• KANAL BERITA

Pencalonan Gibran Sebagai Wali Kota Solo, Memperlemah Posisi Jokowi

Kandyawan (kiri). (suaramerdeka.com/Wahyu Atmadji)
Kandyawan (kiri). (suaramerdeka.com/Wahyu Atmadji)

SOLO, suaramerdeka.com - Pro kontra terus berlanjut terhadap rencana Gibran Rakabuming Raka, putra pertama Presiden Joko Widodo, yang akan maju pada Pilkada Kota Solo 2020. Ada yang menilai itu momentum tepat. Tapi ada juga yang berpendapat pencalonan ini akan mengacak-acak tatanan partai politik PDIP.

"Andai Gibran terpilih menjadi wali kota, dengan cara yang paling elegan sekali pun, akan menjadi beban politik bagi Jokowi. Gibran saat ini bukan aset tetapi malah jadi liabilitas (beban)," kata budayawan Solo, Kandyawan, kepada suaramerdeka.com, Minggu.

Kandy yang pensiunan dosen FISIP UNS menolak Gibran mencalonkan wali kota karena sayang pada Jokowi. Presiden bisa terganggu karena pencalonan anaknya akan menjadi faktor kelemahannya. Sementara tugas lima tahun ke depan tidak mudah karena banyak lawan politik yang akan mencari kekurangannya

Ia sepakat mempersilakan Gibran, yang masih belia dan selama ini dikenal sebagai pebisnis, harus berkeringat dahulu dengan menunjukkan kemampuannya. "Mulailah dengan menjadi anggota dewan. Setelah orang paham maka pasti akan disengkuyung grassroots," ucapnya.

Jokowi, di mata Kandy, ditakdirkan melakukan langkah-langkah besar penuh strategi bagi kebesaran bangsa, seperti pernah dilakukan bung Karno. Biarkan anaknya  berkembang. Biarkan Tuhan menciptakan momentum bagi Gibran untuk menjadi apapun. Tak perlu bersandar pada kebesaran nama bapaknya.

Selain dianggap masih muda dan butuh pengalaman yang cukup, DPC PDIP Kota Solo juga sudah menutup bagi pencalonan Gibran karena sudah ada calon lain yang digadang-gadang. Gibran lalu menemui Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekaro Putri untuk meminta restu.

Pengamat politik LIPI, Profesor Dr Syamsudin Haris, berpendapat senada dengan Kandyawan. Melalui twitternya ia mempertanyakan andai Megawati membuka kembali peluang pencalonan bagi Gibran.

"Mestinya, ia melanjutkan, pintu sudah tertutup karena ada paslon walikota yang sudah antri. Gobran perlu bersabar. Lagi pula masih muda," kata Haris.

Ia menulai dengan berupaya mendekati Ketua Umum PDIP Megawati  Gibran bisa dianggap memaksakan kehendak. “Akan tidak baik buat Gibran dan tentu juga Presiden Jokowi sendiri karena seolah-olah ada pemaksaan harus maju. Toh mekanisme penjaringan kan dari bawah. Jangan sampai ada kesan, mentang-mentang anak Presiden lalu bisa melakukan apa saja untuk maju. Ini tidak baik,” katanya.

Ketua DPC PDIP Solo, FX Hadi Rudyatmo, mempersilakan Gibran jika masih ingin melanjutkan proses pencalonan lewat PDIP Jateng mau pun Pusat.

Rudy yang juga Wali Kota Solo menegaskan sebelum DPP PDIP mengeluarkan rekomendasi, pihaknya tetap menjalankan amanat dari kader bawah yang mengusung Achmad Purnomo-Teguh Prakosa.

“Kami ya berjuang sesuai aturan partai nomor 24 tahun 2017, penugasan partai, penjaringannya itu dari DPC. Purnomo-Teguh itu sudah diusung oleh anak ranting dan PAC lima kecamatan kok,” ujarnya.


(Wahyu Atmadji/CN40/SM Network)