• KANAL BERITA

Soal Harmonisasi Regulasi, Indonesia Masih Kalah Saing dengan Negara Tetangga

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

JAKARTA, suaramerdeka.com - Terkait dengan harmonisasi regulasi yang berkaitan dengan investasi, pemerintah Indonesia masih kalah saing dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar dan Laos. Hal ini dibuktikan dengan peringkat Indonesia yang berada pada peringkat 117 dari 157 negara untuk indikator integritas sistem hukum.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan mengatakan, secara keseluruhan, Indonesia menempati peringkat ke-68 pada Indeks Global Keterbukaan Ekonomi yang diluncurkan oleh Legatum Institute di Jakarta pada 15 Oktober silam.

"Dengan memperhatikan poin ini diharapkan pemerintah mampu membenahi hal-hal strategis yang berimplikasi langsung terhadap investasi sebagai salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan mengimbangi neraca perdagangan yang masih defisit," kata dia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru mengenai kondisi neraca perdagangan Indonesia menunjukkan kita masih mengalami defisit yang dihitung secara kumulatif dari Januari hingga September bernilai sebesar USD 1,94 miliar. Angka ini didapat dari selisih antara jumlah kumulatif impor dan ekspor pada rentang waktu Januari hingga September 2019. Selama sembilan bulan belakangan ini, Indonesia mencatatkan impor sejumlah USD 126,11 miliar dan ekspor sejumlah USD 124,17 miliar.

Walaupun neraca dagang kita defisit, sambung Pingkan, namun terjadi penurunan agregat dari tahun sebelumnya. Tren pada neraca perdagangan Indonesia saat ini pun dapat dikatakan cukup positif, terlebih jika dibandingkan year on year dengan periode serupa di tahun lalu.

"Secara kumulatif dari Januari hingga September tahun ini, Indonesia mengalami defisit sebesar  USD 1,94 miliar, hampir setengah lebih rendah jika dibandingkan dengan angka pada periode yang sama di tahun 2018 silam yang juga defisit dengan nominal 3,8 miliar dolar AS," katanya.

Untuk bulan September sendiri, USD data BPS menunjukan neraca perdagangan kita defisit sebesar 160 juta dolar AS, lebih buruk jika dibandingkan dengan nominal bulan sebelumnya yang mencatatkan surplus USD 85 juta. Hal ini dikarenakan ekspor pada September 2019 tercatat sebesar USD 14,1 miliar atau turun 1,21 persen dibanding bulan Agustus 2019 atau 5,74 persen year on year di bulan yang sama. Sementara itu untuk impor di bulan yang sama tercatat turun 2,41 persen dibanding periode yang sama tahun lalu


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)