• KANAL BERITA

Puncak Musim, Harga Tembakau Tak Kunjung Terkerek

Sejumlah petani tembakau di wilayah Kecamatan Kledung, Temanggung memanfaatkan jalan lama Jembatan Sigandul untuk menjemur hasil panen tembakau miliknya. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Sejumlah petani tembakau di wilayah Kecamatan Kledung, Temanggung memanfaatkan jalan lama Jembatan Sigandul untuk menjemur hasil panen tembakau miliknya. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Sejumlah petani tembakau di wilayah Kecamatan Kledung, Temanggung mengeluhkan harga jual tembakau tak kunjung terkerek hingga puncak musim panen ini. Ditambah, produksi tembakau tahun ini mengalami penurunan cukup banyak dibanding tahun sebelumnya. Padahal, jika dilihat dari kualitasnya, tembakau pada musim ini jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Petani tembakau asal Desa Kwadungan Jurang Kecamatan Kledung, Arifin mengungkapkan, dari lahan seluas satu hektare, maksimal bisa menghasilkan 800 kilogram sampai 900 kilogram tembakau rajangan kering. Namun demikian, pada tahun ini produksi paling banyak hanya menghasilkan sekitar 550 kilogram hingga 600 kilogram tembakau rajangan kering. "Penurunan produksi lumayan," ujarnya, kemarin.

Menurut dia, hal itu pun tidak menyeluruh untuk semua petani. Sebab sebagian besar petani menanam tembakau di akhir bulan April hingga awal Mei, sehingga sudah tidak terguyur air hujan. Akibatnya, pertumbuhan tembakau saat ini sangat berkurang. "Dengan produksi yang menurun dan kualitas yang bagus, seharusnya harga tembakau tahun ini istimewa, namun ternyata itu tidak terjadi,” tutur dia.

Arifin mengaku, saat ini dirinya belum menjual tembakau lebih dari Rp 110 ribu per kilogram. Padahal tahun sebelumnya di waktu yang sama, sudah ada petani yang menjual tembakau dengan harga lebih dari Rp 110 ribu per kilogram. "Berbicara soal kualitas tembakau tahun ini kualitasnya sangat bagus, cuaca saat panen raya sangat mendukung. Tembakau rajangan bisa kering dalam sehari," jelasnya.

Apalagi cuaca pada panen raya tahun ini sangat mendukung, jadi mayoritas tembakau kualitasnya bagus, hanya saja kalau harga masih belum sesuai harapan petani. Menurut dia, naiknya kualitas tembakau ini tidak hanya dukungan dari cuaca yang terjadi selama panen raya saja. Namun, petani juga sudah kembali menanam tembakau varietas kemloko, tembakau varietas ini dikenal mempunyai kualitas terbaik.

"Mayoritas petani sudah kembali menanam varietas kemloko, jadi kualitas tidak diragukan lagi. Apalagi varietas kemloko ini merupakan permintaan pabrikan. Dengan demikian, seharusnya pabrikan membeli tembakau dari petani dengan harga yang lebih, sebab petani sudah berusaha memenuhi permintaan pabrikan dengan menanam kembali varietas kemloko. Kami berharap, harga tembakau tahun ini lebih stabil hingga akhir panen raya mendatang," harap dia.

Senada, petani tembakau Desa Tlahab Kecamatan Kledung, Kuat Slamet menyebutkan, meski pun saat ini sudah memasuki puncak panen raya tembakau, hingga saat ini belum ada kenaikan harga yang signifikan. Padahal kualitas tembakau saat ini jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Sampai saat ini harganya belum seperti harapan kami, kalau kualitas tembakau tahun ini jauh lebih baik,” ungkapnya.

Dia membeberkan, sejak awal panen raya tembakau dimulai, harga tembakau memang belum mengalami perubahan yang berarti. Di awal panen raya, harga tembakau dengan grade C dibeli dengan harga kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu. Kemudian tembakau grade D dibeli dengan harga antara Rp 60 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram. Sementara untuk grade E di beli dengan harga Rp 90 ribu hingga Rp 110 ribu per kilogram.

Memang diakui harga tembakau sangat tergantung dari kualitas akhir tembakau rajangan kering. Namun demikian, secara menyeluruh kualitas tembakau saat ini mayoritas sudah lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Harga masih normal-normal saja, bahkan jika dibanding tahun 2018 lalu masih sama saja, tahun lalu harga tertinggi mencapai Rp 130 ribu per kilogram,” tutur Kuat.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)