadap tempat tinggalnya,” papar Sugihariyadi.


(Ilyas al-Musthofa/CN40/SM Network)