• KANAL BERITA

HSN, Suasana di Demak Terasa Lebih Santri

Kemah Diikuti 4.000 Peserta

BARISAN SANTRI : Para santri berjalan di depan tamu dan para pengasuh pondok pesantren yang meghadiri upacara HSN di Alun-alun Demak. (suaramerdeka.com / Hasan Hamid)
BARISAN SANTRI : Para santri berjalan di depan tamu dan para pengasuh pondok pesantren yang meghadiri upacara HSN di Alun-alun Demak. (suaramerdeka.com / Hasan Hamid)

DEMAK, suaramerdeka.com - Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) suasana di wilayah Kota Demak terasa lebih santri. Setidaknya hal itu terlihat dari pernak-pernih yang ada, maupun pakaian yang dikenakan warga. Di beberapa toko, para pemilik dan pelayan yang non muslim juga mengenakan pakaian ala santri dengan bawahan sarung, baju koko dan berpeci. Adapun untuk perempuan mengenakan kerudung dan pakaian yang menutup semua aurat.

Mereka pun menyapa konsumen dengan salam dan ucapan selamat hari santri. Sementara itu, pada upacara peringatan Hari Santri Nasional yang berlangsung di Alun-alun Demak, Selasa (22/10), diikuti tak kurang dari 20.000 santri dari sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Demak.

Pada peringatan HSN tahun ini, PCNU menggelar sejumlah kegiatan yang menjadikan wilayah Kota Demak diwarnai aktivitas santri. Di antaranya melibatkan 4.000 peserta pada kemah santri dan MTQ, MQK yang digelar di halaman Balai Latihan Kerja (BLK), kemudian istighotsah kebangsaan di halaman Sanggar Pramuka, pawai santri di stadion Pancasila serta tabligh akbar dan Demak bershalawat di Alun-alun Demak.

Pada upacara HSN, diawali iringan barisan ribuan santri dan Forkopimda Kabupaten Demak yang berjalan dari Pendapa menuju Alun-alun Demak. Secara berurutan pada barisan terdepan adalah para santri peserta kemah. Mereka membawa bendera bergambarkan bulus. Kemudian barisan santri pembawa bendera Surya Binolong, lalu Surya Bintoro, Lawang Bledhek, dan Demak Bintoro. Di barisan tersebut terdapat para ulama, pengasuh pondok pesantren, Bupati, Forkopimda, Pejabat Pemerintah dan para guru.

Seluruh peserta putra memakai sarung, baju koko dan pecis. Demikian pula para pejabat pemerintahan, baik bupati maupun forkopimda. Memasuki lapangan Alun-alun disambut dengan shalawat grup rebana dan lagu HSN yang dilantunkan bersama seluruh peserta. Tampak tertampang baliho raksasa bertuliskan resolusi jihad.

Pengakuan Negara

Selain dibacakan resolusi jihad, teatrikal yang menggambarkan sejarah resolusi jihad diperdengarkan untuk memberi gambaran terkait lahirnya resolusi jihad. Melalui resolusi tersebut semakin mengukuhkan keberadaan bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Meski di bawah terik matahari para santri tetap semangat mengikuti upacara hingga selesai. Antusiame membara saat dilantunkan lagu Subanul Wathan dan mars hari santri. Semua peserta menyanyikan lagu tersebut sembari mengepalkan tangan kanan.

Bupati Demak Muhammad Natsir mengatakan Peringatan Hari Santri Nasional merupakan bentuk pengakuan negara atas peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Santri dan kalangan pesantren telah menjadi bagian sejarah kemerdekaan bangsa dan memiliki kontribusi besar dalam menjaga persatuan.

Sejarah pun mencatat, peranan para santri senantiasa bersikap tegas setiap ada ancaman disintegrasi bangsa, bahkan kalangan pesantren menjadi garda terdepan demi Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dia berpesan kepada para santri agar terus meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan dalam membangun bangsa. Termasuk untuk mencegah dan menangkal radikalisme yang marak terjadi.

"Salah satunya mengantisipasi penyebaran ajaran yang menyimpang. Langkah ini bagian dari deteksi dini yang merupakan tanggung jawab bersama," katanya.


(Hasan Hamid/CN26/SM Network)