• KANAL BERITA

Kekeringan adalah Peringatan dari Tuhan

 SHALAT MINTA HUJAN : Ratusan umat Islam di Kota Semarang mengikuti shalat minta hujan (shalat Istisqa) di pelataran selatan kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang, dengan imam KH Ulil Abshor Alhafidz dan khatib Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi. (Foto suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)
SHALAT MINTA HUJAN : Ratusan umat Islam di Kota Semarang mengikuti shalat minta hujan (shalat Istisqa) di pelataran selatan kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang, dengan imam KH Ulil Abshor Alhafidz dan khatib Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi. (Foto suaramerdeka.com/Agus Fathuddin)

SEMARANG, suaramerdeka.com – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi mengingatkan, kekeringan akibat musim kemarau berkepanjangan dan air hujan tidak segera turun adalah peringatan dari Tuhan Yang Maha Esa, Allah subhanahu wataala agar manusia segera sadar dan bertaubat atas segala kesalahannya.

‘’ Demikian halnya dengan perbuatan maksiat, seperti praktik ilmu sihir, transaksi riba, perzinahan, korupsi, ingkar janji, dan lain sebagainya. Semua ini, dapat menjadi sebab sehingga Allah menurunkan cobaan-Nya, agar menjadi peringatan bagi umat manusia. Kalau bala sudah turun yang terkena tidak hanya orang yang melakukan maksiat saja, tetapi semuanya juga terkena termasuk orang-orang baik yang taat beribadah,’’ katanya.

Kiai Darodji mengatakan hal itu dalam Khotbah Shalat Istisqa atau shalat minta hujan di pelataran selatan kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang, belum lama ini.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi menyampaikan khotbah Shalat Istisqa atau shalat minta hujan di pelataran selatan kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi menyampaikan khotbah Shalat Istisqa atau shalat minta hujan di pelataran selatan kompleks Masjid Raya Baiturrahman, Jalan Pandanaran 126, Simpanglima Semarang. (suaramerdeka.com/Agus Fathuddin Yusuf)

Pengurus Takmir Masjid Raya Baiturrahman Drs H Mutlazam menjelaskan, shalat dilaksanakan sekitar pukul 13.30 saat terik matahari begitu panasnya. Sehingga banyak jamaah yang memilih berteduh di bawah pohon dan di bawah menara masjid. Bertindak sebagai imam KH Ulil Abshor Alhafidz.

Pada kesempatan itu para jamaah diajak membaca istighfar sebanyak-banyaknya sambil menyesali atas dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya baik dosa kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia. Tak sedikit diantara mereka yang meneteskan air mata saat memanjatkan doa tersebut.

Turun Hujan

Menurut Kiai Darodji, hujan adalah karunia Allah swt yang sangat besar manfaatnya untuk manusia. ‘’Manusia tak akan bisa hidup tanpa air bahkan segala yang hidup diciptakan oleh Allah dari air,’’ katanya sambil mengutip Alquran surat Al-Anbiya ayat 30.

Dikatakan, air hujan juga menjadi bukti ketergantungan umat manusia kepada Allah swt. Mereka senantiasa butuh air kapan saja dan dimana saja. ‘’Manusia setinggi apapun, tidak akan pernah bisa hidup tanpa karunia dari Allah. Tetapi kadang keangkuhan  dan sifat takabur umat manusia mengemuka dalam kehidupan manusia sehingga mengundang murka Allah dalam berbagai bentuk cobaan yang Allah turunkan atas mereka,’’ katanya.

Menurut Kiai Darodji, cobaan-cobaan tersebut ditimpakan atas umat manusia, agar mereka sadar akan kesalahan dan sifat kesombongan yang telah dilakukan antara lain kekufuran dan kemaksiatan yang telah diperbuat.

‘’Kekufuran, berupa penistaan terhadap agama Islam, dan mengubah-ubah hukum Allah. Atau sifat kemunafikan, yaitu kesetiaan kepada kaum kafir dan kekufuran sehingga melecehkan kaum muslimin. Atau menuduh para sahabat Nabi sebagai kaum kafir, dan murtad,’’ katanya.

Menurut Kiai Darodji, telah banyak orang mengeluh tentang kondisi musim kemarau yang panjang, dan hujan yang belum juga datang, sehingga mengakibatkan kekeringan dan kerusakan di banyak wilayah tanah air. Setelah bencana  kabut asap, kebakaran hutan, gagal panen, kini ada masalah lagi, yaitu  air tanah yang telah menipis, air gunung, dan sungai yang semakin berkurang, padahal air adalah kebutuhan vital bagi manusia

‘’Kita sadar betul bahwa bumi ini adalah milik Allah, tiada kuasa bagi manusia untuk menghindar dari terangkatnya nikmat oleh-Nya. Kita sadar pula bahwa kondisi ini tidak lepas dari kesalahan kita,’’ katanya.

Maka menyadari kesalahan dan bertobat menurut Ketua Umum MUI Jateng itu adalah jalan terbaik untuk mengembalikan nikmat tersebut. ‘’Bertobat dengan segenap kesadaran dan keikhlasan, kembali kepada aturan dan perintah Allah, meninggalkan perilaku yang dimurkai oleh Allah. Bertobat kepada Allah, menjadi penghapus atas segala kesalahan, dan juga pembuka pintu rahmat Allah.


(Agus Fathuddin/CN40/SM Network)