• KANAL BERITA

Aksi Tolak Pemagaran Berakhir Ricuh, 16 Petani Urut Sewu Terluka

SAMBUTAN: Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz menemui para petani Urut Sewu yang menggelar aksi damai di depan pendopo rumah dinas bupati. (suaramerdeka.com / Supriyanto)
SAMBUTAN: Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz menemui para petani Urut Sewu yang menggelar aksi damai di depan pendopo rumah dinas bupati. (suaramerdeka.com / Supriyanto)

KEBUMEN, suaramerdeka.com - Unjuk rasa menolak pembangunan pagar di kawasan Urut Sewu di Desa Brecong, Kecamatan Buluspesantren, Kebumen  Rabu (11/9) berakhir ricuh. Ratusan warga dibubarkan paksa oleh aparat berseragam TNI AD dari lokasi pemagaran. Warga kemudian melakukan aksi di depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen menuntut Bupati Kebumen menghentikan proses pemagaran.

Peristiwa itu bermula  pukul 08.00 wib saat para warga dan petani melakukan aksi di lokasi pemagaran yang dijaga aparat berseragam doreng. Karena dianggap berlebihan, aksi tersebut kemudian dibubarkan oleh aparat yang bertugas mengamankan pembangunan pagar. Aksi pun berakhir ricuh, bahkan seorang berseragam TNI terekam memukul warga dengan menggunakan pentungan. Sekira pukul 10.00, warga akhirnya membubarkan diri dari lokasi pemagaran.

Ratusan warga Desa Brecon kemudian bergerak ke pendopo rumah  dinas Bupati Kebumen untuk menggelar aksi damai. Mereka menuntut Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz untuk segera menghentikan proses pemagaran.

Di hadapan ratusan warga, Bupati Kebumen KH Yazid  Mahfudz berjanji akan segera melakukan komunikasi dengan berbagai pihak terutama dengan pihak TNI AD melalui Kodim 0709 Kebumen. "Saya akan meminta kepada pihak TNI AD atas dasar keamanan agar tidak terjadi kericuhan meluas meminta proses pemagaran dihentikan," ujar Yazid Mahfudz.

Setelah mendapatkan penjelasan dari Bupati, ratusan warga akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Usai  dari kantor bupati warga masih berkumpul di Pendopo Kantor Kecamatan Buluspesantren dan korban divisum di Puskesmas Buluspesantren.

Adapun korban kekerasan tersebut  mencapai 16 orang.  Advokat Dr Teguh Purnomo  yang mendampingi ratusan warga Urut Sewu menyayangkan kejadian kekerasan tersebut. Menurut dia, akar masalahnya adalah konflik tanah yg diabaikan penyelesaiannya oleh pemerintah. "Seharusnya TNI tidak main hakim sendiri memagar tanah rakyat dan melakukan kekerasan seperti itu," ujar Teguh Purnomo.

Dandim 0709 Kebumen Letkol Inf Zamril Philiang mempertanyakan video yang beredar karena hanya sepotong. Seharusnya, dari awal sampai akhir kejadiannya sehingga kelihatan rangkaiannya yang menjadi sebab sehingga ada akibat. "Semua saya pikir pasti ada sebab sehingga ada akibat. Tidak ada yang menginginkan terjadi hal yang merugikan masyarakat maupun negara," ujarnya.


(Supriyanto/CN26/SM Network)