• KANAL BERITA

Muncul Pedagang Oprokan, Pasar Pengging Sepi

PINGGIR JALAN: Sejumlah pedagang oprokan menggelar dagangan di pinggir jalan sebelah barat Pasar Pengging Baru. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)
PINGGIR JALAN: Sejumlah pedagang oprokan menggelar dagangan di pinggir jalan sebelah barat Pasar Pengging Baru. (suaramerdeka.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI, suaramerdeka.com – Pedagang oprokan mulai  bermunculan di sekitar Pasar Pengging Baru, Kecamatan Banyudono. Mereka menggelar dagangan di luar pasar saat hari pasaran Pahing dan Wage, sehingga kondisi di dalam pasar menjadi sepi.

Pedagang Pasar Pengging resah dengan kehadiran dan berharap Pemkab menertibkan keberadaan pedagang oprokan itu. Selain memicu arus lalu lintas tersendat, pedagang oprokan itu mengganggu kegiatan pedagang di dalam pasar.

Pasalnya, para pembeli enggan masuk pasar dan memilih membeli barang di luar. Jika kondisi ini dibiarkan kondisi pasar akan sepi, sehingga pedagang yang menempati pasar itu, belum lama ini, bakal merugi.

Dari pantauan, Rabu (11/9) yang bertepatan hari pasaran wage, ruas jalan di sebelah barat pasar mulai ramai pedagang oprokan. Mereka memanfaatkan pinggir jalan baik di sisi kanan dan kiri untuk menggelar dagangan.

Mereka menggelar dagangan dengan alas seadaanya. Mereka menjual barang-barang bekas yang digelar begitu saja. Para pembeli dengan mudah memilih-milih barang yang diinginkan dari jalan. Antara lain, onderdil sepeda dan sepeda motor, peralatan elektronik dan pertukangan atau celana.

Kemudahan itulah menjadikan suasana diluar pasar sangat ramai. Banyak transaksi di luar pasar. Hal itu justru berbeda dengan kondisi di dalam pasar yang relatif sepi. ‘’Masih sepi, mas di dalam,’’ ujar Nur Wahidah (56), salah seorang pedagang pakaian.

Dia mengaku merasakan kondisi tersebut sejak dua bulan terakhir, yaitu sejak Pasar Pengging dipindahkan ke Pasar Pengging Baru atau Pasar Pipa. Bahkan beberapa kali, dia pulang dengan tangan kosong.

‘’Kalau pun dapat, paling hanya Rp 300.000 saja. Padahal, di pasar lama minimal dapat Rp 750.000/ hari.’’

Senada Semi (64), pedagang gorden dan kasur juga mengeluhkan kondisi sepi pasar baru itu. ‘’Lebih banyak waktu untuk ngobrol- ngobrol saja kalau dipasar. Dari pada stres karena dagangan gak ada yang laku,’’ katanya.

Pedagang mengaku pusing lantaran harus membayar biaya konpensasi pembangunan pasar. Per los pasar dikenai biaya Rp 1,5 juta. ‘’Saya punya 4 los, jadi total harus bayar Rp 6 juta. Tetapi ya belum saya bayar. Gimana mau bayar, dagangan sepi.’’

Terpisah, Koordinator Pasar Pengging, UPT Pasar Simo, Agus Saptono menyatakan pembangunan Pasar Pengging Baru dilakukan bertahap, sehingga tempat untuk menampung pedagang yang di luar pasar belum ada.

‘’Data pedagang di luar pasar sudah ada. Kalau sudah dibangun, semua pedagang masuk pasar.’’

Dia mengakui biaya konpensasi pembangunan pasar itu. Pedagang dibebani 45 persen dari nilai pembangunan, sehingga per los dikenai biaya Rp 1,5 juta. Kios Rp 14 juta serta toko Rp 21 juta. ‘’Jumlah los 1.272 unit, toko 63 dan kios ada 146 unit.’’


(Joko Murdowo/CN39/SM Network)