• KANAL BERITA

Sekolah Ramah Anak Wujudkan Komitmen Antiperudungan hingga Antidiskriminatif

SMPN 21 Semarang Deklarasi Sekolah Ramah Anak

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, bersama Plt Kepala SMPN 21 Semarang Suwarno Agung Nugroho (dua dari kanan) saat deklarasi sekolah ramah anak di halaman SMPN 21 Semarang, Selasa (15/10). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, bersama Plt Kepala SMPN 21 Semarang Suwarno Agung Nugroho (dua dari kanan) saat deklarasi sekolah ramah anak di halaman SMPN 21 Semarang, Selasa (15/10). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Wali Kota Hendrar Prihadi telah melakukan deklarasi sekolah ramah anak di SMPN 21 Semarang, Selasa (15/10). Mewujudkan antiperudungan, antikekerasan, dan antidiskriminatif saat ini menjadi komitmen sekolah yang berlokasi di Kelurahan Srondol Wetan, Kecamatan Banyumanik. Kini, SMPN 21 Semarang jadi salah satu dari 14 SMP di Kota Semarang yang telah mendeklarasikan sekolah ramah anak.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala SMPN 21 Semarang, Drs Suwarno Agung Nugroho MM. Sebelum deklarasi, sekolahnya sudah melakukan berbagai tahapan, termasuk sosialisasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang serta Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM). "Sudah sejak 15 Juli lalu saat hari pertama sekolah, kami sudah bersiap mendeklarasikan sekolah ramah anak. Setelah sosialiasasi dari institusi terkait, hari ini (kemarin- ) akhirnya dideklarasikan sekolah ramah anak oleh Wali Kota Semarang," katanya di sela-sela dekarasi.

Menurut dia, SMPN 21 Semarang akan menciptakan suasana pembelajaran menyenangkan. Guru tak boleh diskriminatif, tidak ada kata-kata kasar dalam sistem belajar mengajar di sekolah. Guru juga tidak boleh diskriminasi terhadap murid. Antarsiswa juga harus saling menghormati, tidak boleh melakukan perudungan. Adapun, total siswa SMP 21 kini berjumlah 868 siswa.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, saat deklarasi didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Gunawan Saptogiri SH MM. Menurut Hendi, sapaan akrab wali kota, konsep program ini mencegah kekerasan dengan sekolah ramah anak. Hal ini dilakukan guna memenuhi, menghargai hak-hak anak selama berada di sekolah.

Di sisi lain, Psikolog Rumah Duta Revolusi Mental (RDRM) Semarang, Putri Marlenny P SPsi MPsi, yang hadir dalam deklarasi mengatakan, RDRM ini kerja sama dengan pihak SD dan SMP untuk pencegahan perudungan.

Kerja sama dilakukan bersama kepala sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK). "RDRM ini memberi pertolongan psikologis, sebagai tempat curhat dengan sistem pelaporannya lewat laman atau datang langsung ke kantor. Kami berupaya melakukan pencegahan perudungan serta konselor teman sebaya," jelasnya.

Sudah banyak laporan ke RDRM, tapi tidak berat. Ada yang motivasi sekolah turun karena tak cocok sama orang tua dan konflik antarkelompok sekolah. Khususnya perudungan, ini harus jadi perhatian khusus, karena dampaknya bisa mengakibatkan siswa malas sekolah. Siswa bisa juga depresi, hingga minta pindah sekolah.


(Royce Wijaya/CN40/SM Network)