• KANAL BERITA

Kekeringan Rawan Sebabkan Penyebaran Diare

Anggota TNI dan BPBD Temanggung berupaya melakukan droping air bersih kepada masyarakat daerah terdampak di Desa Samiranan Kecamatan Kandangan, belum lama ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)
Anggota TNI dan BPBD Temanggung berupaya melakukan droping air bersih kepada masyarakat daerah terdampak di Desa Samiranan Kecamatan Kandangan, belum lama ini. (suaramerdeka.com/M Abdul Rohman)

TEMANGGUNG, suaramerdeka.com - Kemarau panjang yang berdampak pada terjadinya bencana kekeringan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Temanggung, rawan menyebabkan penularan penyakit diare dan gatal-gatal. Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung menilai, kondisi itu perlu diwaspadai. Masyarakat di daerah terdampak kekeringan diminta segera memeriksakan kesehatannya, jika terjadi gejala penyebaran penyakit gatal-gatal mau pun diare.

"Hal yang perlu diwaspadai saat musim kemarau panjang ini, karena banyak daerah di Temanggung yang mengalami kekeringan, yaitu penyebaran penyakit diare dan gatal-gatal. Karena, jika sudah kondisi kekeringan, banyak masyarakat memanfaatkan air yang tersedia untuk aktivitas dan kebutuhan sehari-hari," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Temanggung, Supardjo, saat dikonfirmasi suaramerdeka.com di kantornya, belum lama ini.

Meski pun terdapat belasan kecamatan yang saat ini terdampak kekeringan, Supardjo mengaku belum mendapat informasi adanya tren peningkatan jumlah penderita diare maupun gatal-gatal. Namun demikian tak bisa dipungkiri, kasus diare mau pun gatal-gatal saat ini masih terjadi di sejumlah puskesmas. "Kasus diare mau pun gatal-gatal bisa saja banyak terjadi di daerah-daerah terdampak, tapi kami belum memantau data persisnya," akunya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk mengantisipasi banyaknya kasus diare mau pun gatal-gatal warga, pihaknya telah berupaya melakukan penuntasan program open defecation free (ODF) atau stop buang air besar sembarangan (BABS). Tanggal 5 September kemarin pihaknya telah menuntaskan program ODF tersebut. Direncanakan pihaknya bakal melakukan deklarasi ODF pertama kali di eks Karesidenan Kedu pada Oktober mendatang.

"Semoga dengan adanya program ODF, akan mampu menurunkan angka kasus diare di masyarakat sekitar 20 persen. Diharapkan, dengan deklarasi ODF secara menyeluruh, masyarakat semakin sadar untuk tidak membuang air besar sembarangan. Tetapi ODF belum tentu bisa lestari. Supaya bisa tetap lestari, harus ada tindak lanjutnya. ODF bukan berartinya jambannya sudah terpenuhi, karena masih ada kecamatan yang kekurangan jumlah jamban," terang dia.

Akan tetapi, kata dia, untuk menuntaskan kekurangan jumlah jamban, karena di sejumlah ada kecamatan yang masih kurang sekitar 1.000 jamban, upaya penganggaran tetap diperlukan. Baik dari Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan mau pun pemerintah desa. Karena mereka memiliki alokasi anggaran sangat besar dalam dana desa. Semoga dengan upaya penganggaran bersama, penuntasan kekurangan jamban juga bisa segera terealisasi.
 
Diakui, saat ini masih ada juga masyarakat yang sesekali membuang air besar di sungai. Kebanyakan kalangan orangtua, katanya ingin menikmati sensasi membuang air besar di sungai. Namun diharapkan, warga masyarakat semakin sadar bahkan kebiasaan membuang air besar sembarangan bisa berpengaruh terhadap penyebaran penyakit diare, gatal-gatal mau pun tubuh pendek karena air banyak tercemar kotoran manusia.


(M Abdul Rohman/CN40/SM Network)