• KANAL BERITA

Pemkot Magelang Optimis Wujudkan 100-0-100

Kawasan Kumuh Paling Sulit

KAWASAN KUMUH: Kepala Disperkim Kota Magelang, Handini Rahayu memberi penjelasan kepada Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina dan tim penilai Lomba Hari Habitat 2019 tingkat Jawa Tengah saat meninjau Kampung Bogeman sebagai proyek percontohan program Kampung Teduh dalam rangka menuntaskan kawasan kumuh.
KAWASAN KUMUH: Kepala Disperkim Kota Magelang, Handini Rahayu memberi penjelasan kepada Wakil Wali Kota Magelang, Windarti Agustina dan tim penilai Lomba Hari Habitat 2019 tingkat Jawa Tengah saat meninjau Kampung Bogeman sebagai proyek percontohan program Kampung Teduh dalam rangka menuntaskan kawasan kumuh.

MAGELANG, suaramerdeka.com – Di sisa waktu dua bulan menuju akhir tahun 2019, Pemkot Magelang optimis mampu mewujudkan target 100-0-100 (100 persen akses universal air minum, 0 persen permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak). Meski untuk zero kawasan kumuh menjadi level paling sulit ditangani.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Magelang, Handini Rahayu mengatakan, dari ketiga aspek itu, dua di antaranya (akses sanitasi dan air minum) nyaris tanpa kendala. Bahkan, pihaknya mengkalim keduanya sudah mendekati 100 persen.

“Berdasarkan data/survei yang kami lakukan, akses air minum sudah 97 persen dan sanitasi sekitar 97 persen. Nah, tinggal 0 kawasan kumuh ini yang masih cukup tinggi, karena tercatat 37 hektar masyarakat menempati kawasan kumuh,” ujarnya di kantornya, Kamis (10/10).

Dikatakannya,  jumlah 37 hektar mendasari hitungan statistik tahun 2018 dan kemungkinan saat ini sudah mulai menurun. Akan tetapi, dia memprediksi, penurunan angka tersebut masih sangat kecil, lantaran masih adanya pemanfaatan lahan ilegal untuk pemukiman.

“Kawasan kumuh ini 90 persennya disumbangkan di kawasan squatters (liar), ilegal, sempadan sungai, tanah bengkok, kawasan rel kerta api, dan sebagainya. Tapi kita tidak bisa menanganinya, karena memang lahan-lahan itu tidak sesuai peruntukannya,” katanya.

Handini menyebutkan, kawasan kumuh di lahan liar itu didominasi berada di Kawasan Rejowinangun. Kawasan Rejowinangun, terdiri dari empat kelurahan, antara lain Kelurahan Panjang, Gelangan, Rejowinangun Utara, dan Tidar Utara.

“Jumlahnya masih 18,18 hektar di Kawasan Rejowinangun di antaranya termasuk dalam kawasan kumuh. Sisanya menyebar di 13 kelurahan lain, walaupun tidak terlalu besar,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya optimistis pada tahun depan, dua program kolaboratif yakni Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dan Kampung Tematik Terpadu dan Hijau (Teduh) akan menghasilkan prestasi menggembirakan. Termasuk pengentasan kawasan kumuh ini.

“Di dalam dua program ini termaktub strategi, kolaborasi dengan masyarakat, baru nanti kegiatan pembangunan fisik, dan nonfisik. Sasaran utamanya adalah komunitas dan warga di kawasan itu,” urainya.

Dia menambahkan, untuk mencapai target 100 persen akses air minum, 0 persen kawasan permukiman kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak sangat bergantung terhadap dukungan partisipasi masyarakat.

“Sinergisitas ini jadi kata kunci keberhasilan prakarsa 100-0-100. Karena itulah, kami disamping menggandeng OPD terkait, juga wajib melibatkan masyarakat dalam rangka perwujudan program ini,” tandasnya. (Asef Amani) 16.50


(Asef Amani/CN19/SM Network)