• KANAL BERITA

Ratusan Orangutan Tapanuli Terancam Pembangunan PLTA Batang Toru

foto: istimewa
foto: istimewa

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com- Keberadaan ratusan Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanulienses) yang berada di kawasan ekosistem Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumut tengah terancam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru.

Atas dasar ini sejumlah aktivis lingkungan hidup dari Pusat Perlindungan Orangutan atau Center for Orangutan Protection (COP) melakukan aksi teatrikal di bunderan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pagi tadi. Memprotes pembangunan PLTA tersebut, dua orang aktivis juga mengenakan pakaian menyerupai hewan primata tersebut. Sementara aktivis lainnya mengenakan semacam seragam tengah memegang erat rantai yang diikatkan ke masing-masing kepala Orangutan jadi-jadian tersebut. Kebetulan tidak jauh dari aksi demontrasi itu tengah berlangsung Kongres Primata 2019.

"Sejak 2017, Orangutan Tapanuli ditetapkan sebagai spesies kera besar terbaru meski mulai 1990 sudah dikenal. Tapi mulai 2017 itu langsung dinyatakan hampir punah," papar Indira Nurul Qomariah, ahli biologi dari COP usai aksi demonstrasi, Jumat (20/9).

Menurut dia, saat pertama kali ditetapkan jumlah Orangutan Tapanuli mencapai 800 ekor. Namun saat ini jumlahnya menurun dengan estimasi berjumlah 577-760 ekor. Indira mengatakan, Orangutan Tapanuli termasuk spesies langka karena berkembang biak sangat lambat. Untuk betina saja baru bisa bereproduksi usia 12-15 tahun, sementara jantan 18-20 tahun. Rata rata kehamilannya pun hanya satu anak dengan jangka waktu hidup 50-60 tahun, yang artinya 1 betina hanya mampu beranak 5-6 ekor sepanjang hidupnya.

"Saat ini kondisinya memprihatinkan. Habitatnya juga hilang karena pembukaan lahan sawit, termasuk di Batang Toru ini juga ekosistemnya terancam karena pembangunan PLTA disana. Pembangunan ini memisahkan dua ekosistem hidup mereka, yang berdampak ancaman kehidupannya," papar dia.

PLTA Batang Toru sendiri dikelola PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) sebagai pembangkit energi terbarukan yang ramah lingkungan, yaitu energi yang dapat pulih secara alami, ada terus menerus dan berkelanjutan.  

"Pembangunan PLTA ini merupakan bagian dari upaya beralih dari energi fosil yang kotor ke energi terbarukan yang bersih seperti tenaga air," kata Firman Taufick, Communication and External Relations Director PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE), di Kongres Primata 2019.

Sebagai proyek strategis Nasional pembangkit listrik 35.000 MW, lanjut dia, pihaknya terus berkomitmen menjaga kelestarian alam dan habitat Orangutan Tapanuli. Pembangunan  PLTA Batang Toru telah melalui kajian-kajian yang dipersyaratkan termasuk Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). “Selain AMDAL, kami juga telah melaksanakan kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA) yang menunjukkan komitmen kuat perusahaan untuk juga mendorong kelestarian flora dan satwa liar seperti Orangutan Tapanuli yang merupakan satwa endemic di hutan Batang Toru,” sambung Agus Djoko Ismanto Senior Adviser on Environment PT NSHE.

Mengenai orangutan Tapanuli, saat ini PT NSHE sebagai pengelola PLTA Batang Toru telah menjalin kerjasama dengan Yayasan PanEco yang berpusat di Swiss. Kerjasama ini didukung penuh oleh pemerintah Indonesia untuk mengamankan masa depan orangutan Tapanuli serta habitatnya di ekosistem Batangtoru. 

“Salah satu tujuan kerja sama itu adalah menerapkan strategi konservasi yang komprehensif di areal habitat orangutan tersebut, melalui suatu pendekatan multi-pihak,” tandas Barita Manullang, ahli primata PT.NSHE.


(Gading Persada /CN34/SM Network)