• KANAL BERITA

Mirip Belajar Kelompok, Sekolah Anak-anak Negeri Tanpa Sinyal

 SUASANA KBM : Suasana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, mirip belajar kelompok, karena satu kelas hanya berisikan dua hingga tujuh orang siswa saja. Namun para guru tetap bersemangat dan profesional dalam mendidik anak-anak generasi bangsa. (suaramerdeka.com / Nur Khaeruddin)
SUASANA KBM : Suasana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, mirip belajar kelompok, karena satu kelas hanya berisikan dua hingga tujuh orang siswa saja. Namun para guru tetap bersemangat dan profesional dalam mendidik anak-anak generasi bangsa. (suaramerdeka.com / Nur Khaeruddin)

JAUH  dari hiruk pikuk keramaian dan kemajuan globalisasi, disaat teknologi komunikasi tengah bergeliat mewarnai piranti gawai, gadget atau telepon pinter yang saat ini menjadi genggaman dan mainan anak-anak generasi penerus bangsa di era milenial. Ardianto, bocah 11 tahun, yang tinggal di Desa Simego, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, terlihat asik bermain gambar bersama tiga temannya.

Bagi empat anak di kawasan sabuk pegunungan Dieng itu, mainan kertas bergambar tokoh-tokoh animasi dan super hero, serta dolanan anak kampung seperti lempar sandal, enggrang, patok lele, lebih familier ketimbang game online atau gadget.

Minggu sore itu, tak terlihat banyak anak di desa dengan suasana pegunungan dingin nan asri, dengan hamparan sawah dan hutan tersebut. Menjelang pukul 3 sore, anak-anak sudah beranjak dari pekarangan rumah salah satu warga yang dijadikan tempat bermain.

Kabut tipis mulai terlihat, dan cuaca dingin menghembus menerobos pakaian. "Mau pulang, ngaji di musala," kata Ardianto yang telah di tinggalkan teman-temannya, karena rumah bocah itu tak jauh dari tempat bermain, dibandingkan rumah tiga temannya itu.

Kenapa hanya sedikit anak-anak?. Dengan polos bocah yang masih duduk di kelas lima sekolah dasar itu menjawab, karena lainnya jauh. "Yang dekat cuma ini, ada sih beberapa tapi tadi tidak main bareng," celetuknya.

Memang, karena faktor geografis, kecamatan salah satu kawasan daerah atas Kota Santri dengan ketinggian mencapai 2.400 Meter di atas permukaan laut (Mdpl), dan Desa Simego merupakan desa paling tinggi, sehingga jarak antara perkampungan satu dan lainnya cukup jauh.

Karena ketinggiannya dan menjadi sabuk pegunungan Dieng, Petungkriyono dikenal sebagai negeri atas awan. Kekayaan alam berlimpah, mulai hasil hutan, buah, maupun sayuran. Bahkan, eksotisme anugerah alam menjadikan daerah terpencil itu, sebagai potensi besar pariwisata pengangkat popularitas daerah di Jawa Tengah ini.

Bahkan hasil kopi setempat yang saat ini tengah berkembang, mampu menjadi komuditas daerah, serta mengangkat perekonomian masyarakat, selain keberadaan kawasan obyek wisata pegunungan dan banyaknya air terjun. Dari empat orang anak, tak terlihat satu anakpun yang memegang smart phone. "Ada hp di rumah, tapi sinyal di sini tidak ada, harus ke tempat tertentu untuk mendapatkan sinyal. Hp juga dipakai orang tua sama kakak," ucap dia, sambil melangkah pulang.

Meski jauh dari produk teknologi, lantaran lokasinya minim sinyal, sehingga selain dikenal sebagai negeri atas awan, daerah itu juga disebut negeri tanpa sinyal. Apakah itu mengurangi kegembiraan anak-anak?. Ternyata tidak. Mereka terlihat sangat riang, bahkan menunjukkan sebuah kegembiraan sangat natural.

Sarana Memadai
 
Dari sembilan desa di Kecamatan Petungkriyono, secara keseluruhan berada di kawasan pegunungan, dan jumlah anak-anak usia tingkatan sekolah dasar cukup sedikit. Namun sarana pendidikan cukup memadai, walaupun sekolah-sekolah memiliki murid dengan jumlah tak memadai.

Saat ditelisik pada jam belajar sekolah, di hari Senin, di Desa Simego untuk satu sekolah, siswanya hanya mencapai 160 an lebih saja. Jumlah itu cukup banyak. Namun saat bergeser di Desa Kayupuring, yang notabene adalah desa di kawasan tengah kecamatan, jumlah siswa dalam satu kelas antara 2-7 orang.

Ketika dikunjungi bersama pejabat kecamatan, terlihat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah seperti halnya belajar kelompok, dilakukan secara melingkar berdekatan langsung dengan guru. Bahkan untuk kelas tiga, guru rela mengajar secara profesional hanya dengan dua siswa saja.

Berdasarkan profil, kecamatan dengan 9 desa, 40 dusun, 43 RW, 90 RT, dan jumlah penduduk 11.882 jiwa, terdapat 3 sekolah TK swasta, 21 SD Negeri dan 1 SD Swasta, 4 SMP Negeri, dan 1 SMA. Data demikian menunjukkan pemerintah daerah setempat, sangat peduli dengan hak belajar anak-anak, di wilayah yang jauh dari ibu kota kabupaten, karena berjarak antara 41 km hingga 50 km.

Kemudian, dari keberadaan 22 sekolah dasar, hanya tiga sekolah yang memiliki siswa lebih dari 100 anak. 19 lainnya, di bawah angka tersebut. Bahkan ada jumlah sangat minim. "Ya memang kondisinya seperti yang dilihat ini, sekolah dengan murid di atas 100 anak, hanya terdata di beberapa sekolah saja, diantaranya adalah SD Tlogohendro 1 dan 2, serta SD Simego 1. Di beberapa desa lainnya satu kelas hanya dua sampai lima anak," terang Camat Petungkriyono, Farid Abdul Hakim.

Bukan karena faktor kemalasan anak, namun lebih karena sedikitnya jumlah anak. Bahkan berdasarkan data pendidikan warga, banyak orang tua dan pemuda setempat memiliki pendidikan mulai dari SMP sampai SMA. Sedangkan untuk generasi saat ini, beberapa juga terdata memiliki pendidikan sarjana, dan ada yang tengah menempuh pendidikan perguruan tinggi.

Pantas saja, Ardiyanto hanya bermain dengan sedikit teman saja. Anak-anak kecamatan itu yang merupakan generasi emas penerus bangsa, meski berada di tempat dengan keterbatasan fasilitas, dan harus membantu orang tua bekerja di hutan, ladang, maupun sawah, semangat menggapai mimpinya tinggi, sebagai generasi penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).  "Mau jadi tentara, nanti sekolahnya di kota," tuturnya.

Melek Pendidikan

Para orang tua di daerah pegunungan Petungkriyono tampaknya juga telah melek pendidikan, mereka mengaku hasil bercocoktanam, maupun hasil hutan, ditabung agar mampu mengantarkan anak-anak menggapai cita-cita, seperti dikatakan Supardi (45). Buruh tani sayuran di Petungkriyono itu mengaku pendapatannya tidak banyak hanya kisaran Rp 20-40 ribu per hari. Bahkan kadang harus kerja serabutan di hutan, karena menjadi buruh tani sayur, terkadang tidak berjalan mulus untuk keseharian.

"Ya kalau penghasilan seperti itu, pas harga panen bagus ya bayarannya bagus. Tapi kadang harga anjlok. Kalau untuk sehari-hari cukup, karena kan ada hasil tanaman ladang sendiri, sisanya dikumpulkan untuk sekolah anak nanti di kota, kalau sudah besar," ungkap pak Pardi.

Kesadaran perlindungan anak menuju Indonesia Layak Anak (Idola) 2030, salah satu daerah Provinsi Jawa Tengah ini tampaknya sangat baik. Tak hanya kepedulian orang tua di kawasan pedesaan saja, yang sadar akan pentingnya SDM bagi buah hati mereka.

Penciptaan generasi emas sebagai pilar utama pembangunan nasional juga dilakukan pemerintah setempat. Pemenuhan hak, menjadi penekanan daerah yang telah beberapa kali meraih penghargaan Kabupaten Layak Anak (KLA) secara berturut-turut hingga tahun 2019 ini.

Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan menerapkan program Zero Drop Out tahun 2021, sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas SDM generasi bangsa, melalui peluncuran aplikasi Kajen Zero Drop Out (Kajen Rodo).   Aplikasi itu menurut Bupati Pekalongan KH Asip Kholbihi, merupakan sarana untuk pemetaan anak putus sekolah dan penanganannya. Sehingga diketahui permasalahannya dan dapat diselesaikan sesuai dengan kasus masing-masing.

"Aplikasi ini nanti akan mendeteksi anak putus sekolah tingkat dasar, mulai dari alamat rumah,  dusun, desa, sampai kecamatan. Kemudian alasan kenapa tidak sekolah. Jadi penyelesaiannya disesuaikan kasus sesuai data pemetaan. Pokoknya tahun 2021 semua anak harus sekolah. Program ini untuk runing ke wajib belajar 12 tahun. Kalau yang sembilan tahun tidak diselesaikan tidak mungkin mengejar 12 tahun," ungkapnya.

Kerjasama dilakukan dengan seluruh pihak, tidak hanya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan saja, akan tetapi juga menggandeng orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi masyarakat, untuk bersama-sama bergerak menyukseskan Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun, sambil pelan-pelan mewujudkan Wajar 12 tahun.

"Aplikasinya sudah ada, tinggal treatment yang cepat dan tepat, kemudian yang paling penting menumbuhkan kesadaran agar anak-anak dapat dididik kembali. Terutama mentalitas orang tuanya,"ungkap kepala daerah bergelar sosial kiai itu.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Sumarwati, menyebut aplikasi Kajen Rodo sudah mendata sebanyak 1.069 anak-anak putus sekolah. Kemudian dari jumlah itu, sebanyak 389 sudah positif masuk kejar paket.

"Sehingga sekarang ini aplikasi terus mendata anak-anak putus sekolah yang belum ada dalam pemetaan. Dan bagi yang menemukan data anak putus sekolah segera dimasukkan, karena di tahun 2021 semuanya akan diselesaikan, agar semua anak sekolah, dan terwujud zero drop out," tutur dia.

Untuk gerakan zero drop out tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tidak hanya mendapatkan anggaran dari APBD saja, untuk membantu anak-anak agar dapat sekolah kembali, melainkan juga ada bantuan anggaran dari Baznas serta Bank Jateng.


(Nur Khaeruddin/CN26/SM Network)