• KANAL BERITA

Pembiakan Sapi Gagal karena Indukan Tidak Tepat

PELATIHAN PETERNAK: Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ali Agus membuka pelatihan pengembangbiakan sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. (suaramerdeka.com / Agung Priyo Wicaksono)
PELATIHAN PETERNAK: Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof Ali Agus membuka pelatihan pengembangbiakan sapi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. (suaramerdeka.com / Agung Priyo Wicaksono)

YOGYAKARTA, suaramerdeka.com - Kegagalan program pembiakan sapi pemerintah melalui impor induk bunting pada masa lalu terjadi karena ketidaktepatan jenis induk yang digunakan. Selain itu manajemen perkandangan dan pemeliharaan serta manajemen pakan yang diberikan juga tidak tepat.

Hal itu diungkapkan pakar peternakan sapi Ir Panjono SPt MP PhD IPM dalam pelatihanpembiakan sapi potong bertajuk ''Commercial Cattle Breeding and Management Training Program Batch IV'' kerja sama UGM, Indonesia-Australia Red Meat and Cattle Partnership yang berlangsung di Grand Aston Hotel, Yogyakarta.

"Ketika kelompok peternak didrop induk bunting, berhasil lahir pedet. Namun peternak tidak berhasil untuk membuntingkan lagi,'' ujar dia mengingatkan agar kegagalan pembiakan pada masa lalu tidak terulang kembali.

Kasus itu terjadi menurutnya karena induk sapi yang digunakan jenis Brahman Cross (Bx) yang dikenal memiliki sifat silent heat atau birahi tanpa menunjukkan gejala.
Akibatnya perkawinan dengan inseminasi buatan (IB) sulit dilakukan. Selain itu, di peternakan Australia, sapi Bx dipelihara dengan cara dilepas di padang rumput, makan dan kawin secara alami sehingga ketika di Indonesia dipelihara di kandang, sapi-sapi mengalami stres.

Narasumber lain, Prof Ir I Gede Suparta Budisatria MSc PhD IPU menjelaskan pembiakan sapi di Indonesia selama ini masih dibebankan kepada peternak subsistem yang membiakkan dan memelihara sapi sebagai tabungan.

"Sapi kita jumlahnya 17 juta ekor tetapi saat pengusaha penggemukan sapi mencari sapi bakalan 6.000 ekor saja kesulitan apalagi mencari yang bobot dan umurnya seragam," ujar dia.

Gede memberi rekomendasi untuk mengefisienkan pembiakan sapi potong komersil di Indonesia sebaiknya dikombinasikan dengan  kemitraan yang melibatkan subsystem
farmer. Bisa mengombinasikan sistem integrasi sistem sapi-kelapa sawit dengan kemitraan peternak subsistem, atau sistem penggembalaan yang bermitra dengan peternak subsistem. Dia pun mengapresiasi, ternyata sudah ada yang mengaplikasikan model tersebut dengan berbagai variasinya.


(Agung Priyo Wicaksono/CN26/SM Network)