• KANAL BERITA

Harga Komoditas Melambung, Petani Tidak Serta Merta Untung

Foto: istimewa
Foto: istimewa

SOLO, suaramerdeka.com - Kendati harga komoditas melambung, tidak serta merta petani untung, bahkan bisa dibilang buntung. Sebab, yang mengambil untung banyak adalah pengepul atau tengkulak. Menurut survei Joanna Asterlita Kristanti dari Panen.id, para para distributor besar itu me-mark up harga 15 hingga 200 persen sebelum melempar ke pasar, pada para pedagang eceran di pasar-pasar tradisional.

Dari pengalaman itu Joanna mendirikan Panen.id, yang mempertemukan para petani dengan pihak-pihak terkait yang membutuhkan komoditas pertanian dalam jumlah besar, seperti restoran, katering, hotel, di dunia maya untuk bertransaksi secara langsung tanpa perantara. Sehingga para petani bisa mendapatkan harga pantas dan yang pasti tidak merugi. Bahkan harga yang didapat para petani sering kali di atas harga pasaran atau setidaknya jauh di atas tengkulak.

"Yang dilakukan tim Panen.id kini tidak sebatas hanya mempertemukan para petani dengan para pengelola restoran, katering, hotel, maupun pihak-pihak yang membutuhkan komoditas pertanian dalam jumlah besar dan kontinu, tapi juga melakukan pendampingan. Itu dilakukan untuk menjaga kualitas hasil pertanian, baik sayur-mayur atau buah-buahan, serta menjaga kuantitas komoditas pertanian yang dihasilkan," kata dia ketika berbagi pengalaman dalam rapat koordinasi
Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se Soloraya di kantor perwakilan Bank Indonesia Solo.

Ia mencontohkan, jika kebutuhan cabai di masyarakat tinggi, para petani yang didampingi di daerah tertentu diminta banyak menanam cabai. Demikian juga kalau permintaan wortel, kol, atau tomat meningkat. Selain untuk menjaga kualitas dan kuantitas komoditas pertanian, pendampingan yang dilakukan di berbagai tempat itu juga bertujuan untuk menaikkan posisi tawar para petani dengan pihak-pihak yang membutuhkan maupun pemerintah daerah.

Ia mencontohkan, permintaan sayuran dan buah-buahan dari restoran dan hotel di Bali untuk memenuhi kebutuhan kuliner para wisatawan sangat tinggi. Sayang pasokan sayur dan buah-buahan ke hotel dan restoran di Bali itu lebih banyak dari Jawa Timur.

Kemudian, Panen.id hadir di situ untuk melakukan pendekatan dengan para pengelola hotel dan retoran agar mereka bersedia memanfaatkan komoditas pertanian dari hasil panen petani di Bali sendiri. "Kehadiran kami tidak hanya sebatas bisnis semata tapi juga memberdayakan para petani," kata dia

Selain Joanna Asterlita Kristanti dari Panen.id yang pernah mendapat penghargaan Start-up World Cup 2017, SDBT 2016 Kemenkominfo, dan Bekraf Pitch Day 2016, rakor yang dibuka kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Solo Bambang Pramono itu juga menghadirkan Maryanto, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Kota (KSM) Kahuripan Sejahtera Mojosongo Boyolali.


(Langgeng Widodo/CN26/SM Network)