• KANAL BERITA

Kemenristekdikti Tetapkan UPGRIS Peringkat Empat

Pemeringkatan Kinerja Kemahasiswaan

PEMBINAAN KARAKTER: Sejumlah mahasiswa UPGRIS saat mengikuti pembinaan karakter PIESQ Manajemen 3.0 di Balairung, UPGRIS, Rabu (11/9). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)
PEMBINAAN KARAKTER: Sejumlah mahasiswa UPGRIS saat mengikuti pembinaan karakter PIESQ Manajemen 3.0 di Balairung, UPGRIS, Rabu (11/9). (suaramerdeka.com/Royce Wijaya)

SEMARANG, suaramerdeka.com - Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menduduki peringkat empat perguruan tinggi nonvokasi pada klasterisasi kinerja kemahasiswaan terbaik di tingkat Provinsi Jateng tahun 2019.

Hasil pemeringkatan klasterisasi itu baru saja diumumkan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), beberapa indikator penilaiannya seperti aktivitas kemahasiswaan, prestasi, kreatifitas, serta inovasi mahasiswa.

Secara nasional, UPGRIS menempati urutan ke-27. "Cukup membanggakan, UPGRIS masuk lima besar, tepatnya peringkat empat pada klasterisasi kinerja kemahasiswaan," kata Rektor UPGRIS Dr Muhdi MHum didampingi Wakil Rektor III UPGRSI, Drs Nizaruddin MSi disela-sela kegiatan Physical Intelektual Emosional dan Spiritual (PIESQ) Manajemen 3.0 yang diikuti ribuan mahasiswa baru UPGRIS di Balairung, Rabu (11/9).

Menurut dia, pencapaian itu menguatkan softskill atau keterampilan diluar kemampuan teknis yang dimiliki mahasiswanya. Bahwa, kemampuan teknis saja tidak cukup tapi dibutuhkan softskill untuk mewujudkan kesuksesan. Dibandingkan pencapaian tahun lalu secara nasional menunjukkan peningkatan tajam.

Di Jateng, pada klaseterisasi kinerja kemahasiswaan terbaik, posisi pertamanya Undip. Kemudian, disusul Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dan Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada posisi II dan III.

Dalam kesempatan itu, Nizaruddin menegaskan, UPGRIS juga telah memiliki sistem pemeringkatan mahasiswa internal, seperti nilai akademik. Sistem yang dimilikinya ini tinggal disinkronisasikan dengan Kemenristekdikti.

Mengenai PIESQ Manajemen 3.0, Muhdi menegaskan, kegiatan itu dilakukan universitasnya untuk menanamkan nilai-nilai karakter mahasiswa yang punya keunggulan nasionalis religius. Pembinaan karakter dibuat satu model pelatihan yang tidak kaku.

Bukan ceramah, tapi model training modern dengan menggabungkan teknologi informasi dan audio. Gaya penyampaiannya juga dibuat tidak kaku, seperti diselingi musik atau permainan.


(Royce Wijaya/CN39/SM Network)