• KANAL BERITA

Tugas Inkubator Bisnis Sempurnakan Kekurangan Produk Tenant

Pencocokan Bisnis di Unnes

CALON MITRA: Pemilik Nanas Qu, Ngudiono (paling kiri) didampingi Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Margunani (dua dari kanan) saat bertemu dengan calon mitra di gedung Borobudur, LPPM Unnes. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)
CALON MITRA: Pemilik Nanas Qu, Ngudiono (paling kiri) didampingi Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Margunani (dua dari kanan) saat bertemu dengan calon mitra di gedung Borobudur, LPPM Unnes. (suaramerdeka.com / Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memfasilitasi pendanaan kegiatan inkubator bisnis Universitas Negeri Semarang (Unnes). Universitas ini salah satu dari 25 lembaga pendidikan Indonesia yang memperoleh fasilitasi inkubator bisnis. Atas pendanaan itu, peserta inkubasi atau dikenal tenan diharapkan bisa bekerja sama dengan investor. Selain itu, inkubator memiliki tugas menyempurnakan kekurangan produk tenan tersebut.

Hal ini diungkapkan Kepala Subdirektorat Inkubator dan Intermediasi Teknologi, Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi dan Lembaga Penunjang Lainnya, Kemenristekdikti, Ferry Ramadhan di sela-sela Pencocokan Bisnis di ruang Borobudur, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unnes, Selasa (17/9). "Fungsi inkubator harus mampu menyempurnakan kekurangan produk tenan. Kami hanya membantu memfasilitasi keuangan, pengembangan tenan akan dibantu inkubator," katanya.

Menurut dia, Kemenristekdikti memfasilitasi fokus grup diskusi, serta menggelar pertemuan 10 calon mitra dengan tenan. Ada enam tenan binaan Unnes, mereka giliran memaparkan materi, mulai Nanas-Qu, D-Batik, Bandeng Banaran, Matra, Halo Service, dan Sentana Project. Di sisi lain, Kepala Inkubator Bisnis Teknologi, LPPM Unnes, Dr Margunani MP mengatakan, inkubator Unnes yang berdiri sejak 2016 memang fokus bidang pangan, tapi bukan berarti mengabaikan bidang lain.

"Terkait pangan, ada dari Teknik Mesin Unnes yang mampu membuat alat presto dalam waktu singkat. Jika alat konvensional butuh waktu delapan jam untuk presto, dengan alat ini hanya 1,5 hingga dua jam," ungkapnya.

Terakhir yang didampingi tenan Nanas-Qu milik Ngudiono dari Purbalingga. Pendampingan menyentuh kualitas rasa produk Nanas Qu, pemasaran, pembukuan, hingga perizinan. Menurut Ngudiono, produk paling laris buatannya itu coctail, minuman mirip Carica.

Ide muncul setelah tahu petani Nanas kerap membuang buah ukuran kecil-kecil. Padahal, buah itu masih manis dan layak konsumsi. Hingga akhirnya, mampu jadi oleh-oleh khas Purbalingga. "Tiap hari, kami mampu membuat 1.500 minuman coctail dari Nanas," jelasnya.


(Royce Wijaya/CN26/SM Network)