• KANAL BERITA

Islam Mengatasi Stunting

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

INDONESIA merupakan negara yang memiliki jumlah penduduknya besar. Antara tahun 2020-2030 yang akan datang, Indonesia akan mengalami bonus demografi, di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) memiliki proporsi yang tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 70 persen, dan proporsi penduduk usia non-produktif berada proporsi yang terkecil, sekitar 30 persen. Kondisi ini memberikan keuntungan karena beban yang ditanggung usia produktif jauh lebih kecil sehingga dapat menjadi batu loncatan untuk memajukan negara kita. 

 

Walaupun demikian, Indonesia juga memiliki problem kependudukan. Di samping jumlahnya yang besar, penduduk Indoensia juga menghadapi persoalan stunting, yakni pertumbuhan badan yang terlambat, tidak sesuai dengan yang seharusnya. Stunting juga menjadi indikator kurang baiknya kualitas kesehatan dan taraf hidup masyarakat.

Menurut sumber kependudukan, 37,2 persen anak balita di Indonesia dan 28 persen  di Jawa Tengah masih mengalami stunting. Hal ini tentu saja menjadikan permasalahan tersendiri karena dengan pertumbuhan yang kurang sehat tersebut akan mengganggu produktivitas dan sekaligus akan meninggalkan keturunan yang lemah, yang menurut Alquran harus dihindari, sebagaimana disebutkan dalam an-Nisa’: 9. 

Mengapa bisa terjadi stunting pada balita kita? Pertama, stunting terjadi karena kesehatan yang kurang baik pada orang tuanya. Kedua, stunting terjadi karena kurangnya asupan gizi pada awal kehidupan dan masa balita karena pola pengasuhan yang kurang tepat. 

Bagaimanakah tuntunan Islam untuk menghindari dan mengatasi stunting? Islam sangat memperhatikan pertumbuhan anak di awal-awal kehidupannya. Alquran memberi tuntunan kepada orang tua, khususnya ibu, untuk memberikan asupan gizi yang sangat tinggi nilainya, yakni pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif untuk anak yang baru lahir sampai berumur 2 tahun (QS Luqman: 14).

Dalam kitab-kitab Fiqh juga disebutkan bahwa seorang ibu yang baru melahirkan hendaknya segera memberikan air susunya kepada anaknya. Penelitian kesehatan modern menemukan bahwa air susu yg keluar pertama kali dari seorang ibu yang melahirkan mengandung colostrum, yang sangat baik utk bayi karena mengandung anti bodi atau daya imun bagi si bayi yang sangat baik untuk pertumbuhan dan kesehatan selanjutnya.

Tuntunan yang baik dari Alquran dan kita-kitab Fiqh tersebut saat ini nampaknya kurang diperhatikan oleh masyarakat, khususny ibu-ibu yang baru melahirkan. Hal ini misalnya dari banyaknya ibu-ibu yang tidak segera memberikan air susunya kepada bayinya yang baru lahir. Bahkan banyak di antaranya justru membuang air susunya yang keluar pertama, tidak diberikan kepada banyinya.

Di samping itu, banyak ibu yang menghentikan atau setdaknya mengurangi pemberian susu ibu beberapa bulan setelah kelahiran, jauh sebelum berumur dua tahun serta menggantinya dengan makanan lain. Hal ini menyebabkan bayi dan balita tidak bisa tumbuh secara maksimal sehingga terjadilah apa yang sekarang disebut dengan stunting.

Bila hal ini terus terjadi, maka jumlah kejadian stunting pada balita tidak akan berkurang, bahkan bertambah. Akibatnya, kualitasrendah penduduk Indonesia yang berada pada fase emas bonus demografi tersebut tidak bisa memberikan kontribusi secara maksimal. 

Malapraktik dalam penangan gizi bayi dan balita ini terjadi di antaranya karena rendahnya pengetahuan calon ibu dan ibu muda tentang penanganan dan pengasuhan bayi serta balita. Gaya hidup modern yang lebih menonjolkan kepentingan pribadi ibu, baik karena karir atau yang lain, juga memberi kontribusi yang signifikan.

Karena itu, penyadaran pada pasangan muda melalui pendekatan kesehatan maupun agama sangat diperlukan. Hal ini berarti menjadi tugas tambahan bagi para da’i, di samping menyampaikan pesan-pesan agama yang terkait dengan spiritualitas, juga perlu menyampaikan penyuluhan tentang kesehatan anak di usia awal, baik berdasarkan ilmu kesehatan maupun ajaran Alquran dan kitab-kitab klasik yang masih dan tetapi relevan dengan kehidupan saat ini.

Dengan kontribusi aktif dari para da’i dan semua pihak, terutama keluarga, kualitas penduduk Indonesia di era bonus kependudukan yang akan datang akan semakin baik sehingga kontribusi pada pembangunan semakin besar. 

Wallahu a’lamu bish-showab. (Dr Umul Baroroh MAg, Sekretaris MUI Jawa Tengah).


(Red/CN26/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar