• KANAL BERITA

Beban Berat, Pengawas Pemilu Trauma

Foto: Istimewa
Foto: Istimewa

SLEMAN, suaramerdeka.com - Beban tugas yang diemban pada masa Pemilu 2019 lalu dirasa oleh sebagian petugas pengawas pemilu, terlampau berat. Mereka mengaku menjadi trauma atas hal itu. 

Seperti diungkapkan oleh Eka Murni Astuti yang menjadi petugas pengawas TPS Sendangrejo, Minggir, Sleman saat pelaksanaan Pemilu 2019.  Eka mengalami keguguran janin berusia 10 minggu akibat kelelahan. Saat itu, ia tengah mengandung anaknya yang kedua.

"Kalau besok ada perekrutan petugas pengawas lagi, mungkin saya tidak akan ikut lagi. Masih trauma," ungkapnya kepada wartawan, kemarin.

Atas musibah itu, Eka mendapat santunan sebesar Rp 16,5 juta dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Selain Eka, tiga petugas pengawas lain yang mengalami kecelakaan saat bertugas juga memperoleh santunan yakni Martina Ernaningsih, warga Sumberkulon Kalitirto Berbah; Juwandiyono, petugas pengawas di Margoagung Seyegan; dan Audi Evinanto warga Ngemplak Sumberarum Moyudan. Masing-masing diberi santunan sejumlah Rp 8,25 juta.

Sebelumnya, Bawaslu telah menyerahkan santunan senilai Rp 36 juta kepada ahli waris Hasto Budiman, petugas pengawas pemilu dari Sendangadi Mlati Sleman yang meninggal dunia. 

Ketua Bawaslu Kabupaten Sleman Abdul Karim Mustofa menjelaskan, nama-nama penerima santunan telah melalui tahap verifikasi terlebih dahulu. Diakui tahapannya cukup lama karena harus melewati proses administrasi keuangan dari Bawaslu RI.

Menanggapi keluhan dari sejumlah petugas pengawas pemilu, Karim mengaku bisa memahami. Kendati demikian, dia optimis tugas pengawasan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2020 mendatang bisa berjalan lancar.

"Pelaksanaan Pilkada dengan Pemilu kemarin sangat berbeda. Kalau kemarin, beban kerjanya memang berat karena serentak beberapa pemilihan namun Pilkada 2020 nanti lebih ringan," tukasnya.


(Amelia Hapsari/CN39/SM Network)