• KANAL BERITA

Mbah Nur Anom, Berpuasa sejak Balita

MAKAM MBAH NUR ANOM ; Mbah Nur Anom wafat dalam usia sekitar 200 tahun dan dimakamkan di pemakaman Kranji (bagian dalam sebelah ujung barat) Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com / dok)
MAKAM MBAH NUR ANOM ; Mbah Nur Anom wafat dalam usia sekitar 200 tahun dan dimakamkan di pemakaman Kranji (bagian dalam sebelah ujung barat) Kabupaten Pekalongan. (suaramerdeka.com / dok)

MBAH  Nurul Anam  atau yang dikenal dengan Mbah Nur Anom, diyakini oleh masyarakat kampung Kranji sebagai founding father-nya kampung Kranji Kelurahan Kedungwuni Timur Kabupaten Pekalongan. Pada pertengahan abad 17,Mbah Nur Anom adalah orang pertama yang mendirikan pemukiman (babad alas) di Kranji yang dahulu adalah hutan belantara. Bersama istri dan putra-putrinya, beliau tinggal di Kranji hingga melahirkan keturunan yang diyakini menjadi cikal bakal masyarakat penduduk Kranji.

 

Beliau telah memberikan sumbangsih dan pengaruh besar bagi masyarakat Kranji, mulai dari membangun pondasi masyarakat Kranji, agama, sosial, ekonomi hingga budaya. Nama beliau pun banyak diabadikan menjadi sebuah nama bangunan fasilitas masyarakat Kranji. Mulai dari yayasan, pondok pesantren, madrasah, aula, hingga balai pengobatan yang diberi nama "Nurul Anam". Hingga sekarang, masyarakat desa Kranji rutin melaksanakan peringatan Haul Mbah Nurul Anam di bulan Rajab untuk mengenang dan meneladani jasa beliau. 

Menurut silsilah, nasab beliau masih tersambung dengan Sunan Ampel, dan jika diruntut keatas lagi, beliau adalah generasi ke 35 dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Silsilahnya yaitu; Nurul Anom bin Kiai Muhammad Nur bin Pangeran Bahurekso (Haji Chafidz) bin Pangeran Cempaluk bin Pangeran Nawa bin Pangeran Aryo Mangir bin Pangeran Pahesan bin Kiai Abdul Muhyi bin Pangeran Trowulan I bin Pangeran Trowulan ll bin Sultan Abdurrahman Campa bin Sunan Ampel bin Sunan Gresik bin Sayid Jumadil Kubro sampai Sayyid Hasan bin Fatimah Az-Zahrah binti Rasulullah Muhammad SAW. 

Kelahiran

Nur Anom lahir di desa Geritan kecamatan Wonopringgo kabupaten Pekalongan pada tahun 1650 M. Beliau lahir sepuluh abad setelah kelahiran Rasulullah SAW. Kelahirannya bertepatan menjelang fajar dini hari pada malam Jumat di awal bulan Rajab. Nama kecil beliau adalah Muhammad Nur Syahthath. Nama Nur Anom diambil karena untuk membedakan dengan Ayah beliau yang sama-sama bernama Muhammad Nur. Jadi, Putranya dipanggil Nur Anom (Muda) dan Ayahnya dipanggil Nur Sepuh (Tua).

Saat kelahiran beliau, tanda karomah sudah mulai tampak, misalnya: setelah lahir, beliau menolak untuk diberi air susu Ibu (ASI) dari waktu shubuh sampai maghrib dan baru mau minum ASI setelah waktu magrib tiba. Kejadian ini berlanjut hingga tiga bulan lamanya, yakni: Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Seorang balita yang sudah berpuasa sejak dini.

Awal pendidikan beliau diperoleh langsung dari Ayah beliau sendiri, Nur Sepuh. Seperti: Sholat lima waktu, Tadabbur Qur’an dan Ilmu-ilmu Agama Islam. Konon, setelah khitan beliau terbiasa melakukan Riyadhoh di samudera selama 25 tahun. 

Menjelang usia remaja, beliau berangkat ke Makkah Al-Mukarromah. Sepulang dari Makkah, sang Ayah memerintahkan Nur Anom untuk segera menikah. Nur Anom bersedia menikah, namun dengan sebuah syarat: diberi sebidang tanah/pekarangan untuk mendirikan tempat ibadah dan mengaji. Ayah beliau pun menyanggupinya, dan pekarangan hutan Asam Kranji resmi menjadi milik Nur Anom.

Dengan memanfaatkan sebuah pohon jati berukuran besar yang diberi nama Setopeng, proses pembangunan tempat ibadah dan mengaji berjalan dengan cukup lancar. Beberpa sumber mengatakan, pembangunan ini beliau lakukan dengan dibantu para murid dari sang Ayah, yang konon berasal dari golongan Jin. Hingga tak diragukan lagi, bangunan megah berhasil berdiri dalam waktu sehari semalam.

Mbah Nur Anom termasuk satu diantara waliyullah tanah jawa yang berhasil mencetuskan murid-murid yang kondang. Diantara murid beliau yang paling masyhur adalah Syeikh Sayyid Bakri Syatha (pengarang kitab I’anat Tholibin) dan Syaikh Nawawi Al-Bantani (Pengarang kitab Nashoihul Ibad dan Tafsir Al-Munir).

Mbah Nur Anom menikah dengan Raden Ayu Siti Maryam binti Kiai Tholabuddin, generasi keturunan  Nabi ke-33, sebagai istri pertama. Setelah Nyai Maryam Wafat, beliau menikah dengan Nyai Shofiyah, di karuniai dua anak yaitu : Ma’arif dan Matoriyah. Dari Ma’arif, lahir dua putra dan tiga putri, yaitu : Muhammad Arif, Kute, Markute, Karnati dan Ambas.

Lalu dari Muhammad Arif, lahir putra bernama Murtadho. Dari Murtadho, lahir putra bernama Muhammad Ahsan. Dan dari Muhammad Ahsan, lahir tiga putra, yaitu : Raden Muhammad Mukhlis, Raden Duraid, Raden Jundi dan tiga putri, yaitu : Nyai Farikhah, Nyai Fatumah dan Nyai Akifah.

Beberapa sumber mengatakan, Mbah Nur Anom wafat dalam usia sekitar 200 tahun dan dimakamkan di pemakaman Kranji (bagian dalam sebelah ujung barat). Peninggalan Mbah Nur Anom hingga saat ini masih bisa dinikmati oleh para peziarah, yaitu berupa Masjid Jami' Kranji, Makam, Bedug dan Mimbar. Wallahu A’lam..

(Nuskan Abdi, Pembina Arus Informasi Santri Regional Jawa Tengah (AIS Jawa Tengah)


(Red/CN26/SM Network)

Berita Terkait
Loading...
Komentar