• KANAL BERITA

Banyak Negara Masih Terapkan Tarif untuk Obat-obatan Impor

Foto: istimewa
Foto: istimewa

JAKARTA, suaramerdeka.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa A. Amanta menuturkan, meskipun tarif obat rata-rata global secara keseluruhan telah turun dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara masih menerapkan tarif untuk obat-obatan impor.

Tingkat rata-rata pengenaan tarif tertinggi ditemukan di Asia Selatan dan Amerika Latin. Berdasarkan database Tarif WTO, Nepal menjadi negara yang memberlakukan tarif tinggi untuk obat-obatan impor, yaitu sebesar 14,7 persen. Sementara itu Indonesia menerapkan tarif sebesar 4,3 persen.

Meskipun banyak negara di luar perjanjian ini tidak mengenakan tarif pada obat-obatan, tapi masih ada yang memberlakukannya. Faktanya, nilai perdagangan biofarmasi di seluruh dunia di negara-negara yang tidak termasuk dalam perjanjian meningkat lebih dari 20 persen antara tahun 2006 dan 2013. Indonesia sendiri menerapkan tarif pada impor pada bahan-bahan farmasi yang dibutuhkan untuk memproduksi obat.

Hal ini, lanjut Felippa, tentu berdampak pada harga jual obat tersebut. “Indonesia juga idealnya mulai menghapuskan hambatan non tarif dalam perdagangan. Hal ini penting untuk menjaga stabilitas harga obat. Ke depannya hal ini tentu berdampak pada kualitas hidup warganya,” ungkapnya.

Beberapa hal yang termasuk ke dalam Non-Tariff Measures (NTMs) antara lain adalah prosedur bea cukai yang tidak efisien, prosedur ekspor / impor yang rumit, birokrasi administrasi, pajak yang tidak transparan dan infrastruktur perdagangan yang kurang digunakan.

Untuk obat-obatan, Indonesia juga menerapkan persyaratan pelabelan dan pengemasan yang tidak mudah, kebutuhan importir untuk memiliki banyak izin dan lisensi dan persyaratan bahwa obat-obatan impor harus melewati pelabuhan tertentu.

 


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)