• KANAL BERITA

Ruwat Bumi Guci, Bupati Tegal Mandikan Kambing Kendit

RUWAT BUMI : Memandikan kambing kendit di Pancuran 13  menjadi salah satu ritual Ruwat Bumi Guci.  (suaramerdeka.com / dok)
RUWAT BUMI : Memandikan kambing kendit di Pancuran 13 menjadi salah satu ritual Ruwat Bumi Guci. (suaramerdeka.com / dok)

SLAWI, suaramerdeka.com - Bupati Tegal Umi Azizah didapuk bakal memandikan kambing kendit sebagai salah satu rangkaian acara Ruwat Bumi Guci, Kamis (12/9) ini. Acara tersebut menjadi tradisi turun menurun bagi warga setempat yang digelar setiap tahun.

Kegiatan yang digelar Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinparpora) Kabupaten Tegal itu sekaligus sebagai ajang promosi dengan menampilkan ritual ngadusi wedus kendit, pentas seni dan budaya, rebutan polo pendem  dan tumpeng dan arak-arakan. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal, Suharinto mengatakan ngadusi wedus kendit tak  sembarangan orang bisa melakukan. Sebab, sesuai  tradisi harus orang nomor satu yang memandikan kambing tersebut.

‘’Yang boleh memandikan hanya orang nomor satu. Yakni Bupati. Kalau bupati t idak hadir, maka dilakukan kepala dinas, atau kepala UPTD Guci , atau kepala desa Rembul,’’ jelas Suharinto.

Kambing kendit merupakan bagian dari umba rampe upacara Ruwat Bumi Guci. Dinamakan kambing kendit lantaran berbulu hitam polos dengan bagian putih melingkari perut seperti kendit (sabuk). Suharinto mengatakan Ruwat Bumi Guci sekaligus sebagai salah satu cara promosi pariwisata di Kabupaten Tegal terutama Obyek Wisata Air Panas Guci.

Ruwat Bumi merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat Guci dan sekitarnya atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dari sisi kebudayaan, Ruwat Bumi merupakan wujud penghormatan kepada para leluhur, para pendahulu yang telah mewariskan kekayaan alam kepada anak-cucunya baik itu berupa tanah yang masih subur, udara dan air yang tidak tercemar, dan hutan yang tetap terjaga kelestariannya.

Sebagai generasi penerus dapat mengolah itu semua dengan menghasilkan aneka hasil bumi memelimpah, termasuk mengembangkan sektor pariwisata menjadi lebih menarik wisatawan. ‘’Tradisi ini sekaligus mempromosikan Obyek Wisata Pemandian Air Panas Guci kepada wisatawan di tingkat Jateng, nasional bahkan internasional,’’kata Suharinto.

Acara  tersebut juga didukung oleh warga dari Desa Guci dan Desa Rembul. Kedua desa ini menampilkan adat budaya. ‘’Warga Guci melaksanakan istighotsah, karnaval, arak-arakan gunungan hasil bumi dan pentas seni,sedangkan warga Rembul, menampilkan seni tayub, pementasan kesenian, pawai gunungan dan pawai,’’ jelas Suharinto  didampingi Kepala Bidang Pemasaran Pengembangan Produk Wisata, Siti Fazilah


(Cessnasari/CN26/SM Network)