• KANAL BERITA

Limbah Nanas Diolah Jadi Oleh-oleh Khas Purbalingga

Inkubator Bisnis LPPM Unnes

CALON MITRA: Pemilik minuman Nanas, Ngudiono (paling kiri) didampingi Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Margunani (dua dari kanan) saat bertemu dengan calon mitra di gedung Borobudur, LPPM Unnes. (suaramerdeka.com/Dok)
CALON MITRA: Pemilik minuman Nanas, Ngudiono (paling kiri) didampingi Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Margunani (dua dari kanan) saat bertemu dengan calon mitra di gedung Borobudur, LPPM Unnes. (suaramerdeka.com/Dok)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kejelian warga Siwarak, Kecamatan Karang Reja, Kabupaten Purbalingga, Ngudiono melihat peluang bisnis, membuatnya menjadi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang eksis ditengah persaingan usaha.

Dia mampu memanfaatkan limbah buah Nanas yang kerap dibuang petani, jadi ladang rupiah. Nanas itu diolah jadi minuman layaknya Carica, sekaligus dikemas jadi oleh-oleh khas Purbalingga.

Berkat pendampingan Gugus Inkubator Bisnis (GIB) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes), minuman Nanas itu kini rasanya semakin pas dilidah.

Selain itu, pemasarannya juga telah menjangkau sejumlah daerah seperti Pemalang, Purbalingga, Pekalongan, dan Purwokerto. Bahkan, pria dengan penampilan berjenggot panjang itu juga telah menjual minuman itu secara online.

"Banyak petani membuat secara cuma-cuma Nanas yang secara bentuk kecil dan tak layak dijual, diberikan ke orang pun dirasa tidak sopan. Atas dasar itulah, muncul ide mengolahnya jadi minuman," tandas Ngudino disela-sela Business Matching atau Pencocokan Bisnis di gedung Borobudur, LPPM Unnes.

Ngudiono ini jadi salah satu tenan atau peserta inkubasi yang mendapatkan pendampingan dari LPPM Unnes. Atas fasilitasi dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Ngudiono dipertemukan dengan calon investor atau mitra.

Dalam pertemuan itu, LPPM Unnes mengundang enam tenan binaannya untuk memaparkan materi terkait UMKM, yakni Nanas-Qu, D-Batik, Bandeng Banaran, Matra, Halo Service, dan Sentana Project.

Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Dr Margunani MP mengatakan, GIB Unnes yang berdiri sejak 2016 memang fokus bidang pangan, tapi bukan berarti mengabaikan bidang lain. Khususnya minuman Nanas, Unnes memberi pendampingan dalam peningkatan kualitas rasa minuman, pemasaran, pembukuan, hingga perizinan.

"Kami melibatkan ahli boga, pendampingan diberikan sejak 2017. Apa yang dilakukan pak Ngudiono ini layaknya, mengubah sampah jadi emas," ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala Subdirektorat Inkubator dan Intermediasi Teknologi, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya, Kemenristekdikti, Ferry Ramadhan mengatakan, pendanaan kegiatan inkubator bisnis di Jateng, tahun ini ada di Unnes.

Sebelumnya, Kemenristekdikti juga memfasilitasi fokus grup diskusi terkait UMKM. Adapun, fungsi inkubator ini harus mampu menyempurnakan kekurangan produk dari tenan, sehingga mampu laku dipasaran.


(Royce Wijaya/CN39/SM Network)