• KANAL BERITA

Dari Kota Santri, Blangkon dan Peci Jadi Filter Disrupsi Informasi

SULUK BUMI KOTA SANTRI : Kegiatan Suluk Bumi Kota Santri yang rutin digelar oleh Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, menyatukan seni dan budaya Islami Jawa, untuk memperkokoh NKRI. (Foto suaramerdeka.com/Nur Khaeruddin)
SULUK BUMI KOTA SANTRI : Kegiatan Suluk Bumi Kota Santri yang rutin digelar oleh Lesbumi PCNU Kabupaten Pekalongan, menyatukan seni dan budaya Islami Jawa, untuk memperkokoh NKRI. (Foto suaramerdeka.com/Nur Khaeruddin)

DARI Kota Santri, Kabupaten Pekalongan, sekumpulan masyarakat mengenakan blangkon dan peci, setiap beberapa bulan sekali berkumpul bersama para pejabat setempat, di antaranya adalah KH Asip Kholbihi, bupati bergelar sosial kiai atau tokoh agama disegani, di salah satu daerah Jawa Tengah itu.

Kelompok masyarakat yang rutin menduduki balai-balai kecamatan, untuk berkumpul dalam sebuah kegiatan bernama Suluk Bumi Kota Santri itu, adalah Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi), di bawah naungan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) 

Seperti saat malam bersamaan peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74, 18 Agustus 2019 lalu, di Balai Kecamatan Sragi. Tampak mereka berkumpul dengan kekhasan busana dilengkapi tutup kepala blangkon,  adat Jawa, dan sebagian mengenakan peci, penutup kepala yang sering dikenakan kaum laki-laki muslim untuk berbagai kegiatan keagaman.

Mereka bertutur santun, bercengkerama ala seniman dan budayawan, memecah keheningan malam sisi barat daerah santri. Perkuatan kearifan lokal, menjadi sebuah tema rutin pembahasan setiap pertemuan, dengan titik berat pada persatuan dan kesatuan, NKRI harga mati. Karena acara Suluk Bumi Kota Santri, mengambil sebuah kata kearifan budaya santri yakni suluk yang memiliki arti spiritual .

Kala itu terbersit sebuah pertanyaan, kehadiran orang nomor satu di Kota Santri yang selalu hadir setiap kegiatan di gelar. Ketika dilontarkan, muncul memori 13 Mei 2018, dimana salah seorang warga terlibat kasus terorisme.

Agus (33), warga Desa Kalimade, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, tertembak tim Densus 88, saat akan melakukan aksi pengeboman. "Ini menjadi pemikiran keras saya, dan selalu ada dalam memori, karena warga itu berada di desa agamis. Namun bisa teracuni menjadi pengikut garis perusak negara," kata bupati.

Kepala daerah peraih Santri Award 2018 itu megaku kaget, lantaran di daerah dengan pemegang tatanan budaya Jawa unggah-ungguh atau tata krama, tepa slira atau toleransi kuat, serta budaya kearifan lokal santri yang mengajarkan kebaikan, ada warga berperilaku sangat tidak terpuji.

"Budaya santri, sebagai budaya agamis. Orang tua-tua kita di lingkungan agamis, selalu mengajarkan anaknya secara baik, dengan suluk atau laku spiritual menuju jalan Allah, sebagai benteng agar terhindar dari kemaksiatan. Akidah dan budaya toleran yang diajarkan orang tua sudah tidak ada. Orang tua kita tidak pernah ada seperti itu, tapi sekarang ini justru ada anak seperti itu," ungkapnya.

Globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi, yang memunculkan era disrupsi, disinggung-singgung sebagai salah satu faktor, yang mampu menerobos benteng akidah dan budaya toleran ajaran orang tua masyarakat kota kecil berbasis agamis.

Era pergeseran dari dunia nyata ke dunia maya, melalui sarana gadget atau daring, diakui memudahkan aktivitas masyarakat dan menjadi sebuah keuntungan bagi pergerakan peradaban manusia, sebagai sebuah manfaat besar dalam seluruh aspek kehidupan.

Namun ketika perubahan tidak diimbangi dengan adaptasi dan dicerna secara mentah-mentah, menjadikan disrupsi dalam informasi mampu menjerumuskan. Budaya dan agama dijadikan isu menarik untuk disalahgunakan para oknum dalam era disrupsi seperti sekarang ini, melalui media penyebaran informasi global.

Piranti digital, dimanfaatkan para perusak generasi bangsa, untuk melakukan serangan dengan menebarkan kabar-kabar bohong atau hoax. Sedangkan agama dan budaya sebagai kedok, untuk menutupi kebohongan para pelaku cyber crime, dalam merasuki masyarakat.

"Dari berbagai kasus, orang-orang terjerumus dalam disrupsi informasi, baik pengunggah status-status meresahkan atau kebencian, sampai terorisme, berdasarkan penganalisaan, merupakan orang-orang pendiam, berada pada lingkungan komunikasi salah, bukan komunikasi dengan keluarga, bahkan komunikasi orang tua. Suka mengurung diri dan sebagainya," lanjut Asip.

Hal itu sama seperti terjadi pada warga yang tertembak mati Densus pada kasus terorisme tahun lalu. Setelah ditelisik langsung oleh Kiai Asip Kholbihi, ternyata bercirikan sikap yang sama, yaitu pendiam dan sering mengurung diri, serta berkomunikasi dengan lingkungan salah dari luar, tidak pernah berkomunikasi dengan lingkungan sendiri, juga keluarga.

"Saya mencoba menelisik langsung, bahkan pada saat itu, ramadan tahun lalu, melakukan salat tarawih di lingkungan dekat rumah pelaku terorisme. Ternyata lingkungannya benar-benar baik, dan menolak terorisme. Ini menunjukkan, faktor luar dan pergeseran era yang menjadi sebuah pengaruh besar," terang dia.

Pemberdayaan Masyarakat

Jawaban dari sebuah pertanyaan kenapa bupati selalu hadir dalam setiap kegiatan Lesbumi bertajuk Suluk Bumi Kota Santri ditemukan. Yaitu sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan kelompok masyarakat, yang memupuk persatuan dan kesatuan bangsa, dengan mengedepankan kearifan lokal.

Karena Kabupaten Pekalongan sebagai Kota Santri, dan berada di Provinsi Jawa Tengah, memegang teguh budaya Jawa. Budaya antara blangkon dan peci, sebagai kearifan lokal, diharapkan mampu menjadi filter disrupsi informasi. 

"Ini merupakan salah satu pemberdayaan masyarakat, untuk selalu bertukar fikir, membahas perkuatan NKRI harga mati. Karena saya juga menerapkan beberapa kebijakan, menggerakkan sendi-sendi religiusitas dan budaya," lanjutnya.

Sang kiai dalam memimpin pembangunan daerah, menyatakan tidak hanya membangun fisiknya saja, tapi juga pembangunan sumber daya manusia (SDM) berbasis nilai-nilai seni dan budaya. Pembangunan manusia lahir dan batin. 

Batin manusia diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan, serta nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat. Dengan kata lain, unsur-unsur yang merupakan materi atau bahan pembangunan, tidak lain diangkat dari pandangan hidup masyarakat sendiri.

Fenomena era disrupsi, menjadikan pentingnya penyatuan semua elemen masyarakat, melalui sebuah komunikasi baik dengan pemerintah, dalam membendung penyesatan informasi era digital seperti sekarang ini, yang sering mengatasnamakan agama serta budaya.

Sehingga peranan tokoh masyarakat, budayawan, dan organisasi masyarakat dalam bermitra dengan pemerintah daerah, penting dalam menempatkan budaya sebagai ujung tombak menjaga persatuan dan kesatuan, untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semilir angin dinginnya malam, giliran menghembuskan sebuah pertanyan lain yang terbersit saat itu. Kenapa blangkon dan peci mewarnai kegiatan?. Gus Eko Ahmadi, Ketua Lesbumi angkat bicara. 

Kota Santri merupakan daerah dengan berbagai kearifan lokal yang telah eksis, dengan seni dan kebudayaannya. Blangkon dan peci merupakan sebuah simbol keragaman perilaku budaya, atau local wisdom Kota Santri yang unik, menarik untuk dipelajari.

Keanekaragaman budaya menjadi sebuah identitas, sehingga diperlukan pemahaman secara baik sebagai nilai dasar ketahanan nasional, serta pemersatu keragaman bangsa. "Kegiatan suluk bumi Kota Santri ini, digelar rutin keliling dari satu kecamatan ke kecamatan lain, untuk melakukan diskusi fenomena yang terjadi, agar dapat menjadi pokok pemikiran memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa," ungkap Gus Eko.

Revolusi teknologi komunikasi dan informasi melalui internet, utamanya bagi pengguna media sosial, dengan perkembangan gawai, gadget atau daring, menjadikan batas teritori seolah tak dikenal. Oknum memanfaatkan kondisi itu untuk merusak mental, memecah belah dengan mengacaukan informasi, dan menebarkan hoax, mengatasnamakan budaya dan agama.

Suryo Sukarno salah seorang aktivis Lesbumi, menyebut fenomena-fenomena demikian yang menjadikan pihaknya tidak mengenal lelah untuk keluar masuk, dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dalam sebuah obrolan ringan berbalut kesenian dan kebudayaan Islami, penuh arti dan diharapkan menjadi sebuah solusi pencerahan dihadapan masyarakat.

"Masyarakat perlu adaptasi dalam menyikapi disrupsi informasi seperti sekarang ini. Karena singkronisasi budaya dan agama, merupakan harmoni kehidupan masyarakat. Ketika ada yang menyalahgunakan melalui sebuah piranti digital informasi, harus ditangkal. Kegiatan kita ini, agar masyarakat bisa menangkalnya," tambah Suryo.

Adi (50), warga Kabupaten Pekalongan mengaku perihatin ketika dunia maya sudah menggeser komunikasi antara orang tua dengan anak. Anak lebih suka berkeluh kesah secara terbuka di dunia maya, ketimbang orang tua atau keluarga.

"Keresahan sebagai orang tua, ketika keluh kesah tersebut ditanggapi oleh oknum dengan komentar menyesatkan. Kalau dengan orang tua atau keluarga, pasti akan mendapatkan tanggapan tidak menyesatkan. Ketika lingkungan keluarga berantakan sekalipun, tidak akan menyesatkan anak atau anggota keluarga lainnya. Pemahaman seperti ini memang perlu terus dikampanyekan oleh kelompok-kelompok masyarakat peduli seperti acara Suluk Bumi Kota Santri ini," tukasnya.

Semilir angin Suluk Bumi Kota Santri, diperhangat Paguyuban Penghayat Kapribaden atau kelompok orang-orang kejawen, yang melakukan kegiatan pertahanan identitas budaya, dengan tujuan sama menolak penyesatan informasi di era disrupsi, agar keberadaan budaya Indonesia tidak dijadikan kedok dalam aksi-aksi cyber crime.

Pada tempat terpisah, kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan paguyuban bertempat di Desa Sinanggohprendeng, Kecamatan Kajen itu, di setiap awal tahun sistem kalender Jawa, juga rutin menggelar kegiatan kebudayaan peringatan Goro Suro, atau peringatan awal tahun pada sistem kalender Jawa, dengan pergelaran wayang kulit.

Ketua Paguyuban Penghayat Kapribaden Jawa Kabupaten Pekalongan, Th Danil Riyanto menyebut pertahanan kepribadian Jawa sebagai kearifan lokal harus terus dijaga, mulai dari pengenaan pakaian adat Jawa dan bahasa pengantar Krama Inggil.

Agar identitas Jawa tersebut tak tersingkirkan oleh disrupsi, karena sekarang ini pergeseran dunia nyata ke dunia maya, di lingkungan era milenial, menjadikan kearifan lokal sangat asing bagi kaum milenial.

Seperti kearifan lokal Jawa dengan bahas santun orang tua, dan busana anggun, hanya diketahui saja oleh generasi Z yang digadang-gadang sebagai generasi emas bangsa. Kaum milenial, tidak familier dengan bahasa pengantar orang tua, atau Krama Inggil, sebagai bahasa halus nan santun.

Mereka hanya bisa menggunakan bahasa Jawa keseharian, serta kurang percaya diri terhadap busana adat istiadat Jawa. Trend mode global berterbangan menghiasi iklan-iklan gawai mereka, yang menjadi life style.

"Acara peringatan Goro Suro ini, agar identitas orang Jawa dapat terus bertahan, dan berlangsung selamanya. Serta ada dari generasi Penghayat Kapribaden Jawa mempertahankannya, kemudian generasi sekarang ini masih dapat mengerti, walaupun sudah asing bagi mereka. Minimal mereka mengetahui dan mengerti," tutur Danil.

Asisten I Setda Kabupaten Pekalongan  Ali Riza, menyampaikan rasa syukur bisa memperingati Goro Suro 1953 wawu di tahun 2019. Budaya Jawa disebut tidak bisa tidak, harus berinteraksi dengan budaya lain. Meski berinteraksi dengan budaya lain di tengah arus global, namun budaya Jawa masih relevan dengan modernitas. 

"Kemampuan adaptasi masyarakat Jawa dalam menerima budaya orang lain sudah tidak diragukan lagi. Artinya budaya Jawa berinteraksi atau bahkan berbenturan dengan budaya lain, mendapatkan apresiasi atas kemampuan adaptasi dan berinteraksi dengan budaya lain," jelas Ali Riza. 


(Nur Khaeruddin/CN19/SM Network)