• KANAL BERITA

Ikut Program Internasional, Pelajari Budaya Negara Lain

SEMINAR INTERNASIONAL: Narasumber asal Thailand Sutraphon Tantiniranat saat memaparkan materi seminar internasional di kampus II UPGRIS. (Foto suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
SEMINAR INTERNASIONAL: Narasumber asal Thailand Sutraphon Tantiniranat saat memaparkan materi seminar internasional di kampus II UPGRIS. (Foto suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com- Mahasiswa program studi (prodi) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berpeluang mengikuti program internasional ke luar negeri, seperti Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dan SEA Teacher. Kemampuan bahasa Inggris jadi syarat mutlak buat mahasiswa yang ikut program internasional. Selain itu, mereka juga perlu mempelajari budaya negara lain, tempat penyelenggaraan program tersebut.

Demikian diungkapkan Kepala Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, FPBS UPGRIS, Dr Jafar Sodiq MPd di sela-sela seminar internasional bertemakan "Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Konteks Antarbudaya" di kampus II UPGRIS. "Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris kerap ikut program internasional, seperti PPL ke Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Seminar ini penting diikuti mahasiswa untuk menambah pengetahuan budaya negara lain, sehingga mereka bisa cepat adaptasi kalau ikut program internasional," kata Jafar.

Menurut dia, program internasional lainnya SEA Teacher yang diselenggarakan <I>Southeast Asian Ministers of Education Organization<P> (SEAMEO) atau Organisasi Kementerian Pendidikan di ASEAN. Kegiatan ini merupakan pertukaran mahasiswa jurusan kependidikan yang melakukan praktik mengajar di negara-negara ASEAN. Seminar yang dibuka Wakil Dekan II FPBS UPGRIS Dr AB Prabowo AK MHum diikuti 300 mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa Inggris dan dosen.

Dua narasumber dihadirkan yaitu tamu dari Departemen Bahasa Asing, Burapha University, Thailand, Sutraphon Tantiniranat serta Kaprodi S2 Pendidikan Bahasa Inggris UPGRIS Siti Nur'aini MHum PhD yang lulus program doktor pada universitas di New Zealand. Di sisi lain, Prabowo mengemukakan, penguasaan bahasa Inggris ini jadi tuntutan, baik bagi dosen maupun mahasiswa. Sebab, mereka cepat atau lambat akan mengikuti program pertukaran dosen dan mahasiswa, dengan mitra universitas dari luar negeri.


(Royce Wijaya/CN19/SM Network)