• KANAL BERITA

Transformasi Koperasi Berbasis Aplikasi

Pedagang Pasar Wage Purwokerto merapikan dagangan. Masyarakat kini semakin mudah berbelanja di pasar tradisional karena order barang berbasis aplikasi. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)
Pedagang Pasar Wage Purwokerto merapikan dagangan. Masyarakat kini semakin mudah berbelanja di pasar tradisional karena order barang berbasis aplikasi. (suaramerdeka.com/Puji Purwanto)

PRIA berjaket hijau bertuliskan Beceer di bagian punggung telihat sedang berbelanja sayuran di Pasar Wage Purwokerto. Ada beberapa komoditas yang dibeli, seperti cabai, bawang merah hingga sayuran.

Ia hampir setiap hari berbelanja, meski pun barang yang dibeli tidak banyak. Rata-rata pembelian antara seperempat kilogram per item. "Sekarang apa-apa serba mudah. Belanja di pasar saja sekarang menggunakan aplikasi," kata pedagang Pasar Wage Purwokerto, Tono.

Perkembangan teknologi di era revolusi industri 4.0 telah memberikan keuntungan bagi pedagang pasar tradisional. Pedagang yang sebelumnya hanya melayani cara konvensional sekarang lewat online. Selain memudahkan juga membantu penjualan barang yang dijual para pedagang.

Beceer merupakan aplikasi delivery untuk kebutuhan dapur, seperti bumbu, sayuran dan komoditas bahan pangan lain yang dibeli dari mitra pedagang pasar tradisional dan menjamin kualitas barang segar. Aplikasi ini sudah ada di Google Playstore.

Sebelum cari aplikasinya, beli handphone di sini dulu ya.

Star up yang dikembangkan oleh anak muda asal Purwokerto dirancang untuk membantu ibu rumah tangga yang tidak sempat berbelanja ke pasar. Melalui aplikasi ini ibu rumah tangga tidak perlu lagi repot ke pasar karena bisa memesan sayuran mau pun bumbu dapur melalui aplikasi.

Fonder dan CEO Beceer, Bayu Lukman Yusuf menuturkan, pada awal dikenalkan ke masyarakat, transaksi lewat aplikasi Beecer sedikit. Hanya lima kali per hari. Kemudahan berbelanja di pasar ini ternyata tidak langsung mendapat respons positif dari publik.

Namun, ia terus mempromosikan baik lewat media sosial, flyer maupun memanfaatkan influencer lokal. Promosi ini memberi dampak positif. Masyarakat mulai kenal. Saat ini, orang yang mengunggah aplikasi jumlahnya 2.800 dan pengguna aktif 2.200.

Jumlah pemesanan komoditas bahan pangan lewat aplikasi 200 transaksi per bulan. Nilai transaksi mencapai antara Rp 70 ribu per orang. "Kebanyakan para pengguna aplikasi adalah warga perumahan. Mereka tidak sempat ke pasar," kata Bayu.

Co-Fonder Beceer, Almira Faiz Faradilla menambahkan, saat ini mitra pedagang baru dari pedagang Pasar Wage Purwokerto. Namun, tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan lagi ke beberapa pasar tradisional lain. Apalagi, di Banyumas terdapat banyak pasar tradisional. Ini menjadi potensi sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda.  

"Semua komoditas di pasar tradisional bisa dipesan lewat aplikasi. Kami mencoba memodernisasikan pasar tradisional dan mendigitalisasikan produk di pasar tradisional," kata dia.

Berbasis Koperasi

Start up yang dibangun ini akan berbasis koperasi. Fonder dan Co-Fonder akan menekankan sistem demokrasi. Semua yang terlibat menjadi anggota. Bahkan, tidak menutup kemungkinan para pedagang pasar yang menjadi mitra menjadi anggota koperasi.

Berbeda dengan start up lain, biasanya dikuasai oleh pemodal. Sedangkan start up berbasis koperasi mengacu pada sistem jati diri koperasi. "Nantinya akan menjadi Co-op Worker (koperasi pekerja)," ujar Almira, didampingi Co-Fonder Beceer, Slamet Waluyo.

Perkembangan bisnis start up mendapat perhatian dari Innocircle Initiative. Lembaga ini merupakan inkubator start up Purwokerto yang juga turut mengembangkan ekosistem start up co-op bergeliat dan tumbuh di Banyumas.

"Kami sudah menginkubasi beberapa start up. Yang sudah tahap pendanaan ada 3 start up co-op. Sedangkan 15 start up lain masih dalam tahap prototype atau menentukan pasarnya," kata Fonder Innocircle Initiative, Anis Saadah.

Anis mengatakan semua start up yang diinkubasi ini tata kelolanya berbasis koperasi. Sebab, melihat ekosistem start up di luar sudah tidak sehat. Jadi apa yang terjadi di luar, mereka cuman punya ide dan dijual ke investor. Mereka dapat dana dan mengeksekusi tanpa mereka tahu apakah bisnis ini ada pasarnya atau tidak.

"Ini yang terjadi saat ini. Anak-anak muda hanya menjual ide saja tapi tidak bersungguh-sungguh sebagai entrepreneur," ujarnya.

Karena itu, Innocircle Initiative menawarkan alternatif model koperasi di mana pemilik ide, pemilik bisnis harus memiliki sasaran pasar terhadap barang dan jasa yang ditawarkan.

Alternatif koperasi, kata dia, menjadi bagian dari kampanye Kopkun Institut mengajak anak-anak muda bergabung ke koperasi dengan lini bisnis start up. Anak muda perlu berkoperasi sebagai upaya regenerasi. Regenerasi koperasi penting untuk mengikuti perkembangan zaman.

Pembina Kopkun Institut, Herliana mengatakan saat ini star up berkembang luar biasa. Namun sedikit sekali, start up berbadan hukum koperasi. Mayoritas berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT).

Untuk itu, Innocircle Initiative memberikan pendampingan start up berbasis koperasi. Ini merupakan bentuk kampanye koperasi kepada generasi milenial. Sebab, kebanyakan gerakan koperasi saat ini berisi para orang tua. Generasi milienial tidak akrab dengan koperasi karena dianggap koperasi zaman dulu (zadul).

"Kami melakukan pendekatan dengan start up, bahwa usaha rintisan bisa berbadan hukum koperasi," katanya.

Ia menambahkan, apabila start up Beceer berkembang secara nasional, para pedagang pasar tradisional tidak perlu takut kalah saing dengan swalayan atau toko modern, karena mereka jualannya lewat aplikasi. Dan menariknya karena Beceer ini koperasi, para pedagang ini akan jadi pemilik aplikasi.

Saat ini Innocircle Initiative yang merupakan bagian dari Kopkun Institut menargetkan 100 start up binaan dalam jangka panjang. Ketika start up-start up ini berkembang, maka akan terjadi perubahan perekonomian. Koperasi start up yang diisi generasi milenial juga akan mengubah wajah koperasi Indonesia.

Karena itu, ia minta UU Koperasi harus lebih akomodatif terhadap perkembangan dunia usaha. Kalau tidak, koperasi tidak dapat masuk dunia usaha gara-gara terkendala jumlah anggota.

Ketua Dekopinda Banyumas, M Arsad Dalimunte mengemukakan, generasi milenial saat ini akan berposisi di garda terdepan perjuangan koperasi. Ini bagian dari cara mengampanyekan memodernisasi dan kekinian zaman dari tata kelola usaha koperasi.

Koperasi tidak ingin gagap zaman dan memiliki kemampuan dalam merespons dinamika dengan smart tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga perjuangan ekonomi kerakyatan.

Koperasi di Banyumas yang sudah mulai melakukan adaptasi, diantaranya koperasi-koperasi yang didalamnya terdapat generasi muda, seperti Koperasi Karya Utama Nusantara (Kopkun) Purwokerto.

Koperasi itu peduli dalam pengembangan teknologi aplikasi kaitannya dengan revolusi industri 4.0. Bahkan mereka mengembangkan star up berbasis aplikasi. Pengembangan ini untuk menciptakan ekosistem start up berbasis koperasi.


(Puji Purwanto/CN40/SM Network)