• KANAL BERITA

Air Bengawan Solo Berwarna Cokelat Pekat

TERCEMAR : Air Sungai Bengawan Solo di kawasan Kracakan Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora, berubah warna hitam pekat. (suaramerdeka.com / Abdul Muiz)
TERCEMAR : Air Sungai Bengawan Solo di kawasan Kracakan Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Blora, berubah warna hitam pekat. (suaramerdeka.com / Abdul Muiz)

BLORA, suaramerdeka.com - Sejak beberapa hari terakhir, air di Sungai Bengawan Solo di wilayah Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, berubah warna dari keruh kekuningan, cokelat hingga nyaris htam pekat. Diduga air tersebut tercemar limbah pabrik di daerah hulu sungai.

‘’Semenjak musim kemarau, air Bengawan Solo beberapa kali berubah keruh seperti air teh. Kami mendapatkan informasi sejak beberapa hari terakhir ini kekeruhannya menjadi lebih pekat,’’ kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Blora Dewi Tedjowati, Rabu (11/9).

Berdasarkan pemantauan, selain berwarna kuning pekat, air sungai berbusa dan berbau. Sejumlah warga di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, menyebut kondisi seperti itu sudah sejak empat hari lalu. Namun warna air semakin pekat sejak dua hari terakhir. ‘’Kami tidak tahu pasti penyebabnya. Namun ada orang Ngawi yang mengatakan air bercampur limbah tebu,’’ kata Lagiono salah seorang warga.

Warga terganggu karena air Bengawan Solo berubah warna, berbusa dan berbau. ‘’Warga tidak berani mandi. Warna air hitam. Takut kalau kena gatal-gatal. Makanya untuk sementara tidak berani mandi di Sungai Bengawan Solo,’’ katanya.

Purnomo warga lainnya mengungkapkan, pencemaran air Bengawan Solo sudah sering terjadi selama musim kemarau. Biasanya pencemaran terjadi satu minggu sekali, beberapa hari kemudian menjadi jernih lagi. ‘’Namun baru kali ini warnanya berubah menjadi lebih pekat bahkan nyaris hitam. Biasanya keruh kuning kecokelatan saja,’’ ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Blora Dewi Tedjowati belum bisa memastikan penyebab perubahan warna air sungai Bengawan Solo tersebut. Diperlukan penyelidikan untuk memastikan. Dia memperkirakan perubahan warna itu berasal dari wilayah hulu. ‘’Diperkirakan dari hulu, karena yang berada di wilayah kami di Blora tidak ada industri yang cukup besar yang membuang limbah ke sungai. Tapi dari mana, kami belum tahu, itu kewenangan DLH Provinsi Jateng untuk memastikannya,’’ ujarnya.

Dewi Tedjowati mengemukakan, DLH Provinsi Jateng pada 20 Agustus 2019 pernah mengambil sampel air Bengawan Solo di wilayah Cepu untuk dilakukan uji laboratorium. Dari hasil uji laboratorium tersebut diketahui bahwa air sungai Bengawan Solo mengandung bakterikoli dan bahan pewarna.

Namun kadarnya tidak terlalu tinggi. Dalam uji laboratorium tersebut tidak ditemukan kandungan logam berat. ‘’Namun itu dulu atau sebelum warna air Bengawan Solo berubah lebih pekat seperti sekarang. Tentu nanti kita akan turun lagi,’’ tuturnya.


(Abdul Muiz/CN26/SM Network)