• KANAL BERITA

Dua Kelurahan Endemis Filariasis

 Kasi Filariasis Sub Direktorat Filariasis dan Kecacingan Kementerian Kesehatan Solihah Widyastuti menjelaskan kasus filariasis pada Rakor Program Filariasis di Aula BKD Kota Pekalongan, Selasa (22/10). (suaramerdeka.com/Isnawati)
Kasi Filariasis Sub Direktorat Filariasis dan Kecacingan Kementerian Kesehatan Solihah Widyastuti menjelaskan kasus filariasis pada Rakor Program Filariasis di Aula BKD Kota Pekalongan, Selasa (22/10). (suaramerdeka.com/Isnawati)

PEKALONGAN, suaramerdeka.com - Dua kelurahan di Kota Pekalongan dinyatakan endemis filariasis yakni Kelurahan Jenggot, Kecamatan Pekalongan Selatan dan Kelurahan Sapuro Kebulen, Kecamatan Pekalongan Barat. Penetapan itu endemis penyakit kaki gajah itu berdasarkan survei Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Yogyakarta di kelurahan-kelurahan di Kota Pekalongan, pada 29 April hingga 4 Mei 2019.

Asisten Pembangunan Setda Kota Pekalongan, Erli Nufiati menjelaskan, dari hasil pemeriksaan 315 sampel di Kelurahan Jenggot, lima sampel positif (1,5 persen). Sementara di Sapuro Kebulen dari 332 sampel 1 sampel positif (0,3 persen).

‘’Dari hasil evaluasi prevensi filariasis tersebut menunjukkan mikrofilaria masih berada lebih dari 1 persen,‘’ kata Erli, saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Program Filariasis dalam rangka Advokasi dan Sosialisasi Pemberian Obat Massal (POMP) Filariasis Intervensi Khusus dengan tiga Regimen di Aula Badan Keuangan Daerah (BKD) Kota Pekalongan, Selasa (22/10).

Menurut dia, karena Kota Pekalongan belum berhasil menurunkan angka mikrofilaria di bawah satu persen. Sehingga Kota Pekalongan harus menambahkan POMP filariasis selama dua tahun.

‘’Sesuai ketentuan WHO, pelaksanaan POPM Filariasis tahun 2020-2021 akan menggunakan tiga regimen obat. Yaitu ivermectin, DEC dan albendazole,’’ katanya.

Pemkot berharap, kepatuhan warga pada POMP filariasis nantinya bisa meningkat. Sebab, berdasarkan survei, tingkat kepatuhan minum obat penyakit kaki gajah masih rendah.

‘’Semakin besar proporsi masyarakat minum obat pencegah filariasis, semakin besar peluang untuk memutuskan rantai penularannya. Sehingga penyakit itu bisa dicegah dan tingkat kesehatan masyarakat Kota Pekalongan akan semakin baik,’’ katanya.

Kasi Filariasis Sub Direktorat Filariasis dan Kecacingan Kementerian Kesehatan, Solihah Widyastuti menambahkan, intervensi tiga obat akan dilakukan di enam puskesmas. Yakni Puskesmas Dukuh, Puskesmas Kramatsari, Puskesmas Tirto, Puskesmas Jenggot, Puskesmas Buaran dan Puskesmas Pekalongan Selatan.

Sementara puskesmas lain akan melaksanakan dua EU (evaluation units). EU pertama di antaranya Puskesmas Krapyak, Puskesmas Tondano dan Puskesmas Sokorejo. Sedangkan EU kedua yakni Puskesmas Klego, Puskesmas Bendan, Puskesmas Medono dan Puskesmas Noyontaan.


(Isnawati/CN40/SM Network)