• KANAL BERITA

Membudayakan Literasi dalam Keluarga

Oleh: Galih Suci Pratama

Foto: suaramerdeka.com / dok
Foto: suaramerdeka.com / dok

KELUARGA merupakan kunci dalam pembangunan setiap bangsa. Tak ada bangsa besar tanpa memperhatikan peran vitalnya. Pasalnya, keluarga menjadi garda terdepan dalam setiap implementasi program pemerintah. Tak terkecuali di Indonesia. Baik tidaknya suatu program dilaksanakan, sangat bergantung dari peran keluarga. Unit terkecil masyarakat ini pun, perlu untuk selalu didorong dan dipacu menuju kualitas keluarga yang baik.

Sayangnya, keluarga saat ini mendapatkan tantangan yang besar. Era disrupsi (perubahan mendasar) ini mengubah berbagai pola yang menjadi kebiasaan di dalam keluarga. Berdasarkan data survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan bahwa penetrasi internet di Indonesia saat ini mencapai 143,26 juta jiwa. Persentase penetrasi terbesar pada pengguna remaja usia 13-18 tahun sebesar 75 persen.

Sebuah data yang terpublikasi pada 8 November 2018 juga menunjukkan sebanyak 87,13-89,35 persen dari aktivitas digital orang Indonesia ditujukan untuk mengakses media sosial dan penyampaian pesan. Kedua data tersebut menunjukkan bahwa pola interaksi di antara anak-anak saat ini mengalami disrupsi. Oleh sebab itu perlu penguatan keluarga yang literat. Agar pengaruh penggunaan internet itu dapat dialihkan menjadi pengaruh yang positif. Bukan negatif.

Budaya literasi

Budaya literasi dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan. Pertama, mengurangi menonton televisi. Televisi menjadi “hantu” yang menakutkan manakala orang tua salah mengarahkan kepada anak. Mengapa? Karena anak belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk. Jika yang mereka tonton hal yang baik maka anak tersebut akan belajar. Sebaliknya, jika hal buruk yang ditonton maka anak akan terpengaruh perbuatan buruk juga. Berhati-hati. Sayangnya banyak orang tua tidak mempedulikan hal tersebut.

Orang tua dapat mengalihkan ketergantungan menonton televisi dengan mengajak ngobrol bersama. Cara ini mudah dan simpel. Namun, sering kali ditinggalkan oleh keluarga milenial saat ini. Jika sering melakukan pembicaraan bersama keluarga, bukan tidak mungkin rasa nyaman dan ikatan jiwa akan semakin erat. Hubungan akan lebih rileks dan produktif. Dampaknya, tidak jarang banyak ilmu yang akan didapatkan dengan mengobrol. Selain melegakan hati, mengobrol akan membuat situasi nyaman untuk belajar. Sehingga, ilmu pun masuk dan berkembang. Sayangnya, peran interaksi sosial dalam keluarga biasanya hilang. Keluarga masih asyik sendiri dengan gadgetnya masing-masing. Tanpa mempedulikan kondisi sekitarnya. Ironis.

Kedua, sediakanlah perpustakaan keluarga di tempat yang mudah di jangkau. Contohnya, di teras kemudian ada koran yang tertata rapi. Di ruang tamu ada kumpulan buku yang menghiasi dinding. Di ruang keluarga ada perpustakaan mini yang memuat hasil karya pribadi atau kumpulan buku favorit keluarga. Suatu saat jika rutinitas yang begitu penat, pasti membuka buku tersebut. Alasannya, karena manusia biasanya mencari hal yang simple dan paling dekat di sisinya.

Ketiga, mengagendakan jam literasi keluarga. Waktu khusus yang digunakan untuk kegiatan berliterasi. Contohnya, setiap pukul 18.00-21.00 maka disiapkan untuk berliterasi. Anak dapat belajar, ayah dapat membaca buku dan menulis sesuai pekerjaannya, dan ibu dapat membaca berbagai jenis resep makanan.

Keempat, berwisata ke toko buku. Setiap keluarga dapat berwisata ke toko buku untuk sekadar melihat dan membaca berbagai buku yang sedang populer. Dengan melihat saja, anak anak akan belajar tentang kehidupan. Menumbuhkan cinta terhadap buku dan membiasakan untuk membaca buku. Akhirnya, anak dapat membeli buku sesuai dengan keinginannya.

Kelima, mengefektifkan penggunaan gadget. Data APJII menunjukkan pada 2017 menunjukkan penggunaan akses internet untuk kegiatan produktif berkisar 16,83-45,14 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan internet belum menjadi sarana yang produktif. Selayaknya internet dapat dimanfaatkan untuk membuat start up-start up baru bukan sebaliknya.

Galih Suci Pratama MPd, adalah guru SD N Sekaran 02 Kota Semarang


(Red/CN40/SM Network)