• KANAL BERITA

Dulu Kucing-kucingan, Kini Jadi Tradisi Aman bagi Navigasi

Tradisi Balon Udara Wonosobo

Sejumlah masyarakat menikmati berbagai kreasi balon udara raksasa saat gelaran Java Traditional Balloon Festival di wilayah Wonosobo, belum lama ini. (SM/ M Abdul Rohman)
Sejumlah masyarakat menikmati berbagai kreasi balon udara raksasa saat gelaran Java Traditional Balloon Festival di wilayah Wonosobo, belum lama ini. (SM/ M Abdul Rohman)

BALON udara bagi masyarakat Wonosobo, bukan sekadar atraksi masyarakat dalam menerbangkan balon kertas berukuran raksasa saat momentum Syawal. Balon udara bagi sebagian masyarakat Wonosobo, khususnya di sejumlah kecamatan seperti Kertek, Kalikajar, Wonosobo maupun Selomerto, merupakan kegiatan tradisi dan budaya yang sarat makna. Bahkan, konon tradisi itu sudah ada sejak jaman nenek moyang pada masa kolonial Belanda.

Konon, kala itu masyarakat pribumi berupaya menakut-nakuti kolonial Belanda yang hilir mudik menggunakan pesawat terbang di langit Wonosobo. Semakin banyak balon udara diterbangkan, penjajah semakin takut terbang. Pelepasan balon udara yang semakin tahun semakin memiliki ukuran besar juga menandakan kemenangan. Momen Syawal antara hari kedua Lebaran hingga hari ketujuh Lebaran juga menandakan kemenangan ummat Islam usai melakukan puasa Ramadan.

Semangat gotong royong dan silaturahim yang diusung dalam proses pembuatan, bahkan saat menerbangkan balon udara tradisional di momen Syawalan, rupanya menjadi tekad kuat masyarakat tetap menerbangkan balon udara tradisional. Mereka rela patungan untuk membeli kertas, lem serta kebutuhan lainnya. Bahkan mereka harus saling bekerjasama membuat balon udara tersebut. Kebanyakan membuat balon di dalam masjid atau mushola.

Ada pula yang membuat di ruangan yang lapang, seperti aula dan lainnya. Hal itu dilakukan untuk menggugah kesadaran saling begotong royong serta semangat menghidupkan tempat ibadah di momen bulan suci Ramadan. Seiring berjalannya waktu, beberapa tahun terakhir tradisi itu sempat berpolemik. Hal itu lantaran penerbangan balon udara dengan cara diterbangkan bebas, rupanya mendapat larangan, karena dinilai membahayakan dunia penerbangan.

Awalnya, kebijakan pelarangan menerbangkan balon udara tradisional mengundang reaksi sejumlah kalangan masyarakat di Wonosobo. Mereka yang tidak sepakat dengan aturan pelarangan tersebut menganggap pemerintah maupun otoritas terkait kurang bijak dalam mengambil keputusan. Pasalnya, penerbangan balon udara dinilai sudah menjadi tradisi lokal yang telah dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang.

Bagaimana tidak, merujuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, disebutkan menerbangkan balon tanpa kendali ke udara bisa dikenai hukuman berat, yakni hukuman penjara dua tahun dan denda maksimal Rp 500 juta. Para pecinta balon dan masyarakat yang merasa kaget, karena mereka merasa kebijakan itu telah memberangus tradisi masyarakat yang sudah berjalan turun temurun.

Sejumlah kalangan masyarakat yang tidak sepakat dengan larangan penerbangan balon tersebut, bahkan kala itu terus menggalang dukungan melalui #savebalonudarawonosobo dan #savebalonudara melalui perkumpulan langsung maupun melalui media sosial, baik instagram, facebook maupun twitter. Karena, aparat kepolisian saat itu terus menyisir para pecinta balon udara yang membuat maupun hendak menerbangkan balon udara saat momen Syawalan.

Nekad Kucing-kucingan dengan Aparat

Pecinta balon udara yang tak sepakat kegiatan balon udara disita aparat kepolisian, bahkan nekad kucing-kucingan menerbangkan balon saat tak ada aparat kepolisian. Mereka menilai, tindakannya adalah kegiatan yang dilakukan guna menjaga tradisi budaya nenek moyang. Konon, tradisi menerbangkan balon udara dilakukan guna menggantikan petasan yang membahayakan dan juga dilarang keras pemerintah.

Bukan tanpa alasan aparat kepolisian menindak masyarakat yang menerbangkan balon udara tradisi secara liar, karena balon udara dinilai dapat mengganggu penerbangan. Pihak Airnav maupun otoritas penerbangan bahkan turun langsung melakukan edukasi kepada masyarakat. Masyarakat diberi pengertian, boleh menerbangkan balon udara tradisional dengan syarat harus ditambat, agar tidak membumbung ke udara tanpa kendali.

Pada awalnya, sejak aturan larangan disosialisasikan dan dijalankan, masih banyak nekad kucing-kucingan dengan aparat. Namun, hal itu tak menyurutkan petugas dalam mengedukasi dan menindak dugaan pelanggaran. Bahkan, sebagai shock terapi, sejumlah pelaku penerbangan balon udara secara liar harus berurusan dengan hukum. Dikuatkan dengan sejumlah barang bukti mereka diserahkan ke otoritas terkait untuk ditindak sesuai aturan.

Hal ini dilakukan terus menerus setiap tahunnya sejak aturan pelarangan disampaikan Airnav 2015 lalu. Tak hanya melarang, AirNav Indonesia yang konsisten turut melestarikan tradisi penerbangan balon udara memfasilitasi gelaran festival balon udara dengan cara ditambatkan, tentunya dengan berbagai hadiah menarik. Tak hanya sekali uji coba, beberapa kali hal itu digelar agar masyarakat benar-benar tertib menerbangkan balon udara dengan cara ditambat.

Tradisi Balon Udara Jadi Daya Tarik Wisata

Menurut Direktur Keselamatan, Keamanan dan Standardisasi Airnav Indonesia, Yurlis Hasibuan festival balon udara ditambatkan selain untuk menjaga tradisi juga dapat bertransformasi menjadi daya tarik wisata bagi Wonosobo. Gelaran itu bisa menjadi penyokong industri ekonomi kreatif masyarakat di Wonosobo. "Dengan Java Traditional Balloon Festival diharapkan tradisi balon udara tetap lestari dan keselamatan penerbangan tetap terjaga," ujarnya.

AirNav Indonesia, menjadi sponsor utama dalam festival balon udara yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo dan Komunitas Balon Udara Wonosobo. Menerbangkan balon udara tradisional dengan cara ditambatkan sudah menjadi budaya baru yang dilakukan masyarakat Wonosobo untuk memperingati momen Syawalan. Masyarakat Wonosobo saat ini dinilai telah berpartisipasi menjaga keselamatan penerbangan di ruang udara Indonesia.

Implementasi Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 tentang penggunaan balon udara, pada kegiatan budaya masyarakat itu juga sudah berjalan dengan sangat baik di Wonosobo dan sekitarnya. Pihaknya juga terus melakukan sosialisasi bersama dengan unsur Pemkab Wonosobo, Polres dan Kodim ke Kecamatan Kertek dan Kecamatan Kalikajar di Kabupaten Wonosobo mengenai bahaya balon udara terhadap keselamatan penerbangan.

Dijelaskan, selama tahun 2018 ada sekitar 118 laporan dari pilot terkait adanya balon udara yang diterbangkan secara bebas. Tahun 2019 ini menurun menjadi 57 laporan. "Penurunan jumlah laporan dari pilot menunjukan bila sosialisasi penerbangan balon yang aman sudah cukup berhasil. Mudah-mudahan di waktu-waktu yang akan datang tidak ada lagi laporan dari pilot perihal adanya balon udara yang terbang bebas," harapnya.

Menurutnya, selama ini ada tiga titik daerah yang banyak sekali ditemukan laporan penerbangan balon udara tradisional secara bebas. Tiga titik tersebut berada di atas langit Ponorogo (Jawa Timur) dan Wonosobo serta Pekalongan (Jawa Tengah). "Wonosobo termasuk daerah yang boleh dibilang laporannya paling banyak di antara dua daerah lainnya. Karena daerah pegunungan ini merupakan lintasan padat pesawat terbang dari Yogyakarta menuju Surabaya dan Jakarta," ujar dia.

Sementara itu Bupati Wonosobo Eko Purnomo mendukung tradisi lokal penerbangan balon udara tradisional yang aman. Pasalnya, penerbangan balon udara di momen Lebaran merupakan budaya lokal yang sudah turun-temurun di Wonosobo. Hanya saja penerbangan balon udara tradisional tersebut tidak boleh sampai mengganggu keamanan dan keselamatan penerbangan pesawat, agar tidak sampai mengganggu penerbangan pesawat, jadi balon udara harus ditambat dengan tali.

"Balon yang diterbangkan dengan cara ditambat, membuat balon udara tradisional tidak bisa terbang secara bebas atau liar. Balon udara hanya bisa terbang di angkasa dengan ketinggian maksimal 150 meter dari tanah. Ini merupakan atraksi budaya sekaligus wisata. Selain nguri-uri budaya yang ada, warga dan wisatawan yang datang dapat menikmati atraksi penerbangan balon udara tradisional yang ditambat, sehingga menjadi hiburan tersendiri," jelas dia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berharap komitmen untuk sama-sama menjaga keselamatan penerbangan dengan menambatkan balon udara ini bisa konsisten hingga ke depannya, sehingga tradisi balon udara ini bisa terus berkembang dengan baik. Ganjar mendukung pelaksanaan festival balon udara yang akan diselenggarakan Pemkab bersama Airnav Indonesia hampir beberapa tahun terakhir.

Penyelenggaraan festival balon udara tradisional bertujuan untuk menyosialisasikan penerbangan balon udara yang aman bagi keselamatan penerbangan, yakni dengan cara ditambatkan. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian AirNav Indonesia akan kelestarian budaya tradisional penerbangan balon udara, agar dapat terus terjaga dan mampu menjadi potensi pariwisata bagi wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.

Kecil Terbangkan Balon, Besar Jadi ATC

Berbicara mengenai balon udara tradisional, ada hal berkesan dirasakan Hermawan Sigit Widodo. Ia yang kini mendapat amanat sebagai seorang air traffic controller (ATC) di Airnav Indonesia. Siapa sangka saat masa kecil dulu ia suka membuat balon udara dan menerbangkan balon udara tradisi di momen Syawalan. Namun, saat ini Hermawan menjadi Senior ATC di Airnav Indonesia itu sangat merasakan betapa bahayanya menerbangkan balon secara bebas.

Pria kelahiran Wonosobo, 03 Maret 1991 itu menuturkan, sebagian masyarakat Wonosobo sudah mendengar ada banyak lalu lintas penerbangan udara yang saat ini dihandle Airnav Indonesia. Pada momen Lebaran kemarin, Airnav Indonesia bahkan turun lansung ke daerah menggandeng Pemkab, Polres dan Kodim di daerah ada balon udara. Mereka getol mengajak masyarakat agar tak menerbangkan balon udara tradisi secara bebas.

Hal itu karena Airnav Indonesia dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Republik Indonesia telah membuat peraturan Undang-undang tentang Syarat Penerbangan Balon Udara Tradisi. Menurut pria asal Dusun Ngariboyo Desa Sindupaten, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo, itu sebenarnya Undang-undang itu dibuat untuk keselamatan bersama. Artinya tradisi tak bakal hilang asal masyarakat mau menambatkan balon udara tradisi.

Diharapkan juga aturan bisa dijalankan tanpa menghilangkan tradisi balon udara di tanah air, lebih khusus Wonosobo. Apalagi tradisi itu sudah dilakukan turun temurun sejak zaman dulu kala. "Tradisi itu sudah lama. Dulu saya juga sering buat balon dan menerbangkannya waktu kecil. Tapi sekarang jadi tahu bagaimana sulitnya menghandle ribuan jalur penerbangan, apalagi ditambah adanya kerawanan balon udara yang terbang bebas," ungkapnya.

Menurut dia, ATC berupaya mengatur ketinggian atau level maupun arahnya, karena di atas langit Indonesia ada beribu-ribu pesawat melintas. Baginya namanya sebuah pekerjaan, memang ada hal yang menyenangkan, adapula yang susah. Susah senang memang harus dijalaninya dengan ikhlas. Enaknya menjadi ATC bekerja dengan jam kerja yang tidak banyak, maksimal tiga jam per hari. Hal itu sudah sesuai aturan.

Namun tidak enaknya, selama jam kerja, full konsentrasi harus menghandle banyak pesawat di udara. Hal itu agar tidak saling bertabrakan satu sama lain. Hermawan yang terlahir dan dibesarkan di Wonosobo mengaku sejak menempuh pendidikan di SD Negeri 2 Sindupaten Kertek lulus 2003, ia meneruskan jenjang pendidikan di SMP Negeri 1 Kertek lulus 2006. Kemudian ia kembali meneruskan jenjang pendidikan di SMA Negeri Tidar Magelang lulus 2009.

Tak puas hanya menempuh pendidikan di jenjang SMA, suami Sella Septiana yang merupakan Pramugari Lion Air itu kembali melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia dan lulus 2014. "Saya lulusan ATC di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Angkatan 58, lulus tahun 2014. Penempatan dinas pertama di Pontianak hingga sekarang, dengan jabatan Senior Air Traffic Controller," tutur penghobi olahraga Basket itu.

Setelah menikah dengan Sella Septiana, ia dikaruniai buah hati cantik bernama Syera Luthriya Widodo. Pada Tahun 2017, ia mendapat kesempatan Sekolah Approach Survaillance atau Radar di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia. Hal ini yang membuatnya sekarang bisa menjadi ATC atau navigator dengan menghandle lebih banyak pesawat dengan ruang wilayah penerbangan yang lebih luas.


(M Abdul Rohman/CN34/SM Network)