• KANAL BERITA

50 Tahun Oriental Circus Indonesia, Akan Beri Kesan Berbeda di Semarang

foto: suaramerdeka/dok
foto: suaramerdeka/dok

SEMARANGsuaramerdeka.com - Sejumlah pemain sirkus nasional dan internasional telah siap untuk memberi kesan pengalaman kepada masyarakat Kota Semarang pada khususnya. Mereka akan tampil dalam Oriental Circus Indonesia (OCI) atau sirkus bertema “The Great 50 Show”, di Lapangan Garnisun, Kalisari, Kota Semarang, mulai Sabtu (14/9).

Uniknya, sirkus kali ini tanpa menggunakan satwa sama sekali. Kampanye tidak menggunakan binatang untuk sirkus sudah ditangkap oleh banyak pelaku sirkus di luar negeri. Maka dalam pertunjukan akan memertontonkan seni akrobat manusia penuh.

“Nanti tidak mnggunakan satwa dimulai sejak episode ini. Memang dilatari bahwa pertunjukan kian masa kian berubah. Saya pikir satwa malah jadi distraction. Kita ikut apa yang jadi perkembangan di luar negeri. Sirkus ini pertunjukan murni seni gerak tubuh manusia,” terang Hans Manansang, Managing Director Ananta Harsa Group (AHG), sebagai pihak penyelenggara The Great 50 Show.

Atraksi yang dipertunjukkan mulai akrobat, badut, aksi trapeze, dan juggling dipadukan dengan musik, tarian dan efek suara. Inilah yang membuat konsep kali ini lebih segar dan menarik. Sesuatu yang mungkin belum pernah ada atau disuguhkan sebelumnya, menurut Hans.

“The Great 50 Show” sendiri digelar dalam rangka memperingati hari jadi OCI yang ke-50 tahun. OCI pertama kali menyuguhkan pertunjukan besar pada 1967. Kini, setelah 50 tahun berkarya, OCI akan memberikan sebuah kejutan baru dengan memadukan pertunjukan sirkus yang mendebarkan dengan penggunaan teknologi seperti video mapping dan juga live band.

"The Great 50 Show adalah sebuah perayaan akan perjalanan panjang yang sarat dengan kegembiraan, kerja sama, dan juga keanekaragaman seni," lanjut Hans yang merupakan generasi ketiga dari pemilik OCI.

Pertunjukan Akbar

Thibault Paquin, selaku produser The Great 50 Show menambahkan, kisah pertunjukan sirkus diangkat dari kisah nyata. Dikemas, dengan balutan pertunjukan yang akan memanjakan mata untuk semua usia, terutama anak-anak dan keluarga.

Sebuah kisah perjalanan anak laki-laki bernama Noah yang mencintai kelompok sirkus nomaden yang keliling dunia. Sebagai pekerja serabutan, yang saat itu bekerja menjadi salah satu buruh di Shanghai, Tiongkok.

“Aksi akrobatik dan pertunjukkan sirkus telah membuat ia takjub, sehingga ia memutuskan untuk bergabung,” katanya.

Persoalan hidup (digambarkan sebagai Fire Dance) memaksa Noah untuk meninggalkan kelompok sirkus yang dicintainya. Ia naik ke atas kapal layar yang membawanya ke Indonesia. Ia kemudian memulai hidup baru dengan berdagang dan mulai membangun keluarga.

“Namun, mimpi bermain sirkus masih ia pegang erat di dalam hatinya,” lanjut Paquin.

Seiring dengan bertumbuhnya ketiga anak laki-lakinya, Noah mulai melatih atraksi akrobatik. Kemudian mulai membantuk satu grup sirkus yang tampil menghibur masyarakat di Alun-Alun Kota. Kesuksesan pertunjukan menimbulkan riuh di seluruh kota. Sampai pada akhirnya membentuk Oriental Circus.

Namun suatu hari, Noah mengalami mimpi buruk di mana ia berhadapan dengan musuh dalam wujud harimau. Ia menyadari bahwa ia harus berdamai dengan sang harimau jika ingin mempertahankan apa yang sudah dibangunnya


(Diaz Abidin/CN34/SM Network)