• KANAL BERITA

Demokrasi Alami Pergolakan di Berbagai Negara

ANCAMAN SERIUS: Para pembicara menyampaikan kegelisahan atas ancaman serius pada demokrasi akibat pergolakan di berbagai negara. (suaramerdeka.com / Agung PW)
ANCAMAN SERIUS: Para pembicara menyampaikan kegelisahan atas ancaman serius pada demokrasi akibat pergolakan di berbagai negara. (suaramerdeka.com / Agung PW)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Demokrasi menjadi sistem politik yang cukup banyak dipakai negara untuk menjalankan roda pemerintahan. Berbagai negara berkembang pun turut mengadopsi sistem yang berasal dari barat tersebut. Namun negeri tempat demokrasi berasal sedang tidak kondusif, salah satunya Amerika Serikat. Jika fenomena terus berlanjut, akan memberikan gelombang politik besar di seluruh dunia.

Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Dr Bambang Cipto MA mengungkapkan, saat ini kredibiltas demokrasi terancam ambruk. Hal ini akibat bangkitnya partai-partai populis di kawasan Eropa, datangnya gelombang besar otoriterisme dan krisis demokrasi di Amerika Serikat. Kebangkitan ditandai dengan berakhirnya dominasi partai-kanan-tengah dan kiri-tengah sejak tahun 1998.

Perlawanan publik terhadap para elit politik dan ekonomi yang mereka pandang hanya mengekspolitasi kehidupan rakyat kecil. Bahkan sebanyak 80 persen generasi milenial di Amerika Serikat (AS) mendukung militer untuk mengambil alih negara.

"Demokrasi liberal AS gagal menghalangi terjadinya ketimpangan pendapatan yang parah. Selama 40 tahun gaji buruh megalami stagnasi, sementara 20 persen penduduk lainnya memiliki kekayaan yang meningkat pesat. Pada tahun 2019, hanya ada 17 persen masyarakat AS yang percaya bahwa pemerintahan berjalan dengan baik," papar Bambang saat mengisi seminar yang diselenggarakan Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia menjelaskan fenomena tersebut dapat sangat berpengaruh pada pergolakan politik internasioal. Ambruknya demokrasi AS merupakan ancaman bagi masa depan demokrasi di negara-negara berkembang. Ditambah lagi dengan meningkatnya keinginan sebagian masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang otoriter menjadi ancaman yang serius. Hal ini membuka peluang bagi negara-negara berkembang berubah menjadi otoriter dan mencengkeram rakyatnya.

"Jika demokrasi di negara besar goyah, tidak menutup kemungkinan negara yang mengadopsi sistem itu juga berubah dan memunculkan banyak negara otoriter," tandasnya.

Dosen Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (FH UGM), Dr Zaenal Arifin Muchtar mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh oligarki. Jika hal ini terus terjadi, sistem demokrasi di Tanah Air menjadi samar-samar. Banyaknya ideologi partai yang tidak jelas semakin mengacaukan sistem tersebut.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)