• KANAL BERITA

Ekspor Sarang Burung Walet Menurun

SAMPAIKAN PENJELASAN: Plt Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, drh Wawan Sutian menyampaikan penjelasan tren ekspor sarang burung walet dari Jawa Tengah ketika FGD di Hotel C3 Ungaran, Rabu (18/9) pagi. (SM/Ranin Agung)
SAMPAIKAN PENJELASAN: Plt Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, drh Wawan Sutian menyampaikan penjelasan tren ekspor sarang burung walet dari Jawa Tengah ketika FGD di Hotel C3 Ungaran, Rabu (18/9) pagi. (SM/Ranin Agung)

UNGARAN, suaramerdeka.com - Percepatan ekspor khususnya sarang burung walet melalui Bandara A Yani Semarang cenderung menurun. Keterangan itu disampaikan Plt Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, drh Wawan Sutian ketika FGD membahas Sinergi dan Akselerasi Ekspor Sarang Burung Walet Produksi Jawa Tengah di Hotel C3 Ungaran, Rabu (18/9) pagi.

Pada 2016 pihaknya mencatat, ada lebih dari 63 ton sarang burung walet yang diekspor. Kemudian 2017 ada lebih dari 72 ton, sementara pada 2018 turun menjadi lebih kurang 54 ton. Dan hingga September 2019, Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang mencatat baru sekitar 23 ton sarang burung walet yang diekspor dari Bandara A Yani.

“Kalau bisa dipercepat kenapa diperlambat. Apa-apa yang menjadi kendala, dapat disampaikan kepada kami agar eksportasi sarang burung walet produksi dari Jawa Tengah tidak keluar dari daerahnya sendiri,” katanya.

Melalui FGD kemarin, menurutnya ada tiga tujuan yang hendak dicapai. Diantaranya supaya ada sinergi yang baik dan benar. Supaya para eksportir memahami dan menguasai aturan yang berlaku, serta penguasaha sarang burung walet dapat mengaplikasikan ketentuan eksportasi melalui Bandara A Yani.

Mengingat selain mengeluarkan sertifikasi sarang burung walet yang diekspor melalui bandara yang sama, pihaknya juga mengeluarkan sertifikasi untuk ekspor bunga melati dimana Januari 2019 sampai Agustus 2019 mencapai 800 ton senilai lebih kurang Rp 4 triliun.

“Jika eksportasi bisa ditingkatkan melalui Bandara A Yani atau Pelabuhan Tanjung Emas, maka aktivitasnya berpengaruh pada peningkatan tenaga kerja disamping berdampak pada peningkatan kesejahteraan para petani,” tegasnya.

Di lokasi yang sama, Kepala Biro Insfrastruktur dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Dadang Somantri menjabarkan, ketika pengusaha memilih eksportasi bukan dari Jawa Tengah maka nantinya barang yang diekspor akan tercatat di <I>database<P> milik Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Timur.

“Kami berharap semuanya diungkapkan transparan, artinya akan diketahui hambatannya dimana. Apakah dari aspek normatif atau ada oknum-oknum yang menghambat,” ucapnya.

Kalaupun ada oknum dari pemerintah yang diduga bermain, lanjutnya, hal itu bisa dilaporkan. Karena berbicara potensi sarang burung walet, ia mengungkapkan potensi itu bisa didapat dari cara alami dan penangkaran. “Hambatannya akan terlihat, atau karena biayanya terlalu mahal?” kata Dadang Somantri.

Kepala Seksi Karantina Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, drh R Pratiwi Asmara Wulan dalam laporannya menuturkan, pihaknya senantiasa melakukan fungsi jaminan produk ekspor khususnya sarang burung walet produksi Jawa Tengah dari Bandara A Yani Semarang. Berbagai kendala, menurutnya perlu diselesaikan melibatkan instansi terkait.

“Butuh dukungan dari instansi terkait, termasuk pemerintah daerah di Provinsi Jawa Tengah. Pelaku usaha kami hadirkan, agar mereka bisa menyampaikan kendala serta gagasannya,” tutur dia.


(Ranin Agung/CN39/SM Network)