• KANAL BERITA

Ikut Koperasi Milenial, Dijamin Tak Ketinggalan...

APLIKASI MY COOP: Seorang pelajar menunjukkan aplikasi My Coop yang telah diluncurkan oleh Koperasi Unsoed (Kopkun) Purwokerto beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com / Susanto)
APLIKASI MY COOP: Seorang pelajar menunjukkan aplikasi My Coop yang telah diluncurkan oleh Koperasi Unsoed (Kopkun) Purwokerto beberapa waktu lalu. (suaramerdeka.com / Susanto)

TAHUN  2010, Melinda Puspita Dewi (30) ibu rumah tangga muda asal Purwokerto sewaktu masih mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto hanya mengenal Koperasi Unsoed (Kopkun) sebagai koperasi dengan unit usaha berupa toko swalayan di depan kampus Purwokerto tersebut. Waktu itupun ia turut bekerja paruh waktu di swalayan Kopkun tersebut.

Namun 2019 ini Kopkun telah berevolusi cepat. Koperasi yang dulu di mata anak muda ketinggalan jaman, kini telah berubah drastis. Dengan kreativitas anak muda penggerak koperasi, Kopkun menjadi koperasi milenial yang inovatif. Bahkan Kopkun melalui Kopkun Institute telah melakukan berbagai terobosan digitalisasi koperasi hingga menginkubasi  berbagai bisnis Star Up yang digeluti dan diminati anak-anak muda di eks Karesidenan Banyumas.

"Dulu saya kenal Kopkun itu koperasi itu saja. Ternyata kini sudah berubah cepat, Kopkun tak hanya usaha ritel saja, tetapi simpan pinjam lainnya. Melalui aplikasi 'mycoop' dan 'saktilink' dari Kopkun Insitute semua yang tadinya terbilang mustahil kini bisa terlaksana. Pokoknya ikut  Kopkun tak akan ketinggalan. Semua juga bisa menjadi anggota Kopkun," jelasnya anggota aktif Kopkun ini.

Melalui aplikasi Mycoop inilah, Melinda bisa melakukan banyak hal. Melinda bisa berbelanja berbagai kebutuhan dengan hanya memanfaatkan 'merchant' mitra dari Kopkun. Di dalam My Coop, misalnya telah ada aplikasi Beceer, bagi yang ingin berbelanja sayur secara online. Ada juga Pedihelp, layanan bagi konsumen yang ingin menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

"Di dalam aplikasi My coop ini juga banyak fitur lainnya untuk kebutuhan transaksi online lainnya. Karena ada aplikasi ini juga menyediakan e money yang bisa dimanfaatkan untuk bertransaksi ke berbagai merchant mitra Kopkun lainnya," ujarnya.

Digitalisasi Koperasi

Digitalisasi koperasi menurut Direktur Kopkun Institute, Firdaus Putra Aditama merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan, jika koperasi ingin terus hidup. Digitalisasi koperasi menjadi kontekstualisasi koperasi menghadapi era industri 4.0. Untuk itulah berbagai proses organik mengembangkan koperasi milenial terus dilaksanakan terus menerus.

"Kita mengorganisasi secara harian bukan programatik, jadi bisa dikatakan sudah ada target tujuan di sana. Sehingga kita bersama terus berproses menuju ke sana dengan membangun pilar-pilar termasuk digitalisasi koperasi ini," ujar pegiat koperasi Asia ini.

Salah satu pilar digitalisasi koperasi itu adalah melalui aplikasi Sakti Link dimana melalui aplikasi yang merupakan 'saudara dari aplikasi  my coop,  inilah, memungkinkan interkoneksi antar koperasi di Purwokerto. Saat ini telah terjalin koneksi digital lima koperasi di Purwokerto antara lain Kopkun, CU SAE, NEU RSUD Banyumas, KSP Kopkun, KSU Kopkar Purbalinggga.

"Dengan ini maka layanan koperasi ini saling terhubung. Seperti ATM Bersama, kita bisa nabung di Kopkun dan bisa menarik tabungan di koperasi yang berjejaring tersebut," katanya.

Selain interkoneksi antar koperasi, kini juga sedang dan terus digarap interkoneksi koperasi dengan  Usaha Kecil Menengah (UKM). Dengan ini masyakarat termasuk anggota koperasi bisa bertransaksi dengan  merchant  (warung) yang telah terkoneksi dengan koperasi.

"Dalam waktu tiga bulan misalnya telah terkoneksi 200 merchant termasuk warung rames dan sebagainya di sekitar kampus. Maka untuk memanfaatkannya, masyarakat cukup dengan scan barcode maka akan langsung terjadi transaksi  cashless  (non tunai). Jadi dalam hal ini koperasi menjadi  backbone  digital payment bagi UKM," jelasnya.

Firdaus menyatakan proses ini tidak bisa dilaksanakan serta merta, namun perlu proses. Meski demikian ia optimis, dengan terjalinnya ekosistem perkoperasian, maka interkoneksi koperasi dengan UKM di wilayah Banyumas bisa dilaksanakan sehingga pilar digitalisasi koperasi bisa tercukupi.

"Dari lima koperasi yang telah terkoneksi ini  ditarget mempunyai 1000 merchant maka telah berjejaring 5000 merchant. Makanya kita dorong, interkoneksi antar koperasi ini terus bertambah.  Ini butuh kerja keras dan kerja bersama sehingga pilar-pilar digitalisasi koperasi ini kokoh," ujarnya.

Melihat prospek dunia digital yang makin massif, maka pemangunan model-model baru koperasi mulai dilaksanakan. Untuk itulah Kopkun dengan lembaga inkubator bernama Ino Circle terus mendorong lahirnya  start up coop  yang dikemudikan oleh generasi milenial.

Bersama dengan akademisi, Firdaus yang juga masuk dalam tim perumus Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bidang berkoperasian juga mendorong tumbuhnya praktika-praktika koperasi di wilayah perguruan tinggi. Dengan pencangkokan perkoperasian di ranah kampus inilah diharapkan praktik koperasi bisa disegarkan kembali.

"Jadi koperasi adalah investari jangka panjang bagi milenal sehingga ke depan bisa muncul berbagai model koperasi yang tepat bagi milenial, jadi tak melulu cuma toko, usaha simpan pinjam saja. Berawal dari Purwokerto, inovasi-inovasi koperasi ini diharapkan semakin tumbuh hingga ke nasional," katanya.

Saat ini integrasi usaha kecil menengah dengan koperasi dalam bentuk Venture Builder Cooperative juga mulai diujicobakan. Melalui model ini, memungkinkan koperasi mempunyai anak usaha berupa usaha rakyat atau UKM. Untuk mewujudkan hal inilah, proses penyadaran dan persamaan langkah membangun koperasi berdasarkan filosofi awal koperasi harus ditekankan.

Proses-proses pembangunan ekonomi di Purwokerto telah berjalan secara organik di masa lalu bahkan abad ke-19 di masa pemerintah Kolonial Belanda. Di masa pendiri koperasi yaitu De Wolf Van Westerrode ataupun Raden Wiryatmaja, Purwokerto bukan hanya ada koperasi, tetapi ada Bank Rakyat, Badan Kredit Desa, Lumbung Desa dan Pegadaian.

"Melampaui perdebatan siapa Bapak Pendiri Koperasi yaitu De Wolf Van Westerrode ataupun Raden Wiryatmaja, nyatanya koperasi tumbuh dari Purwokerto hingga sekarang. Makanya saat ini kita berharap dan harus optimis bahwa Purwokerto bisa kembali menjadi laboratorium model-model inovasi koperasi yang baru bagi milenial khususnya," ujar lulusan Sosiologi Unsoed Purwokerto ini.

Mantan Menteri Koperasi dan Pembinaan Usaha Kecil, Subiakto Tjakrawerdaya saat berkunjung dan bertemu pegiat koperasi di Cilongok, Banyumas beberapa waktu lalu, menyatakan koperasi adalah wadah gotong royong para anggotanya. Dengan koperasi, para anggota koperasi akan saling membantu mengentaskan diri dari lingkaran kemiskinan.

"Koperasi ini menjadi wadah gotong royong dan pendidikan bagi anggotanya. Dengan berkoperasi, para anggota koperasi bisa keluar dari lingkaran setan kemiskinan menuju lingkaran kesejahteraan," jelasnya.

Meski demikian, Subiakto menegaskan pegiat koperasi harus selalu meningkatkan pengetahuan sesuai jamannya. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi bagi anggota dan pengurus koperasi saat ini menjadi mutlak diperlukan. Tanpa beradaptasi dengan kemjuan teknologi informasi, maka koperasi bisa tertinggal dan ditinggalkan.

"Jadi selain prinsip gotong royong, dalam berkoperasi saat ini juga harus cerdas memanfaatkan teknologi informasi. Selain itu keberlangsungan lingkungan juga harus diperhatikan agar koperasi terus  hidup di segala jaman," tegas pria asal Cilacap ini.


(Susanto/CN26/SM Network)