• KANAL BERITA

Napakake Anak Putu

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

NAPAKAKE (dari kata tapa, menyendiri menjauhi hiruk pikuknya kehidupan dunia dengan menahan hawa nafsu makan, minum, berhubungan suami isteri dan sebagainya untuk.... ) Jadi maksudnya adalah melakukan tirakat atau riyalat (riyadloh) demi kebahagiaan anak cucu. Pasa sepuh dulu memang membiasakan diri dengan "laku" seperti itu.

Dengan bertapa akan diperoleh fikir yang wening (bening/khusyu') sehingga bisa fokus dan berkonsentrasi menghadap Tuhan untuk memanjatkan berbagai permohonan, khususnya untuk anak-cucu agar kehidupan mereka dipenuhi ketenteraman dan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan. Meskipun "laku"nya itu tidak diberitahukan kepada anak-cucu, tetapi mereka tahu bahwa kehidupan yang mereka rasakan  dan mereka nikmati itu tidak lepas dari laku atau "derita" dari para sepuh.

Sebagai balasan mereka benar-benar berbakti kepada para sesepuhnya itu. Apapun yang diinginkan oleh para sepuh mereka lakukan, bahkan ada "pangerten" (pengertian/tahu diri) apa yang harus mereka lakukan, meskipun tanpa diminta oleh para sepuh.

Jarang kita mendengar anak yang berani atau durhaka kepada orang tua, meskipun harus diakui hal itu ada, tetapi persentasenya sangat kecil. Ketika ajakan untuk berpuasa sampai kepada mereka, maka banyak dari mereka yang mengganti tapanya dengan berpuasa. Ada puasa nDawud, ada puasa 40 hari, ada puasa ngebleng, ada puasa mutih dan berbagai puasa yang lain. Niat mereka berpuasa itu selain untuk mereka sendiri juga untuk anak-cucu.

Di antara wujud tirakat para sepuh itu adalah tekad mereka untuk memerdekakan bangsa kita ini dengan perjuangan kemerdekaan sejak zaman penjajahan. Kemudia ada Boedi Otomo, kemudian Sumpah Pemuda, kemudian puasa Ramadhan yang pada hari ke sembilan tahun 1364 kemerdekaan Indonesia dikaruniakan kepada kita.

Kemerdekaan itu adalah kenikmatan tertinggi yang Tuhan berikan kepada kita. Lihat bagaimana mereka memiliki "pangerten" sehingga kemerdekaan itu tidak diklaim oleh bangsa ini sebagai hasil usaha dan keringat mereka semata. Mereka sangat tahu diri sehingga mengakui bahwa kemerdekaan itu adalah "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya ........" nah mereka selain menyadari karunia Tuhan mereka juga mengakui laku para sepuh dengan ungkapan "dan didorongkan oleh keinginan luhur" . 

Keinginan luhur itu adalah laku para sepuh para pejuang kemerdekaan itu. Itulah salah satu bukti sayangnya para sepuh kepada penerusnya. Masihkah generasi penerus kita pangerten terhadap laku kita untuk mereka? Konon kini ada yang memanggil orang tuanya dengan "bokap" dan "nyokap" 

Mungkin pertanyaan itu juga bisa ditujukan kepada kita, adakah kita pangerten terhadap laku/riyalat/riyadhoh orang tua kita ? Masih adakah laku kita demi masa depan generasi penerus ataukah kita akan bermasa bodoh saja ? Mari kita baca S. 66 At Tahrim ayat 6 yang artinya :" Wahai orang-orang yang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". 

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma berkata : “Didiklah anakmu, karena sesungguhnya engkau akan dimintai pertanggungjawaban mengenai pendidikan dan pengajaran yang telah engkau berikan kepadanya. Dan dia juga akan ditanya mengenai kebaikan dirimu kepadanya serta ketaatannya kepada dirimu.”(Tuhfah al Maudud hal. 123). 

(Dr KH Ahmad Darodji MSi, Ketua Umum MUI Jawa Tengah)


(Red/CN26/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar