• KANAL BERITA

Produk Ecoprint Tembus Pasar Luar Negeri

Retno Winarti memperlihatkan hasil karya ecoprint di showroomnya Dusun  Karangmojo, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. (suaramerdeka.com/Amelia Hapsari)
Retno Winarti memperlihatkan hasil karya ecoprint di showroomnya Dusun Karangmojo, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. (suaramerdeka.com/Amelia Hapsari)

SLEMAN, suaramerdeka.com - Karya ecoprint beberapa waktu terakhir cukup marak digandrungi. Tren itu dibaca sebagai peluang emas oleh para produsen yang menggeluti bisnis kriya tekstil. Perajin ecoprint kemudian banyak bermunculan.

Satu di antaranya beberapa produsen ecoprint itu adalah Retno Winarti, warga Dusun Karangmojo, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Mulai merintis usaha ecoprint sejak tahun 2017, Retno kini mampu mengantongi omset rata-rata Rp 30 juta per bulan. Dia yakin dapat bertahan di tengah derasnya gempuran persaingan bisnis.

"Produk serupa memang banyak tapi saya berani bersaing soal harga, bisa nego," ucap ibu dua anak itu saat dijumpai di rumah sekaligus tempat usahanya.

Sama seperti ecoprint pada umumnya, Retno juga menjual produk berupa kain, baju, tas, dan kerudung. Harganya berkisar Rp 100.000-Rp 400.000. Per bulan, dia bisa menghasilkan sekitar 100 lembar kain ukuran 2,25 meter atau 50 pieces baju.

Dalam menjual produknya, Retno menggunakan sistem konsinyasi di toko batik, dan secara online. Pemasarannya tidak hanya di dalam wilayah Indonesia tapi juga merambah luar negeri seperti Swiss dan Australia. "Pembelinya orang Indonesia yang tinggal di luar negeri. Meski masih sebatas order pribadi, mudah-mudahan bisa mengenalkan produk ecoprint ke manca negara," ujar dia.

Pasarkan produk anda secara online. Tetapi harus beli handphone tercanggih dulu.

Perempuan 41 tahun itu menuturkan, jalan menuju pencapaian wirausahanya tidaklah mudah. Dia dan suaminya, Yonanta (42) sebelumnya adalah pekerja kantoran. Mereka kemudian memutuskan resign dan membuka usaha sendiri. Maka dinamailah bisnis tersebut dengan brand Hijrah Creative.

Ketrampilan Retno membuat ecoprint didapat dari pelatihan yang selanjutnya didalami secara otodidak. Proses trial and error untuk mendapatkan hasil ecoprint yang dinilainya sempurna pun tidak mudah. Butuh waktu tiga bulan.

"Awalnya saya kerjakan sendiri tapi sekarang sudah dibantu dua orang tenaga produksi," ungkapnya.

Dalam membuat ecoprint, Retno menggunakan teknik steam. Jenis daun yang digunakan untuk menciptakan motif antara lain cemara, jarak kepyar, ketepeng, eucalyptus, jenitri, dan daun lanang. Bahan-bahan itu sebagian diperoleh dari pasar, dan ada pula yang diambil dari kebun. Dari sekian jenis daun itu, yang paling diminati oleh konsumen adalah jati dan lanang karena bisa menjejakkan warna dan motif dengan jelas.


(Amelia Hapsari/CN40/SM Network)