• KANAL BERITA

Kemarau di Jateng Diprediksi hingga Desember

SAMPAIKAN MATERI: Pegawai BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang menyampaikan materi dalam SLI Sosialisasi Agroklimat yang digelar di Hotel Sae Inn, Kendal. (Foto suaramerdeka.com/Rosyid Ridho)
SAMPAIKAN MATERI: Pegawai BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang menyampaikan materi dalam SLI Sosialisasi Agroklimat yang digelar di Hotel Sae Inn, Kendal. (Foto suaramerdeka.com/Rosyid Ridho)

KENDAL, suaramerdeka.com – Musim kemarau di Jawa Tengah pada tahun ini diperkirakan lebih panjang. Kondisi kemarau lebih lama dibanding sebelumnya, khususnya sejak 2015. Di sejumlah wilayah bahkan hujan diprediksi baru turun Desember mendatang. 

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang Tuban Wiyoso, mengatakan, kemarau tahun ini lebih kering di banding tahun-tahun sebelumnya. Secara umum kemarau di Jawa Tengah bervariasi. Ada beberapa daerah yang mungkin turun hujan di Oktober untuk wilayah pegunungan seperti Wonosobo ke barat. 

‘’Sementara wilayah lain sebagian besar November dan bahkan ada yang mulai hujan di Desember,’’ katanya di sela-sela acara Sekolah Lapang Iklim (SLI) Sosialisasi Agroklimat Kabupaten Kendal yang digelar BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang di Hotel Sae Inn, Kamis (12/9). 

Ia menerangkan, saat ini curah hujan di Jateng seluruhnya rendah. Curah hujan yang rendah bisa menyebabkan kekeringan. Hal itu dapat dilihat sudah banyak penyaluran bantuan air bersih di beberapa kabupaten/kota di Jateng, terjadi kebakaran ilalang, waduk maupun bendungan air sudah mulai menyusut. ‘’Banyak sejumlah wilayah sudah lebih dari 60 hari tidak hujan. Musim kemarau kondisinya semakin merata,’’ jelas dia. 

Meski begitu di beberapa kabupaten/kota kondisinya berbeda-beda. Sumber air tidak hanya berasal dari hujan. Daerah yang tergantung dengan hujan, tentu dampak kekeringan lebih parah dibanding daerah lainnya. ‘’Daerah lain yang tidak tergantung dengan hujan, masih bisa dipasok dari sumber air lain seperti sungai atau waduk,’’ terangnya. 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Tjipto Wahjono, mengatakan, di musim kemarau, petani harus pandai-pandai memanfaatkan air untuk menyirami tanaman mereka. ‘’Program dari Kementerian Pertanian itu yakni bagaimana menanam padi. Jika tidak ada air, bisa dibuatkan sumur dan airnya disedot menggunakan pompa,’’ kata dia. 
   
Kabid Manajemen Operasi Iklim dan Kualitas BMKG Pusat, Joko Budi Utomo, mengatakan, SLI tersebut merupakan salah satu upaya BMKG dalam meningkatkan diseminasi informasi iklim untuk pertanian. Hal itu sesuai Intruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2011 tentang pengamanan produksi beras nasional dalam menghadapi kondisi iklim ekstrem. ‘’SLI untuk meningkatkan pemahaman informasi iklim kepada petani. Sebab petani merupakan ujung tombak ketahanan pangan,’’ terangnya. 

Ia menerangkan sasaran SLI antara yang utama yakni petugas penyuluh lapangan (PPL). Mereka bertugas untuk menyampaikan kondisi iklim kepada petani dengan bahasa yang mudah dimengerti. ‘’PPL itu sebagai jembatan antara BMKG dengan petani. SLI sudah berlangsung sejak 2011 dan terlaksana di 33 provinsi dengan peserta 9.400 orang. Mereka terdiri atas petugas PPL dan kelompok tani,’’ jelas dia. 


(Rosyid Ridho/CN19/SM Network)