• KANAL BERITA

Rutin Minum Jamu Racikan Sendiri

foto: suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami
foto: suaramerdeka.com/Moh Khabib Zamzami

TAZKIYYATUL Muthmainnah yang akrab disapa Iin rutin minum jamu racikan sendiri. Kebiasaan meminum jamu yang dibuat dari bahan-bahan alami itu telah dilakukannya sedari remaja. Maka tak heran meski usianya telah menginjak kepala empat, perempuan kelahiran Blora, 17 Februari 1979 itu masih terlihat muda dan cantik.

Suka minum jamu? Pilih jamu yang anda inginkan di sini.

"Dari remaja saya dibiasakan memakai ramuan dengan bahan-bahan tradisional. Dibuatkan bedak adem untuk masker, serta menggunakan lulur racikan sendiri," ujar Iin.

Baca juga: Membudayakan Jamu sebagai Minuman Kesehatan

Mampu Baca Pasar, Industri Jamu Dapat Bertahan

Hanya Jamu Gendong yang Tak Perlu Izin Edar

Jamu Bukan Lagi Obat

Ibunda Iin, almarhum Hj Rozqi lah yang memperkenalkan ramuan jamu kepada Ketua PW Fatayat NU Jateng itu. Ibundanya sering membelikannya jamu, seperti kunir asem, beras kencur dan lain-lain dari penjual jamu gendong. Sejak saat itu, setiap hari ia rutin mengonsumsi jamu.

"Saat masih kecil, kalau susah disuruh makan almarhum ibu selalu memberi minum campuran temulawak dan jeruk nipis," kenang perempuan yang pernah menjadi Koordinator Bidang Aduan dan Pengawasan di KPID Jateng itu.

Jamu gendong yang biasa dijual keliling kampung itu menurutnya berbahan herbal. Karena terbuat dari bahan-bahan yang diambil langsung dari alam.

Di samping minum jamu dari penjual jamu gendong, terkadang Iin juga minum rebusan daun pandan racikan sendiri. Konon katanya, rebusan daun pandan dipercaya untuk menghambat monopouse.

Caranya, papar Iin, daun pandan direbus dengan empat gelas air. Setelah mendidih ambil satu gelas lalu diminum tanpa gula.

Selain untuk menghambat monopouse. Ramuan itu juga dipercaya dapat menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sedangkan untuk ramuan awet muda memiliki bahan yang lebih kompleks. Bahannya terdiri dari rempah-rempah yang direbus. Sebagian disaring untuk diminum, sebagian untuk ratus atau ramuan untuk organ kewanitaan. Diminum dua pekan sekali.

Resep untuk menunda menapouse yang komplit bahannya, kayu rapet, kayu secang, kayu manis, jahe, cengkeh, kunyit, sereh, majaan, daun jeruk, daun sirih, dan daun pandan. Semuanya direbus sampai mendidih, lalu disaring dan diberi gula batu.

Sedangkan untuk membuat ramuan ratus, ketika ramuan mendidih ditaburi bunga mawar dan bunga kanthil. Ramuan itu dipakai ketika masih mengeluarkan asap.

"Sebenarnya itu rahasia perempuan. Resep itu saya dapatkan dari nenek," kata dia.

Saat haid datang, ia biasa merebus daun sirih untuk mencegah nyeri. Daun sirih direbus dengan empat gelas air, sisakan satu gelas diminum tanpa gula.

Warisan Leluhur

Saat ini, kata dia, banyak iklan-iklan yang menawarkan produk kecantikan yang menggunakan bahan yang tidak alami. Iming-iming bisa memperoleh kecantikan dengan cara instan menarik minat banyak wanita. Padahal, jika digunakan dalam jangka panjang efek sampingnya sangat berbahaya.

"Harus cerdas, jangan mudah termakan iklan. Produk yang dibeli harus benar-benar dicek keamanannya," tuturya.

Keluarga Iin memang kental dengan tradisi minum jamu. Kebiasaan itu diwariskan turun temurun sejak dari kakek buyutnya. Selain merupakan resep warisan keluarga, Iin lebih menyukai ramuan berbahan alami karena minim efek samping. Apalagi, khasiatnya sudah ia buktikan sendiri.

Bahan ramuan jamu yang ia buat juga sangat mudah didapat. Bisa dibeli pasar tradisional atau bakul empon-empon.

"Mungkin kelihatannya sedikit repot, harus rebus-rebus sendiri. Tapi, untuk kesehatan dan kecantikan diri sendiri tidak apa-apa," ucap dia.


(Mohammad Khabib Zamzami/CN40/SM Network)