• KANAL BERITA

Panen Air Hujan Akan Diterapkan di Prambanan

Foto: istimewa
Foto: istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Dampak musim kemarau mulai dirasakan oleh sebagian warga di Kecamatan Prambanan yang selama ini dikenal sebagai daerah rawan kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman telah melakukan penanganan dengan menyalurkan droping air bersih.

Kegiatan droping tahap pertama sebanyak enam unit tangki air bersih diberikan kepada 248 keluarga di Dusun Kikis, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan. Beberapa daerah lain juga telah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke Pemkab Sleman. Diantaranya Dusun Gedang Bawah Sambirejo Prambanan, Dusun Pulerejo Gayamharjo Prambanan, SMP 2 Moyudan, dan SD Srunen Cangkringan.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, tahun ini telah dialokasikan 300 tangki air bersih untuk kebutuhan droping. "Kemarin kami salurkan ke Dusun Kikis, sebelumnya sudah ada bantuan dari pihak swasta sebanyak 30 tangki. Dusun ini butuh bantuan karena air dari sumur bor berkedalaman 80 meter sudah tidak bisa disedot,"  katanya, Kamis (11/9).

Tidak hanya melakukan droping, Pemkab Sleman juga berencana menerapkan sistem panen air hujan sebagai langkah antisipasi kekeringan terutama di daerah rawan seperti Prambanan. Pemanenan air hujan adalah metode menampung air hujan kemudian diolah secara elektrolisa untuk memisahkan sifat asam dan basa. 

Air hasil pemisahan yang bersifat basa dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi sedangkan air yang sifat asam dijadikan bahan pupuk cair organik. Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun mengatakan, kehadiran sekolah air hujan di Desa Sardonoharjo, Kecamatan Ngaglik yang baru saja diresmikan perlu difungsikan secara optimal. "Ilmu pemanenan air hujan itu perlu diadopsi di daerah rawan kekeringan seperti Prambanan, agar warga tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih saat musim kemarau," katanya.

Mengawali realisasi gagasan itu, dia meminta warga untuk memperbanyak bak penampungan air hujan. Di samping itu, dia memandang perlu adanya penampungan sementara di daerah yang lokasinya lebih rendah supaya hemat energi listrik, dan kebutuhan air terdistribusi lebih merata. "Di dalam APBD tahun 2020 sudah disetujui untuk pengadaan pompa, dan bak penampungan. Meski sekarang terjadi kekurangan air bersih tapi relatif lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya," ujar Muslimatun.

Terpisah, Kepala DPUPKP Sleman Sapto Winarno mengatakan, sistem tadah hujan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau. Nantinya, DPUPKP dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan berkoordinasi terkait pengadaan fasilitas.


(Amelia Hapsari/CN26/SM Network)