• KANAL BERITA

KUR Syariah Sasar Petani dan Nelayan

BERI MANFAAT : Bussines inisiative section head Micro Banking BRI Syariah pusat, Windarti, memberi penjelasan terkait manfaat produk keuangan syariah pada para workshop yang digelar di kantor Kabupaten Wonogiri, Senin (23/9). (Foto suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)
BERI MANFAAT : Bussines inisiative section head Micro Banking BRI Syariah pusat, Windarti, memberi penjelasan terkait manfaat produk keuangan syariah pada para workshop yang digelar di kantor Kabupaten Wonogiri, Senin (23/9). (Foto suaramerdeka.com/Langgeng Widodo)

KABAR baik bagi para petani dan peternak di Kabupaten Wonogiri. Mereka kini bisa melepaskan diri dari jeratan ijon atau tengkulak yang menjerat.

Bagi para petani yang butuh dana segar (fresh) untuk berbagai kebutuhan, tidak perlu lagi menjual tanaman padinya yang masih muda dengan sistem ijon yang dihargai sangat murah oleh tengkulak, sehingga cenderung merugi. Kini mereka bisa pinjam modal di perbankan syariah yang pengembaliannya bisa dilakukan suka-suka, setelah panen atau jangka waktu yang disepakati. Yaitu melalui program kredit usaha rakyat (KUR) syariah.

Demikian pula dengan para peternak dan nelayan, tak perlu cari dana sebrakan dari lembaga keuangan yang memberlakukan bunga cukup tinggi, sehingga sangat memberatkan. Mereka bisa melakukan hal yang sama melalui program KUR syariah.

"Ini adalah program baru kami yang kami tunjukan bagi para petani dan peternak," kata kepala cabang pembantu BRI Syariah Wonogiri Budiono di sela workshop peningkatan akses petani terhadap sumber pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) syariah di kantor kabupaten setempat, Senin (23/9).

Selain ada penjelasan tentang berbagai program dan produk BRI Syariah, dalam workshop yang diikuti 50 petani, nelayan, dan peternak itu juga dilakukan simulasi tentang penyaluran KUR syariah berikut cara pengembalian. Pihak bank juga menjelaskan tentang model pendampingan monitoring bagi para petani dan  peternak yang menjadi debitur. BRI Syariah menjadi satu-satunya perbankan syariah yang dapat menyalurkan KUR.

Dalam kesempatan itu, secara simbolis diserahkan pembiayaan KUR masing-masing Rp 1 miliar bagi kelompok tani dan kelompok ternak. "Dalam program ini, kami benar-benar ingin memberdayakan para petani dan peternak," tambah kepala unit mikro BRI Syariah cabang pembantu Wonogiri RM Said, Lydia Elvin Setyastuti.

Lebih lanjut Budi mengatakan, dalam program KUR syariah di Wonogiri, pembiayaan yang bisa didapat para calon debitur baik itu petani atau peternak hingga Rp 200 juta. 

Menurut dia, program KUR syariah menggunakan sistem jual beli. Misalnya, kebutuhan beli anakan sapi dan pakan jumlahnya Rp 25 juta. Kemudian dijual ke nasabah atau debitur menjadi Rp 27 juta, dari situ bank mengambil margin Rp 2 juta. Sedang untuk pengembaliannya bisa dilakukan sebulan kemudian, dua bulan kemudian, atau tiga bulan atau sesuai kesepakatan.

"Melalui program ini, kami menggenjot pembiayaan untuk modal kerja bagi para petani dan peternak yang serapannya masih minim. Selama ini KUR lebih banyak diserap kebutuhan modal perdagangan atau ritel," kata dia.

Minimnya serapan KUR untuk kebutuhan modal kerja, khususnya bagi para petani dan peternak, juga diakui Nanik Hari TS dari Bagian Perekonomian Setda Wonogiri yang juga menjadi pembicara workshop. Di Wonogiri, kata dia, sudah lebih dari 17.900 pelaku usaha mendapatkan KUR dari berbagai perbankan, namun sebagian besar untuk sektor perdagangan atau non produktif. Karena itu pihaknya menyambut baik program KUR syariah dari BRI Syariah untuk kebutuhan modal usaha yang menyasar para petani dan peternak. 

"Dalam penyaluran KUR tugas kami hanya meng update data siapa-siapa yang mengajukan KUR. Data itu kami peroleh dari pendataan di tiap kecamatan dan diolah di tingkat OPD. Soal siapa yang berhak mendapatkan KUR, itu wewenang perbankan dan OJK," kata Nanik.

Purwanti (45) salah seorang peternak sapi peserta workshop mengaku tertarik dengan program KUR syariah dari BRI Syariah. Ia mengatakan, selama ini dia pinjam dana "sebrakan" dari lembaga keuangan setiap akan membeli bibit sapi. "Saya tertarik dengan program KUR syariah BRI Syariah, kalau memang cocok, ada kemungkinan saya mengambil modal dari situ," katanya.

Kepala Subbagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo Susana Diah Kusumaningrum mengatakan, Kabupaten Wonogiri adalah satu-satunya daerah di Soloraya yang TPKAD-nya sudah dikukuhkan oleh OJK dan pemerintah daerah setempat. Ia mengatakan, masyarakat luas bisa memanfaatkan TPKAD (Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah) untuk mengakses keuangan atau permodalan dari perbankan.

"Saya mendukung kegiatan workshop. Karena workshop ini bagian dari literasi dalam peningkatan akses masyarakat terhadap sumber pembiayaan melalui kredit usaha rakyat (KUR) syariah, khususnya bagi petani dan peternak," kata Susana.


(Langgeng Widodo/CN19/SM Network)