• KANAL BERITA

Gagas Wahana Dolanan Bocah

Lurah Kedungpane

Lurah Kedungpane, Rina Sugimuwarni. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Lurah Kedungpane, Rina Sugimuwarni. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

KEDUNGPANE merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Mijen. Kelurahan ini memiliki banyak potensi dalam hal ekonomi, pariwisata, dan sosial, terutama budaya. Masyarakat yang guyub rukun menjadi faktor pendorong terciptanya desa budaya yang maju. 

Warga RW 1, Rondiyah mengatakan, bahwa kebudayaan dan kesenian selalu dilestarikan. Apalagi ada rencana membuat wahana dolanan bocah. Tentu hal itu akan membantu tumbuh kembang anak-anak. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)
Warga RW 1, Rondiyah mengatakan, bahwa kebudayaan dan kesenian selalu dilestarikan. Apalagi ada rencana membuat wahana dolanan bocah. Tentu hal itu akan membantu tumbuh kembang anak-anak. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Keragaman budaya yang ada di Kedungpane menjadi daya tarik para wisatawan untuk berkunjung. Budaya di Kedungpane terdiri dari adat dan tradisi kehidupan masyarakat serta perpaduan sumberdaya budaya dan alam. 

Warga RW 1, Rondiyah mengatakan, bahwa kebudayaan dan kesenian selalu dilestarikan. Apalagi ada rencana membuat wahana dolanan bocah. Tentu hal itu akan membantu tumbuh kembang anak-anak. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Warga Kedungpane hingga kini masih melestarikan kegiatan budaya turun temurun. Sistem kepercayaan (religi), sistem kesenian, sistem mata pencaharian, sistem sosial dan sistem lingkungan, tata ruang dan arsitektur diaktualisasikan dengan kekayaan potensi yang sudah ada di dalam tatanan masyarakat. 

Adat dan tradisi itu antara lain, kegiatan nyadran. Nyadran, biasanya dilaksanakan untuk menyambut Ramadhan yang digelar di Makam Sasono Loyo. Sedangkan budaya yang merupakan perpaduan antara budaya dan alam yaitu kegiatan Kirab Budaya. Di dalam Kirab Budaya, warga sekelurahan Kedungpane berbondong-bondong membawa hasil bumi yang dibuat dalam bentuk gunungan. Gunungan tersebut kemudian diarak dari Balai Desa menuju waduk.

PEMANDU WISATA: Kelurahan Kedungpane menggandeng Himpunan Pemandu Wisata Indonesia (HPI) untuk melatih para pemuda menjadi pemandu wisata. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Beragam adat dan budaya lainnya yakni pergelaran wayang kulit, nyadran, kuda lumping, seni karawitan, dan barikan (berbagi makanan di jalanan). Lurah Kedungpane, Sugimuwarni menilai budaya gotongroyong juga masih sangat kuat di sini. 

"Setiap pekan kami mengadakan resik-resik waduk. Kami juga melakukan penanaman pohon buah di sabuk hijau. Saat warga dimintai tolong untuk kerja bakti mereka semua langsung datang," tutur wanita kelahiran 1969 itu.

Lanjut dia, kegiatan menarik lain yang masih dilestarikan yaitu panen raya sumberdaya alam. Kekayaan budaya dan pesona alam yang melimpah menurut Rina sangat potensial. 

Di Kampung Jamalsari misalnya, saat ini sedang dibangun sebuah spot unggulan yang dinamakan Bukit Janggleng. Para pengunjung bisa memperoleh sudut pemandangan terbaik Waduk Jatibarang. Selain menawarkan pemandangan eksotik, ada pula pemancingan, spot foto di bukit cinta dan mengelilingi waduk menggunakan perahu.

Wilayahnya, kata Rina, memiliki keuntungan karena berada di dekat wilayah waduk. Waduk itu menjadi pusat budaya empat kelurahan yakni Kelurahan Kedungpane, Kelurahan Jatibarang, Kelurahan Kandri dan Kelurahan Jatirejo.

LOMBA PKK: Lurah Kedungpane, Rina Sugimuwarni menghadiri lomba PKK dalam rangka peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK di Balai Kelurahan Kedungpane. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Rina berencana mengembangkannya lebih baik lagi dengan menggagas wahana dolanan bocah. Dolanan bocah itu nantinya akan melengkapi spot-spot yang sudah ada. 

Nantinya anak-anak akan diajak memainkan beragam permainan tempo dulu seperi egrang, gobaksodor, sugarmanda dan lain sebagainya. Peralatan permainan saat ini sudah tersedia. Rina ingin anak-anak bisa bermain seperti halnya anak-anak tempo dulu.

"Saya prihatin terhadap anak-anak zaman sekarang yang tidak bisa lepas dari gawai. Takutnya, nanti kepekaan soial mereka menjadi hilang," papar ibu tiga anak ini.

Wisata Kuliner

Permainan itu akan dikemas menjadi paket edukasi wisata yang dipadukan dengan wisata kuliner. Sehingga, wisatawan yang telah puas berkeliling bisa menyantap makanan khas di Kedungpane. Salah satunya yakni nasi jantung pisang raja. Makanan ini tidak menggunakan jantung pisang biasa, tapi menggunakan jenis tuntu. 

Selain nasi jantung pisang yang melegenda, ada juga minuman penghangat tubuh, yaitu bir plethok. Minuman ini mengandung jahe emprit yang memiliki rasa khas, kapulaga, cengkih, daun pandan, daun jeruk purut, kayu secang, merica, dan serai.

BUKIT JANGGLENG: Di Bukit Janggleng pengunjung bisa memperoleh sudut pemndangan yang lebih strategis. (suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami)

Tidak hanya itu, selain pesona Waduk Jatibarang yang indah, Kampung Jamalsari juga sedang mengembangkan kampung tematik. Kampung Labu namanya. Ketika memasuki wilayah Kampung Jamalsari, tak jauh dari waduk. Tepatnya di RT 5 RW 2 Anda akan disambut terowongan besi yang ditumbuhi puluhan buah labu. Di setiap gang buah labu bergantung, warga menanamnya setiap musim penghujan tiba.

Diharapkan, Kampung Labu ini bisa menjadi pendukung tempat wisata Waduk Jatibarang. Sehingga menambah variasi tempat kunjungan. 

Selain membuat terowongan, mereka juga ingin membuat Pondok Labu. Pondok labu akan dijadikan sebagai sentra produksi olahan yang terbuat dari labu. Para wisatawan dapat melihat langsung proses pengolahan sampai proses pengemasan. 

"Kami buatkan pondok khusus untuk pembuatan olahan labu. Pondok labu dijadikan pusat pengolahan labu, permen, dodol, keripik, brownis, manisan dan lain sebagainya," ucap dia.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN26/SM Network)